Dipanggil anak kecil di jalan itu biasa. Sering. Kadang cuma salah dengar.
Tapi…bagaimana kalau suara itu datang dari arah kuburan tua?
Begini ceritanya.
Suatu sore, selepas maghrib, aku diajak Bapak menonton pentas wayang kulit di lapangan Desa S, Jawa Timur. Kami berangkat naik motor sekitar pukul enam. Matahari sudah turun. Lampu-lampu baru saja menyala.
Untuk sampai ke lapangan, kami harus melewati areal kuburan tua.
Kuburan ini punya reputasi. Kata orang-orang, jalurnya sering “usil”.
Pengendara bisa tiba-tiba merasa berbelok, lalu sadar sudah berada di tengah makam.
“Pak… nggak bisa agak kencang toh?” tanyaku, suara sudah mulai naik.
“Lha kenapa?” Bapak malah santai.
“Kamu takut ya?”
“Ini lewat kuburan, Pak.”
“Lha terus kenapa?” jawabnya enteng. “Kuburan itu nggak kenapa-kenapa.”
Motor justru melaju pelan. Terlalu pelan buat ukuran orang yang katanya nggak takut apa-apa. Aku tahu, beliau sengaja. Bapak tahu betul aku penakut.
“Kuburan jaman sekarang itu terang,” katanya. “Banyak lampu. Beda sama dulu, gelap gulita.”
“Tapi, Pak… katanya kuburan yang ini ngeri. Suka usil.”
Bapak terkekeh.
“Kita sama mereka itu beda dunia. Batasnya jelas. Tenang saja.”
Sepanjang jalan, beliau terus mengajakku ngobrol. Tentang masa kecilnya sebelum listrik masuk desa. Tentang kejadian-kejadian aneh yang katanya lucu. Obrolan ringan. Terlalu ringan untuk situasi seperti ini.
Sampai akhirnya…
kami benar-benar masuk area kuburan.
Kuburan itu masih dipakai sampai sekarang. Tapi orang-orang sepuh bilang, tanahnya sudah sangat tua. Nisan-nisan lama bercampur dengan yang baru. Makam lama digali ulang, katanya supaya tidak perlu membuka lahan kuburan baru. Supaya tidak “mengundang”.
“Santai saja,” ucap Bapak. “Yang penting jangan melamun. Fokus. Nggak bakal dihantui.”
Aku mengangguk, walau tengkuk mulai dingin.
Detik demi detik terasa panjang. Motor terus melaju. Lampu menerangi nisan-nisan yang berjajar rapi.
Dan…kami berhasil melewatinya.
Aku hampir tertawa karena lega.
Ternyata Bapak benar.
Tidak ada apa-apa.
Tidak ada penampakan.
Tidak ada gangguan.
Tapi tepat setelah kami melewati gerbang kuburan, gerbang rendah, tak sampai dua meter, udara berubah.
Dingin. Sunyi. Terlalu sunyi.
Lalu terdengar suara.
“Mbak!”
Suara anak kecil.
Perempuan. Nyaring. Ceria.
Bukan suara minta tolong. Bukan suara menangis. Justru seperti anak kecil yang senang menemukan seseorang.
Aku menoleh ke kiri.
Kosong.
Tembok kuburan setinggi dada orang dewasa.
Di baliknya, nisan-nisan.
Tidak ada siapa-siapa.
Dan yang membuatku makin yakin: jam segini, anak siapa yang masih main di kuburan?
Bulu kudukku berdiri.
“Pak… tadi dengar nggak?”
“Dengar apa?”
“Itu… suara anak kecil. Dari kuburan.”
Bapak terkekeh pelan.
“Mungkin kucing.”
Aku menoleh lagi.
Tidak ada kucing.
Tidak ada bayangan lari.
Tidak ada mata menyala terkena sorot lampu motor.
Dan sampai sekarang…
aku masih yakin itu bukan suara kucing.
Aku tidak tahu kenapa suara itu memanggilku.
Atau… mungkin benar kata Bapak?
Yang jelas, sejak malam itu, setiap ada suara anak kecil memanggil di jalan sepi, aku tidak pernah menoleh lagi.
Baca Juga
-
Dibalik Pesona F4: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengagungkan Hubungan Gu Jun Pyo dan Geum Jan Di?
-
Sepasang Tangan dan Kaki dalam Shift Malam di Pabrik Roti
-
Lelaki yang Membawaku Naik Kapal dan Kabur ke Singapura
-
Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Jay Park & LNGSHOT Umbar Kepercayaan Diri dan Kesuksesan di Lagu 4SHO 4SHO
-
Film Swapped dan Cara Unik Mengajarkan Empati Lewat Pertukaran Tubuh
-
5 Toner AHA BHA untuk Atasi Jerawat dan Bruntusan, Kulit Jadi Lebih Mulus!
-
Maju Dengan Berani atau Tidak Sama Sekali! Meminang Asa di Zero to Hero
-
Live Action BLUE LOCK Rilis Visual 20 Karakter Utama Jelang Tayang Agustus