Shift malam dari toko Cik Zhao Fei ibarat kaya taruhan. Ada dua peluang, yaitu normal dan abnormal. Peluang pertama berarti situasi kondusif, dan peluang kedua berarti diganggu dedemit. Entah berwujud suara-suara, aroma-aroma, atau sosok mencolok mata.
Namun kali ini, shift malam berlangsung kondusif. Bahkan pelanggan ramai.
“Fris, nih buatmu.”
Aku menerima sebungkus ramen instan dari Cik Zhao Fei. “Terima kasih, Cik.”
Pukul 22.00, kulajukan motorku pulang. Sepanjang jalan terasa normal, dan aku sibuk membayangkan betapa mantapnya menyeduh ramen instan pedas ini dengan tambahan telur.
“Tumben hari ini normal semua?” gumamku bertanya.
Sesampainya di rumah, ibuku tampak menunggu sambil menonton tv.
“Lho, belum tidur, Buk?” tanyaku. “Nggak ngantuk?”
“Ya aku nungguin kamu. Kalau aku sudah tidur, ya kamu berarti tidur di luar,” jawabnya santai.
“Buk, aku punya ini.” Kuperlihatkan ramen instan pedas pada beliau yang tampak berbinar. “Ada telur?”
“Ada, ada. Kalau mau sayur, ada sawi di dekat wadah telur. Ada tahu juga, ambil semaumu.”
Aku mengangguk, kemudian mulai mempersiapkan bahan-bahan. Ada telur, sayuran, tahu, bahkan tempe goreng lauk tadi pagi bakal kueksekusi. Jadilah aku sibuk di dapur sendiri, sedangkan ibu kembali menonton tv.
Mungkin aku terlalu senang dan bangga akan kenormalan hari ini. Hingga terdengar suara benda jatuh di atas genting.
“Buk, ada suara sesuatu jatuh di atas genting,” kataku pada ibu. Jarak dapur dan ruang tv cukup dekat, hanya tiga meteran.
“Paling mangga jatuh,” celetuk ibu.
Yaweslah. Entah apapun itu asalkan nggak terjadi di dalam rumah.
Namun, suara yang sama terdengar kembali dengan frekuensi suara lebih keras. Aku masih berpikir mangga yang jatuh mengingat ada pohon mangga di belakang rumah. Lalu aku sadar, pohon mangga itu belum berbuah.
“Bukannya pohon mangganya belum berbuah?” tanyaku lagi.
“Oh, mungkin dedemit.”
Aku tertawa. Jujur saja, aku dan ibuku kerap bercerita hal-hal mistis, jadi guyonan semacam ini wajar. Namun, aku kembali mempertanyakan peluang normal dan abnormal yang kemungkinan mengikutiku sampai di rumah.
“Masa dedemit ya?” gumamku.
Beberapa menit kemudian, hawa berubah mencekam. Aneh, dan agak nggak nyaman. Namun, ibuku masih setia santai dengan tv-nya, seperti nggak ada apa-apa. Tiba-tiba, terdengar suara dentuman keras di depan pintu dapur yang mengarah langsung ke halaman belakang. Suaranya mirip petasan besar!
Aku membeku. Bersamaan dengan bulu kuduk berdiri serempak. Takut.
Aku segera berlari ke arah tv dimana ibuku nggak terganggu. Masa nggak mendengar suara keras begitu?!
“Buk, buk ada suara keras,” kataku panik, nyaris nggak bersuara.
“Suara apa?! Aku nggak dengar apa-apa,” ujar beliau.
“Suara keras…depan pintu…”
“Lho, bukan mangga jatuh?”
Aku menggeleng. Mustahil yang tadi itu mangga jatuh di atas genting. Kalau mangga dilempar ke pintu bisa jadi sih. Tapi siapa yang usil malam-malam begini, coba?
Jantungku masih berdebar nggak karuan. Suaraku nggak keluar saking paniknya. Melihat anaknya yang ketakutan, ibuku segera mengambil senter dan berjalan keluar.
Kuiikuti beliau dari belakang sambil mengendap-endap. Hawanya masih aneh dan mencekam. Nggak terlihat ada mangga jatuh, atau bekas lemparan entah apalah itu ke pintu. Mulus.
“Nggak ada apa-apa lho?” teriak ibuku yang sudah berdiri di bawah pohon mangga. “Tadi kamu dengar dari mana arahnya?”
“Dari depan pintu, Buk. Keras banget, macam petasan jumbo…”
“Apa ada yang usil lempar batu bata ke pintu ya?” tanya ibu.
“Nggak tahu…”
Ibu lantas mengarahkan senternya ke sekitaran pintu. Dan nihil. Nggak ada bekas lemparan batu bata, nggak ada batu bata, apalagi petasan jumbo. Bersih.
Ibu kemudian kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Dengan kening berkerut dan ekspresi waspada, ibu menatapku. “Jangan-jangan….”
Baca Juga
-
Dari Jarum Turun ke Hati: Menyulam Ternyata Bisa Bikin Dopamin Happy!
-
Friska, Lift Aneh, dan Lelaki Berbaju Hitam Pencari Gula Pasir
-
Secuil Kebahagiaan, Soal Adrian dan Minuman Oplosan dari Kak Lita
-
Polisi Berdarah di Perlintasan Rel Kereta Api Tanpa Palang Pintu
-
Pocong Berkain Putih Bersih di Rumpun Bambu Belakang Rumah Paklek Randi
Artikel Terkait
-
Pintu yang Bergerak Sendiri, Ada Apa Sebenarnya di Rumah Amanda?
-
Teror Tawa di Tengah Malam: Hantu Penunggu Kios Sayur
-
Penumpang KRL Dilarang Bawa Petasan dan Kembang Api
-
Menulis Cerita Misteri di Malam Hari, Diintip Makhluk Gaib di Balik Jendela
-
Tidurnya di Serambi Masjid, Bangunnya di Keranda Mayat
Cerita-misteri
Terkini
-
Hari Autisme Sedunia: Melihat Dunia dari Mata Sam yang Bikin Kamu Sadar Kalau Beda Itu Indah
-
iPhone Air Jadi iPhone Tertipis, Apakah Ada Spek yang Dikorbankan?
-
3 Parfum White Tea Terbaik untuk Halalbihalal, Wangi Clean Anti-Nyengat
-
Hati-Hati "Antek" Asing Berinsang: Sisi Gelap Ikan Sapu-Sapu yang Merusak Ekosistem
-
Manly tapi Sweet! Ini 4 Parfum Pria dengan Nuansa Vanilla yang Wajib Dicoba