Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi mahasiswa (Unsplash)
Oktavia Ningrum

Kuliah hanyalah pengangguran dengan gaya adalah kalimat yang terdengar sederhana, tapi sesungguhnya menyimpan kemalasan berpikir yang dibungkus dengan rasa sok realistis.

Ia sering dilontarkan sambil menunjuk contoh ekstrem. Seperti testimoni "bos lulusan SD dengan pegawai bergelar S1 sampai S3", seolah satu anomali cukup untuk mengubur makna pendidikan secara keseluruhan.

Dari sana, lahir keyakinan pongah bahwa ijazah hanyalah selembar kertas, bahwa kampus cuma pabrik ilusi, dan bahwa kesuksesan bisa diraih tanpa perlu repot belajar secara sistematis. Padahal, logika ini rapuh sejak awal.

Dengan mencampuradukkan hasil dengan proses, keberuntungan dengan kapasitas, serta pengecualian dengan kaidah. Lebih berbahaya lagi, narasi ini kerap dipakai sebagai pembenaran untuk berhenti belajar, bukan sebagai kritik sehat terhadap sistem pendidikan.

Bos Lulusan SD dan Mitos Gagalnya Pendidikan Tinggi

Ironisnya, mereka yang paling lantang meremehkan kuliah sering kali menikmati hasil dari kerja orang-orang terdidik. Mulai dari teknologi, manajemen, regulasi, dan pengetahuan yang memungkinkan “bos tanpa ijazah” tetap bisa menjalankan usahanya.

Narasi “bos lulusan SD, pegawai lulusan S3” sering dipakai untuk merendahkan pendidikan formal. Padahal, narasi ini justru menunjukkan fungsi pendidikan yang sebenarnya.

Seorang bos membutuhkan pengetahuan manajerial, teknis, dan analitis yang sering kali disediakan oleh mereka yang menempuh pendidikan lebih tinggi. Artinya, pendidikan tidak selalu menjadikan seseorang pemilik modal, tetapi menjadikannya kompeten dan bernilai dalam sistem kerja yang kompleks.

Di titik inilah pertanyaan “buat apa kuliah?” tidak lagi terdengar kritis, melainkan menjadi alarm tentang betapa mudahnya kita menukar proses berpikir panjang dengan slogan singkat yang terdengar cerdas, padahal miskin makna.

Ketika Pendidikan Diremehkan atas Nama Kesuksesan Instan

Dari sana muncul kesimpulan cepat. Kuliah tidak menjamin kesuksesan, ijazah hanya selembar kertas, dan pendidikan tinggi dianggap buang-buang waktu. Namun, benarkah persoalannya sesederhana itu?

Pertama, kita perlu sepakat bahwa kuliah memang tidak menjamin kesuksesan. Banyak faktor lain yang menentukan: keberanian mengambil risiko, jejaring, kerja keras, kondisi sosial, hingga keberuntungan. Tapi kesimpulan lanjutan yang sering dilewati bahwa kuliah tidak penting, justru lahir dari kesalahan memahami fungsi pendidikan itu sendiri.

Ijazah Bukan Sekadar Kertas, tapi Cara Membaca Nilai Hidup

Ijazah memang selembar kertas. Tapi untuk mendapatkannya butuh perjuangan panjang yang tidak mudah. Hal ini sama halnya dengan uang. Ia juga hanya selembar kertas, sampai kita tahu nilainya dan cara menggunakannya. 

Mari kita analogikan dengan sederhana. Uang rupiah tidak berlaku di Inggris, bukan karena ia tak bernilai, melainkan karena digunakan di sistem yang salah. Begitu pula riyal yang tak laku di Indonesia. Nilai selalu bergantung pada konteks, pengetahuan, dan cara pakai. Begitupun pendidikan, ia bekerja dengan prinsip yang sama.

Kuliah bukan mesin pencetak kaya, melainkan ruang belajar cara berpikir. Ia melatih nalar kritis, etika, disiplin, kemampuan menganalisis, dan cara membaca realitas secara lebih luas.

Seseorang bisa saja sukses tanpa kuliah, tapi sering kali ia belajar semua itu melalui jalan lain. Pengalaman panjang, kegagalan berulang, mentor, dan proses yang tidak singkat. Kuliah adalah salah satu jalan (bukan satu-satunya) namun jalan yang dirancang agar pembelajaran itu lebih sistematis.

Logika Dangkal di Balik Narasi Anti-Pendidikan

Masalahnya bukan pada kuliah, melainkan pada mindset setelah kuliah. Jika kuliah dipahami hanya sebagai ritual datang ke kampus, mengejar IPK, lalu menunggu pekerjaan, wajar jika hasilnya terasa hampa.

Kuliah tanpa tujuan dan refleksi memang tidak menjamin apa pun. Namun, tidak kuliah sama sekali justru berisiko mempersempit pilihan, terutama di dunia yang makin kompetitif dan berbasis pengetahuan.

Pendidikan tinggi juga memberi kita bahasa untuk memahami dunia: ekonomi, hukum, sains, teknologi, dan sosial. Tanpa bahasa itu, kita mudah terjebak pada logika instan dan generalisasi dangkal. Justru melalui pendidikan, kita diajak untuk tidak mudah menelan mentah-mentah slogan seperti “kuliah percuma” atau “yang penting usaha”.

Pertanyaan yang lebih jujur seharusnya bukan “buat apa kuliah?”, melainkan “kuliah untuk apa?”. Ketika kuliah disertai kesadaran, tujuan, dan kemauan belajar di luar kelas, ia menjadi investasi jangka panjang. Bukan hanya untuk karier, tetapi untuk cara kita mengambil keputusan hidup.

Kuliah saja memang tidak menjamin masa depan. Namun, tanpa kuliah atau proses belajar yang setara, kita berisiko kehilangan bekal berpikir. Dan di dunia yang penuh perubahan cepat, kemampuan berpikir itulah yang justru paling mahal nilainya.