M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi ruangan gelap (Pixabay/ha11ok)
Tika Maya Sari

“Wah, gila saja! Hawanya merinding coy!”

“Padahal di gedung timur ramai adik kelas, tapi di gedung barat….”

“Semalaman nggak bisa tidur weh!”

Dies Natalis sekolah lazimnya identik dengan berbagai festival dan lomba, mulai dari lomba cabang akademik, kesenian, sampai lomba kelas tercantik. Nah, ada satu kejadian horor yang dialami kawan sekelasku saat mengikuti lomba kelas tercantik. Begini kejadiannya.

Kelas kami, XI A1, berada di urutan kedua di sebelah selatan tangga. Kelas itu bersebelahan dengan kelas XI B3 yang hawanya agak aneh. Bahkan, kawanku—Adrian—pernah melihat penampakan tangan pucat misterius di jendelanya pada suatu malam.

Pada masa-masa menghias kelas, kami sepakat dengan desain pola abstrak yang memadupadankan warna biru muda, hitam, dan putih, serta dihias dengan foto-foto seluruh penghuni kelas. Meski sudah dicicil pada siang hari, nyatanya tetap belum selesai. Alhasil, selepas magrib, beberapa anak laki-laki yakni Arda, Endra, Wawan, Aji, dan Dwi melakukan finishing.

“Memangnya semalam betulan sepi? Katanya anak-anak kelas X pada berangkat?” tanya Lingga.

Wawan menguap. “Habis maghrib itu memang rame. Bahkan ketua OSIS ikutan sidak juga.”

Kami sekelas kompak berkerumun dan duduk membentuk lingkaran sambil mendengar penuturan lima anak yang mengalami hal mengerikan tersebut.

“Awalnya biasa saja sih. Nggak ada dingin-dingin apa. Pokoknya biasa,” tutur Dwi.

Aji mengembuskan napas lelah. Matanya tampak memerah. “Aku semalaman sampai nggak bisa tidur.”

“Kalian tahu, selepas isya, tiba-tiba hawanya sunyi sekali,” ucap Arda. “Dingin, aneh, senyap. Pokoknya nggak enak banget hawanya. Kayak ada sesuatu.”

Dwi mengangguk semangat. “Kami sudah setel musik biar nggak sepi-sepi amat. Bahkan bercanda juga biar rasa takut itu pergi.”

“Kalau aku, kucepat-cepatkan ngecat dinding bagianku. Mana hawanya sudah merinding,” imbuh Wawan.

Endra yang hanya diam sejak tadi pun akhirnya bersuara. “Setelah ketua OSIS pergi ngecek aktivitas kelas X di gedung timur, di gedung barat otomatis cuman tinggal kami berlima kan?”

Kami kompak mengangguk dan tiba-tiba meraba tengkuk masing-masing. Ada hawa dingin yang aneh.

“Ditambah hawa aneh, dingin dan full merinding.” Endra memijat pangkal hidungnya. “Tiba-tiba…. BRAKK!!”

“Apaan, Ndra?” tanya salah satu anak perempuan. “Kalian jatuh?”

“Mulutmu!” Endra tampak bergidik ngeri. “Pintu kelas sebelah terbanting. Padahal nggak ada siapa-siapa.”

“Apa mungkin angin?” tanya Lingga.

“Nggak ada angin itu,” jawab Arda. “Dan pas kucek bareng Dwi, nggak ada satupun orang yang lewat lorong ini. Nggak ada siapapun di lantai dua ini.”

“Wah, gila saja! Hawanya merinding coy!” keluh Wawan.

“Padahal di gedung timur masih ramai adik kelas, tapi di gedung barat….” gumam Dwi.

“Semalaman nggak bisa tidur weh!” maki Aji.

Aku sendiri merasa tidak nyaman saat mendengar penuturan kawan-kawanku tersebut, namun aku memilih diam. Tiba-tiba saja, aku teringat pada penuturan Adrian beberapa hari lalu mengenai misteri kelas sebelah.

Apa iya, kelas sebelah itu memang menyimpan rahasianya sendiri?

Spontan saja, aku menatap Adrian yang balas menatapku dan memberi isyarat untuk tetap tenang dan diam.