Sebagian besar siswa pasti pernah merasakan pengalaman pahit ini. Kalau dapat nilai tinggi di Matematika, sudah pasti dipuji pintar. Sedangkan kalau nilainya rendah, seketika langsung dipandang sebelah mata.
Pola pikir ini masih sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari, atau bahkan masih melekat di beberapa sekolah Indonesia. Sejak SD siswa selalu dituntut untuk menguasai hitungan dan rumus matematika.
Sebenarnya kenapa angka selalu diagungkan sebagai tolok ukur atau ukuran kecerdasan di negeri ini? Seolah menggambarkan bahwa kecerdasan hanya bisa diukur dan dipandang dari angka dan rumus.
Di beberapa sekolah, matematika masih menempati posisi tertinggi untuk mendapat label “cerdas”. Siswa yang cenderung memiliki kemampuan untuk cepat menghitung dan menguasai rumus, seketika dianggap jenius. Sedangkan siswa yang lambat untuk berhitung, dipandang sebelah mata, meski mereka memiliki bakat di bidang lain yang tidak berhubungan dengan angka, seperti seni dan olahraga.
Tentunya pandangan ini tak lepas dari warisan turun temurun terkait sistem pendidikan yang sejak lama menekankan bahwa logika angka merupakan inti kecerdasan. Faktanya dalam beberapa tes yang dilakukan untuk menentukan kecerdasan anak, selalu tidak jauh dari pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan angka.
Sebuah penelitian dalam Jurnal Dakwah dan Komunikasi STAIN Purwokerto menyoroti hal yang sama. Muskinul Fuad (2012) mengungkapkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih cenderung menggunakan standar IQ atau kecerdasan akademik semata, yang hanya mencakup dua hingga tiga aspek kecerdasan. Akibatnya, anak-anak dengan potensi lain sering kali tidak bisa berkembang secara optimal. Mereka terlanjur dicap “bodoh” hanya karena tidak menonjol di bidang akademik, khususnya matematika.
Pandangan serupa juga terjadi saat siswa menempati bangku SMA. Pembagian jurusan IPA sudah pasti dianggap lebih baik dan bergengsi karena bertumpu pada hitungan. Sementara jurusan IPS dan Bahasa sering kali dijuluki sebagai “opsi kedua” setelah jurusan IPA.
Pandangan dan stigma ini juga melekat pada beberapa orang tua. Mereka sering kali untuk selalu mengarahkan anaknya agar memilih jurusan IPA, karena dianggap lebih pasti dan lebih berguna.
Stigma seperti ini sudah pasti memengaruhi cara pandang anak dan cenderung berpotensi untuk mengurangi rasa percaya diri anak. Akibatnya, banyak siswa yang tumbuh dengan bayangan bahwa pintar hanya berarti jago berhitung.
Pandangan ini juga menyisakan dampak serius bagi anak. Tak jarang ditemui kasus bahwa siswa yang memiliki potensi selain berhitung merasa minder dan kurang dihargai.
Lebih jauh lagi, tidak sedikit yang kehilangan kepercayaan diri hanya karena tidak sesuai dengan standar “cerdas” versi Indonesia.
Pada akhirnya, kecerdasan bukanlah soal cepat atau lambatnya menghitung, melainkan bagaimana setiap anak bisa mengembangkan potensinya secara utuh. Selama masyarakat masih menjadikan matematika sebagai tolok ukur utama, kemungkinan besar juga semakin banyak bakat lain yang terkubur.
Sudah waktunya cara pandang ini berubah: bahwa anak yang jago menulis, menari, menggambar, atau memimpin juga sama pintarnya dengan mereka yang lihai berhitung. Karena sejatinya, kecerdasan tidak bisa diseragamkan hanya dengan satu rumus.
Baca Juga
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
-
Menunggu Hari Perempuan Bisa Benar-Benar Aman dan Nyaman di Konser Musik
-
Diduga Selingkuh Lagi, Jennifer Coppen Singgung Sosok Jule di Live
Artikel Terkait
-
Beda Jauh dari Mahfud, Kenapa KPU Tak Cantumkan Pendidikan Terakhir Gibran?
-
Pendidikan Wali Kota Prabumulih: Dikira Lulusan SMA Ternyata Alumni Kampus Terbaik Indonesia
-
Kejagung Periksa 8 Saksi Kasus Korupsi Digitalisasi Pendidikan yang Menyeret Nadiem, Siapa Saja?
-
Pendidikan Cak Arlan: Wali Kota Prabumulih yang Punya 4 Istri, Kini Viral Copot Kepsek
-
Gebrakan Gubernur Papua Tengah: Gratiskan Sekolah untuk 24.481 Siswa, Beasiswa Kuliah Disiapkan
Kolom
-
Krisis Iklim Tak Pernah Netral: Mengapa Perempuan Menanggung Beban Lebih Berat?
-
Buruh Gen Z dan Hak Berserikat di Era Union Busting Digital
-
Relasi Kuasa di Tempat Kerja dan Maraknya Kekerasan Berbasis Gender
-
Menstruasi Bukan Aib, Tapi Mengapa Kita Diajari Menyembunyikannya?
-
Bekerja Tanpa Karier: Ketika Naik Jabatan Tak Lagi Menggoda
Terkini
-
Sinopsis Film Sadali, Ketika Cinta Lama dan Masa Lalu Datang Bersamaan
-
Tecno Camon 50 Series Siap Meluncur ke Indonesia, Dukung SuperZoom 20X dan Sensor Sony LYTIA 700C
-
Psychological Reactance: Alasan di Balik Rasa Kesal Saat Disuruh dan Dilarang
-
Maarten Paes, Ajax Amsterdan dan Beban Pembuktian Julukan Mewah yang Dia Umumkan Sendiri
-
Mengenal Climate Fatigue: Mengapa Kita Lelah Baca Berita Buruk Soal Lingkungan?