Kontroversi tindakan siswa SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten yang mogok sekolah demi membela temannya yang diduga ditampar Kepala Sekolah karena ketahuan merokok memang tengah menyita perhatian publik.
Meski mediasi akhirnya jadi jalan yang dipilih dan siswa yang mogok sudah beraktivitas kembali di sekolah, tapi proses kasus yang terlanjur mencuat di medsos ini belum berhenti jadi perbincangan di kalangan netizen.
Bahkan netizen sampai terbelah dalam dua kubu berbeda. Satu sisi, netizen merasa kalau tindak kekerasan dalam mendisiplinkan siswa dianggap nggak sesuai dengan konsep mendidik. Di sisi lain, netizen mulai mempertanyakan sikap orang tua siswa yang nggak terima anaknya dihukum meski melanggar aturan sekolah.
Orang tua siswa, dalam konteks ini wali murid anak yang merokok, dituding membela sikap yang salah karena merokok di ruang publik sudah jadi bentuk pelanggaran yang tertulis dalam Undang-undang.
Bahkan sikap membela ini dianggap jadi celah pembentukan karakter lembek generasi muda. Anak seolah selalu dilindungi orang tua dan akan selalu ‘melapor’ andai merasa diperlakukan nggak adil, padahal dia salah.
Namun, memang ada benarnya kalau tindak kekerasan, baik fisik maupun verbal, nggak seharusnya diterapkan meski demi alasan mendisiplinkan. Masih ada cara-cara persuasif yang bisa ditempuh guru demi membuat efek jera dan anak menjadi disiplin.
POV Netizen Terbelah, Pemerintah Kemana?
Dalam salah satu unggahan seorang digital creator bernama Halimah di akun Instagram @igdailyjour, ia menyoroti bagaimana pendapat netizen terbelah tapi konteks masalah tetap nggak terselesaikan.
Halimah menyampaikan perbedaan pandangan netizen dalam kontenya yang memang jadi fenomena riil yang terjadi di kalangan pengguna media sosial.
Dua pendapat berbeda yang saling berseberangan seharusnya dijembatani oleh pemerintah sebagai pembuat sistem. Rakyat sibuk gontok-gontokan dan sama-sama merasa benar dengan ‘dalil’ mereka masing-masing.
Padahal, sebenarnya masalah ini bisa selesai jika ditangani langsung oleh pemerintah dengan membenahi sistem di lingkungan pendidikan agar kasus semacam ini nggak terjadi lagi.
Siswa dan Merokok Jadi Masalah Klasih yang Belum Terselesaikan
Masalah yang terjadi di SMAN 1 Cimarga bukan fenomena baru, justru banyak kasus serupa yang terjadi di lingkungan sekolah tapi nggak terungkap di media. Siswa dan merokok merupakan masalah klasik yang belum terselesaikan.
Diakui atau nggak, perokok remaja memang masih banyak ditemukan. Bahkan di lingkungan sekolah atau malah jam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), siswa cabut atau sembunyi-sembunyi merokok pun masih sering terjadi.
Nggak heran kalau guru sering melakukan sidak, terutama saat jam kosong atau jeda waktu istirahat. Kantin dan kamar mandi sering jadi lokasi favorit buat siswa nyolong momen merokok di sekolah.
Biasanya, guru BK akan turun tangan dan menghukum siswa yang kedapatan merokok di sekolah. Normalnya, kesalahan semacam ini jadi bentuk pelanggaran indisipliner yang memang harus ditegakkan tanpa pembelaan orang tua.
Namun, kasus di SMAN 1 Cimarga tampaknya jadi anomali. Bukan fokus pada kesalahan anak yang melanggar aturan, kontroversi yang tergiring juga menyoroti sikap Kepala Sekolah yang menghukum dengan tindak kekerasan.
Kasus Melebar, Gubernur Banten dan Rekan Guru Blunder, Ujungnya Maaf-maafan
Sayangnya, pihak-pihak yang berkuasa menyelesaikan masalah ini justru bertindak nggak sesuai harapan. Gubernur Banten dan rekan guru blunder dengan memberikan pernyataan yang nggak mengarah pada penyelesaian ini masalah.
Gubernur Banten, Andra Soni, bahkan langsung mengeluarkan statement untuk menonaktifkan Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, Dini Fitria. Di sisi lain, rekan kerja Bu Dini malah ikut-ikutan memberi pernyataan negatif yang sebenarnya di luar konteks malah.
Begitu ramai di medsos, ujung dari masalah ini berupa permintaan maaf. Siswa yang diduga merokok dan Kepsek dipertemukan oleh Gubernur Banten untuk mediasi, termasuk wali murid tersebut.
Hanya saja, inti masalah masih belum tersentuh. Bagaimana hukuman untuk perilaku merokok siswa di sekolah yang jelas-jelas melanggar aturan? Andai guru menghukum, risiko dikriminalisasi di depan mata.
Namun, kalau dibiarkan, generasi muda akan semakin acuh pada aturan dan merasa sikapnya bukan bentuk pelanggaran karena ‘seolah’ sudah ada dispensasi hukuman atau bahkan dinormalisasi. Bagaimana menurut sobat Yoursay?
Baca Juga
-
Tahun Ajaran Baru Dimulai, MBG Hadir Lagi: Kritik Publik Kembali Menggema?
-
Coffee Shop dan Ruang Tenang Bagi Gen Z: Bukan Lagi Sekadar Tempat Ngopi
-
Realita Generasi Bertahan: Gaji Jalan di Tempat, Kebutuhan Lari Kencang
-
Problematika Cinta Gen Z: Takut Salah Pilih Tapi Juga Tidak Mau Sendirian
-
Sistem Kerja Hybrid: Cara Baru Bekerja yang Membuat Hidup Lebih Seimbang
Artikel Terkait
-
Utang dan Kekayaan Andra Soni, Gubernur Banten yang Nonaktifkan Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga
-
Balik Jabat Kepsek SMAN 1 Cimarga, Dini Fitria Girang usai Dimaafkan Ortu Siswa: Alhamdulillah
-
Jejak Karier Andra Soni, Gubernur Banten di Tengah Polemik Kasus Kepala SMAN 1 Cimarga
-
Dituding Hina Kiai dan Pesantren di Program Xpose, Siapa Dalang di Balik Trans7 yang Dipolisikan?
-
Profil 3 Tokoh Besar NU Lulusan Al Khoziny: MUI Sebut APBN Pantas Buat Ponpes
Kolom
-
HP Bukan Pengasuh: Jangan Biarkan Gadget Mendidik Anak Sendirian
-
Cinta yang Dibatasi atau Dijaga? Memahami Konsep Taaruf di Era Modern
-
Ketika Guru Bersertifikat Justru Terjebak di Celah Kebijakan
-
Wajah Pendidikan Karakter: Ketika Pemimpin Gagal Menjadi Contoh
-
Piala Dunia 2026: Saatnya Spanyol Akhiri Puasa Juara?
Terkini
-
I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki: Bertahan Hidup Lewat Harapan-harapan Kecil
-
Ikut Beri Dukungan, Tom Cruise Bagikan Momen usai Nonton Film The Odyssey
-
Menang Dramatis! Argentina Siap Hadapi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
-
Ulasan Novel Semesta Thalita, Ketika Kata Pulang Tak Lagi Bermakna
-
As Long as the Lemon Trees Grow: Ketika Harapan Tumbuh di Tengah Perang