Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
Sabar Tanpa Batas Adhitya Mulya. (Gramedia)
Taufiq Hidayat

Apa yang lebih menyakitkan daripada kehilangan orangtua? Jawabannya adalah kehilangan orangtua yang meninggalkan "warisan" berupa utang rentenir. Inilah premis menyesakkan yang diangkat oleh Adhitya Mulya dalam novel terbarunya, Sabar Tanpa Batas. Melalui tiga bersaudara—Cahyadi, Ike, dan Irma—kita diajak menyelami realitas kemiskinan yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga menguji batas kewarasan dan kesabaran seorang manusia.

Cerita bermula ketika ayah mereka, seorang penarik becak dengan hobi judi yang akut, meninggal dunia. Bukannya meninggalkan bekal untuk masa depan anak-anaknya, sang ayah justru mewariskan utang besar yang membuat Cahyadi sebagai anak sulung harus memutar otak demi melindungi adik-adiknya. Di titik ini, pembaca akan dibuat jengkel sekaligus miris dengan sosok ayah yang kerap menggunakan narasi "anak durhaka" sebagai senjata untuk memeras keringat anak-anaknya demi meja judi.

Pengorbanan Sang Sulung dan Solidaritas Saudara

Novel ini adalah surat cinta untuk para "sulung" di luar sana. Cahyadi merepresentasikan sosok kakak laki-laki yang rela menghancurkan egonya sendiri demi impian adik-adiknya. Ia memutuskan menjadi Anak Buah Kapal (ABK), sebuah profesi yang menuntut kekuatan fisik dan mental luar biasa, demi melunasi utang rentenir dan memastikan Ike serta Irma tetap bisa bersekolah.

Ike dan Irma pun tidak tinggal diam. Ike bekerja sebagai kuli setrika, sementara Irma mengajar les catur. Dinamika hubungan kakak-adik ini adalah jantung dari cerita. Penulis berhasil menggambarkan bagaimana kemiskinan bisa membuat ikatan darah menjadi semakin solid. Bagian ini memberikan motivasi mendalam bagi kita untuk lebih menghargai saudara kandung. Pengorbanan Cahyadi mengingatkan kita bahwa sering kali kebahagiaan sejati ditemukan saat kita mampu menjadi "sandaran" bagi orang-orang yang kita cintai.

Kedalaman Emosi dan Laju Cerita

Adhitya Mulya dikenal dengan gaya penulisannya yang lugas. Namun, dalam novel ini, saya merasakan sedikit ganjalan pada cara penulis menyajikan perjalanan waktu. Cerita ini mencakup rentang waktu bertahun-tahun yang diringkas sedemikian rupa. Meski memudahkan pembaca mengikuti perkembangan hidup tokoh, teknik ini membuat beberapa momen kehilangan kedalaman emosionalnya.

Sebagai contoh, ketika alur memasuki masa pandemi Covid-19, saya merasa emosi para tokoh tidak tergali secara maksimal. Padahal, pandemi adalah momen krusial yang bagi sebagian besar masyarakat, termasuk saya pribadi—merupakan puncak kesulitan hidup. Saya merasa duka dan kepanikan para tokoh akibat wabah ini kurang tereksplorasi secara detail.

Menurut opini saya, novel dengan cakupan waktu yang panjang seperti ini akan jauh lebih "bertenaga" jika dibagi menjadi dua jilid atau diberikan porsi halaman yang lebih tebal, layaknya karya klasik The Good Earth milik Pearl S. Buck. Dengan begitu, setiap transisi emosi dari masa sulit ke masa sukses bisa dinikmati dengan lebih khidmat tanpa terkesan terburu-buru.

Nilai Moral dan Humor Khas Adhitya Mulya

Jika Anda menyukai Sabtu Bersama Bapak, Anda akan menemukan napas yang sama di sini. Pesan-pesan islami tentang kesabaran, kerja keras, dan bakti kepada keluarga tersampaikan dengan sangat natural tanpa kesan menggurui. Novel ini menjadi pengingat bahwa "sabar" bukanlah sebuah sikap pasif, melainkan sebuah tindakan aktif untuk terus berjuang di tengah keterbatasan.

Tentu saja, bukan karya Adhitya Mulya namanya jika tidak disisipkan humor. Seperti di buku-buku sebelumnya, humor dalam novel ini terasa agak "kaku" atau daddy jokes yang terkadang kurang mengena bagi sebagian orang. Namun, justru kekakuan itulah yang menjadi ciri khas sang penulis. Humor-humor tipis ini berfungsi sebagai oase agar pembaca tidak terlalu sesak saat mengikuti drama kehidupan Cahyadi yang pilu.

Sebuah Refleksi Diri

Secara keseluruhan, Sabar Tanpa Batas adalah bacaan yang sangat layak untuk dinikmati siapa saja yang sedang merasa lelah dengan ujian hidup. Novel ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga memicu refleksi diri: sudahkah kita menjadi pribadi yang bisa diandalkan bagi keluarga kita?

Saya merekomendasikan buku ini sebagai alat bantu untuk menyesuaikan kembali pandangan hidup kita, terutama dalam lingkup keluarga. Bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada celah untuk berbuat baik dan menjadi berguna bagi orang lain. Sebuah pengingat bahwa meski sabar itu sulit, hasilnya sering kali melampaui batas yang kita bayangkan.

Identitas Buku

  • Judul: Sabar Tanpa Batas
  • Penulis: Adhitya Mulya
  • Editor: Resita Febiratri
  • Desain sampul: @hastapena
  • Penerbit: GagasMedia
  • Terbit: 2023, cetakan pertama
  • Tebal: vi + 266 hlm.
  • ISBN: 9786234930245