Bimo Aria Fundrika | e. kusuma .n
Ilustrasi ngabuburit di cafe (AI/Nano Banana)
e. kusuma .n

Ngabuburit saat Ramadan merupakan tradisi menunggu waktu berbuka puasa yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia. Dulu, ngabuburit identik dengan kegiatan sederhana seperti berjalan santai, membaca Al-Qur’an di masjid, atau menyiapkan hidangan berbuka.

Namun kini, tren ngabuburit kekinian mengalami pergeseran yang cukup signifikan, terutama di kalangan anak muda. Di era media sosial, ngabuburit bukan lagi sekadar mengisi waktu, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup.

Dari nongkrong di kafe estetik, berburu takjil viral, hingga berbuka di tempat hits demi konten medsos, semua menjadi bagian dari fenomena baru ini. Lalu, bagaimana dampaknya terhadap kondisi keuangan, khususnya bagi Gen Z?

Ngabuburit Berubah Jadi Lifestyle

Perkembangan tren ngabuburit tidak lepas dari pengaruh media sosial. Banyak konten kreator membagikan rekomendasi tempat ngabuburit seru, daftar takjil unik, hingga spot foto menarik untuk menanti momen jelang buka puasa.

Akibatnya, muncul dorongan untuk ikut merasakan pengalaman yang sama agar tidak ketinggalan tren. Ngabuburit yang dulu gratis atau minim biaya, kini malah menguras dompet karena seolah memaksa kita menyediakan budget lebih.

Bagaimana tidak, nongkrong di kafe menjelang buka puasa membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Jika dilakukan hampir setiap hari selama Ramadan, pengeluaran bisa membengkak tanpa terasa.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana ngabuburit telah bertransformasi menjadi bagian dari lifestyle urban. Tidak salah menikmati suasana Ramadan dengan cara yang menyenangkan, tetapi tetap perlu kesadaran finansial agar tidak “kere mendadak”.

Efek FOMO dan Pengeluaran Impulsif

Salah satu faktor terbesar yang mendorong tren ngabuburit kekinian adalah budaya FOMO (Fear of Missing Out). Ketika timeline media sosial dipenuhi foto bukber di rooftop, ngabuburit di taman kota, atau review takjil viral, muncul rasa ingin ikut serta.

FOMO sering kali memicu pengeluaran impulsif. Kita membeli makanan bukan karena benar-benar butuh, melainkan karena ingin mencoba yang sedang viral. Kita memilih tempat mahal bukan karena kualitasnya, tetapi demi suasana dan konten.

Jika tidak dikontrol, kebiasaan ini dapat mengganggu perencanaan keuangan bulanan. Uang yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan pokok, tabungan, atau zakat justru habis untuk kesenangan sesaat.

Dampak pada Tabungan dan Prioritas Finansial

Ramadan sebenarnya momen yang tepat untuk melatih pengendalian diri, termasuk dalam hal keuangan. Namun, tren ngabuburit kekinian bisa menjadi tantangan tersendiri.

Tanpa perencanaan, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat menggerus tabungan. Misalnya, menghabiskan Rp50.000 per hari untuk nongkrong selama 20 hari sudah mencapai Rp1.000.000. Angka ini tentu tidak sedikit, terutama bagi mahasiswa atau pekerja muda.

Selain itu, meningkatnya frekuensi nongkrong juga berpotensi mengubah prioritas. Alih-alih fokus pada ibadah atau refleksi diri, waktu dan uang justru lebih banyak dihabiskan untuk aktivitas konsumtif.

Sisi Positif Tren Ngabuburit Kekinian

Meski memiliki dampak finansial yang perlu diwaspadai, tetapi tren ini juga membawa sisi positif. Ngabuburit di luar rumah dapat mempererat hubungan sosial, memperluas jaringan pertemanan, dan mendukung pelaku UMKM lokal yang menjajakan kuliner khas Ramadan.

Banyak pedagang kecil yang mengandalkan momen ngabuburit untuk meningkatkan pendapatan. Dengan membeli produk mereka, kita turut berkontribusi pada perputaran ekonomi masyarakat.

Kuncinya bukan berhenti total dari aktivitas kekinian, melainkan menyeimbangkannya dengan kesadaran finansial dan tujuan Ramadan itu sendiri. Ngabuburit kekinian tidak harus jor-joran, tetapi dengan pertimbangan anggaran yang bijak.

Tips Ngabuburit Seru Tanpa Boros

Agar tetap bisa menikmati tren ngabuburit tanpa mengganggu kondisi keuangan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, buat anggaran khusus Ramadan dengan menentukan batas pengeluaran agar tidak melebihi kemampuan finansial.

Kedua, pilih aktivitas gratis atau berbiaya rendah. Ngabuburit di taman kota, ikut kajian sore, atau olahraga ringan bersama teman bisa menjadi alternatif yang lebih hemat.

Ketiga, terapkan prinsip mindful spending. Sebelum membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri apakah ini benar-benar dibutuhkan atau hanya karena ikut-ikutan?

Keempat, kombinasikan ngabuburit dengan kegiatan produktif, seperti berbagi takjil gratis atau mengikuti kelas online pengembangan diri. Dengan begitu, waktu menunggu berbuka tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bermanfaat.

Menemukan Makna di Tengah Tren

Tren ngabuburit kekinian adalah bagian dari dinamika zaman. Perubahan gaya hidup tidak selalu buruk, asalkan disikapi dengan bijak. Ramadan seharusnya menjadi momen untuk melatih disiplin dan pengendalian diri, termasuk dalam mengatur keuangan.

Ngabuburit boleh saja mengikuti tren, mencoba tempat baru, atau mencicipi menu viral. Namun jangan sampai kebiasaan tersebut membuat kita kehilangan esensi Ramadan tentang kesederhanaan, refleksi, dan penguatan spiritual.

Pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa estetik foto ngabuburit kita, melainkan seberapa bijak kita mengelola waktu dan uang selama bulan suci. Karena setelah Ramadan berlalu, yang tersisa bukan hanya kenangan, tetapi juga kondisi finansial yang harus tetap sehat.