Kemelut yang kini melanda induk sepak bola Indonesia, PSSI membuat Timnas Indonesia mau tak mau turut terdampak. Imbas tarik ulur kepentingan yang merundung dalam tubuh organisasi, sampai saat ini posisi pelatih utama di Skuat Garuda masih belum juga ditentukan siapa pengisinya.
Bukan hanya itu, polemik yang melanda federasi sepak bola Indonesia tersebut juga seolah membuat Timnas Indonesia menjadi arena pertarungan sengit bagi dua pihak yang saling bertolak belakang.
Permasalahan yang bermula dari pemecatan Shin Tae-yong di awal tahun 2025 lalu, kini menjadi kian larut dan melebar. Posisi pelatih Timnas Indonesia yang saat ini memiliki nilai tawar tinggi dalam kemelut, harus diakui menjadi penyebab utama pertarungan sengit yang sarat dengan kepentingan tersebut.
Dilihat dari dinamika yang terjadi di lapangan, tentu kita sepakat ada 2 pihak yang tengah bertarung sengit untuk pengisian posisi pelatih Timnas Indonesia. Pihak pertama tentu saja kalangan pendukung setia Timnas Indonesia yang mayoritas berasal dari kalangan rakyat kebanyakan.
Jika meminjam istilah peristiwa Revolusi Prancis yang terjadi pada tahun 1789 hingga 1799, pendukung setia Timnas Indonesia yang menginginkan adanya perbaikan dalam diri federasi, hampir mirip dengan kaum proletar atau proletarian yang mana hanya bermodalkan kekuatan, keyakinan dan barisan massa yang tak takut dengan apapun halangan yang menghadang.
Sementara di sisi sebaliknya, lawan yang mereka hadapi adalah kaum elit federasi yang mana banyak di antaranya juga merupakan elite negara, yang mana meskipun jumlahnya sangat sedikit, namun mereka memiliki pengaruh, jabatan, uang dan harta kekayaan yang melimpah untuk dipergunakan sebagai alat kepentingan.
Tendensi yang mereka angkat pun sangat berbeda. Pada pertarungan antara kaum elit borjuis melawan kaum proletarian untuk mengisi posisi pelatih di Timnas Indonesia tersebut, para suporter proletarian berkali-kali menggemakan nama Shin Tae-yong untuk kembali dipanggil menjadi nakhoda Timnas.
Dan di kubu sebaliknya, dalam upayanya melakukan perlawanan, para elit yang kini menduduki jabatan di PSSI menampik nama itu dan lebih memilih untuk memasang nama lain untuk posisi pelatih di Timnas.
Dilansir laman Suara.com (28/10/2025), Ketua Umum PSSI, Erick Thohir yang memiliki kekuasaan tertinggi di federasi justru terang-terangan menolak STY untuk kembali melatih dengan beragam alasan. Bahkan, alasan yang bertendensi pribadi dari sang Ketua Umum juga mencuat ke publik seiring dengan bocornya rekaman suara eks presiden Inter Milan tersebut beberapa waktu lalu, sehingga semakin membuat pertarungan terus berlanjut.
Dengan kekuatan yang dimilikinya, Erick Thohir yang menjadi representasi kaum borjuis di federasi, membuat berbalai langkah yang kontroversial, menggerakkan massa untuk membangun opini, dan membuat beragam keputusan yang mana justru menimbulkan kesan PSSI yang sejatinya milik seluruh rakyat Indonesia menjadi miliknya sendiri.
Sebuah sikap yang seharusnya tak perlu dilakukan oleh Erick, karena sejatinya, kepemilikan sah dari PSSI ada di tangan rakyat dan suporter, bukan miliknya seorang sepertimana Persib Bandung, Inter Milan atau DC United yang mana dirinya bisa dengan sesuka hati membuat keputusan.
Jika melihat fenomena yang terjadi dalam persepakbolaan Indonesia belakangan ini, akan sangat mungkin pertarungan dua golongan yang berbeda basis kekuatan ini bakal terus berlanjut.
Bahkan ke depannya, jika nantinya keputusan dari elit federasi yang memiliki modal jauh lebih melimpah tak sejalan dengan keinginan para suorter proletarian dalam penentuan pelatih di tubuh Timnas Indonesia, pertarungan antara kedua kubu dipastikan akan semakin melebar, meruncing dan bahkan semakin memanas.
Dan itu artinya, potensi terjadinya friksi yang lebih bersifat fisik pun terbuka lebar, yang mana pada akhirnya akan membuat Timnas Indonesia yang sejatinya tengah dalam tren kebangkitan kembali menjadi korban yang paling menderita.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Jadi Guru Pembimbing Sekaligus Juri adalah Dilema, Ibarat Sudah Kalah Duluan Sebelum Mulai Lomba
-
Emansipasi atau Eksploitasi? Menggugat Seremonial Tahunan untuk Kartini di Bulan April
-
Realita Dunia Orang Dewasa: Bekerja Terasa Jauh Lebih Nyaman, Efek Pimpinan Baru yang Pengertian
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
Realita Pahit Lulusan SMK: Niatnya Bantu Keluarga, Malah Terjebak Gaji Kecil di Luar Kota
Artikel Terkait
-
Pelatih Futsal Australia: Timnas Indonesia Seperti Brasil yang Tertidur
-
Indra Sjafri Diyakini Bakal Pertahankan Medali Emas SEA Games 2025, Mengapa?
-
Calvin Verdonk Ungkap Luka Mental Skuad Garuda Usai Gagal ke Piala Dunia
-
Jay Idzes Kerek Sassuolo di Klasemen Liga Italia Usai Habisi Cagliari
-
Cetak Gol! Nathan Tjoe-A-On Bantai Klub eks Penyerang Liverpool 7-0
Kolom
-
Sekolah Mahal vs Sekolah Biasa: Kita Sebenarnya Tahu Bedanya
-
Kerja Saja Tidak Cukup: Membedah Jebakan Hustle Culture di Hari Buruh
-
May Day dan Nasib Lulusan Baru: Gaji Dipotong Paksa, Kerja Borongan
-
Glorified Internships: Saat Magang Berubah Menjadi Perbudakan Modern
-
Ngabarin Itu High-Level Manners: Mengapa Ini Lebih Penting dari yang Kamu Kira?
Terkini
-
4 Serum Retinol dan Hyaluronic Acid untuk Lawan Penuaan tanpa Kulit Iritasi
-
HONOR Win H9: Laptop Gaming yang Mengurangi Rasa Pusing hingga 58%
-
Cara Dengerin Musik Cermin Cara Mencintai: Si Telinga Detail Pasti Relate
-
Alyssa Daguise Tempuh Prenatal Acupuncture Demi Persalinan Normal
-
Piala Presiden 2026: PSSI Rajin Garap Turnamen "Hura-Hura", Lupa Prioritas Piala Indonesia