Lebaran masih menghitung hari, namun bagi saya, aroma kemenangan itu sudah tertutup rapat oleh bau karbol dan debu yang beterbangan. Ponsel saya tidak berhenti bergetar. Bukan berisi ucapan selamat atau tanya kabar, melainkan rentetan instruksi dari kakak-kakak di perantauan yang terdengar seperti perintah komandan perang.
Melalui layar kaca, mereka mengirimkan titah: gorden harus diganti, ubin harus kinclong, dan kamar "milik" mereka harus steril layaknya hotel bintang lima. Saya, anak bungsu yang masih berjibaku dengan tugas kuliah dan deadline kerja di kota sendiri, mendadak kehilangan hak atas waktu saya sendiri.
Ibu saya, seorang single parent yang hatinya mudah luluh oleh kata "rindu" dari anak rantau, menjadi perpanjangan tangan dari perintah tersebut. "Dek, tolong bersihkan gudang ya, nanti kakakmu yang laki-laki mau naruh barang," atau "Dek, kamar kakakmu yang perempuan tolong dipel lagi, nanti anaknya gatal kalau berdebu." Instruksi itu keluar dengan nada datar, seolah-olah saya adalah satu-satunya manusia yang tidak memiliki urusan di dunia ini selain menjadi kuli domestik pribadi bagi kakak-kakak saya.
Ketimpangan beban kerja domestik dalam keluarga menjelang Lebaran bukan sekadar masalah teknis sapu dan pel. Mengutip dari riset sosiologi keluarga yang sering dibahas dalam Indonesian Family Life Survey (IFLS), terdapat sebuah "norma tidak tertulis" di mana anggota keluarga yang tinggal bersama orang tua—terutama si bungsu, secara otomatis dibebani tanggung jawab fisik yang jauh lebih besar.
Secara sosiologis, ini adalah bentuk eksploitasi berbasis kasih sayang. Karena saya tidak "merantau", saya dianggap tidak sedang berjuang. Kuliah saya yang melelahkan dan pekerjaan sampingan yang menguras otak dianggap sebagai kesibukan kelas dua jika dibandingkan dengan "perjuangan" kakak laki-laki saya yang kuliah di luar kota.
Logika senioritas ini sungguh satir dan membakar hati. Kakak laki-laki saya diagungkan sebagai "pejuang perantauan" yang patut disambut dengan karpet merah, padahal saya di sini juga sedang berdarah-darah menghidupi diri sendiri sambil menempuh pendidikan.
Kakak perempuan saya yang sudah berkeluarga dianggap sebagai "tamu agung" yang harus dilayani karena membawa cucu, seolah-olah statusnya sebagai ibu menghapus kewajibannya sebagai anak di rumah ini. Mereka mengirim rindu lewat telepon, tapi rindu itu selalu disertai lampiran tugas pembersihan yang harus saya selesaikan sebelum mereka menginjakkan kaki di teras.
Sialnya, pengorbanan saya ini sering kali berakhir dengan makian halus atau teguran dari Ibu karena dianggap "kurang niat" bekerja. Di sela-sela mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk hingga subuh, saya harus menyeret tubuh untuk menyikat kamar mandi yang mungkin hanya akan mereka pakai selama tiga hari.
Nah, di saat itulah saya merasa menjadi manusia paling malang. Mereka menganggap saya tidak punya harga diri, seolah-olah seluruh pencapaian akademik dan kerja keras saya tidak ada artinya selama kaca jendela rumah masih berbayang debu di mata "inspektur" dari perantauan itu.
Ibu, dalam upayanya menjaga harmoni keluarga, sering kali menjadi tameng bagi kemalasan kakak-kakak. "Kasihan kakakmu, mereka jauh-jauh pulang mau istirahat," katanya.
Namun, pernahkah ada yang bertanya, "Kasihan adikmu, dia lelah kuliah sambil kerja dan masih harus mengurus rumah sendirian?" Jawabannya hampir pasti tidak.
Kita hidup dalam delusi bahwa anak bungsu adalah robot yang tidak punya rasa lelah, tidak punya masa depan yang sedang diperjuangkan, dan hanya ada untuk memastikan kenyamanan saudaranya.
Pengalaman ini membawa saya pada sebuah kesimpulan pahit di penghujung Ramadan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling hangat, kini terasa seperti tempat kerja paksa tanpa upah.
Rasa perih di hati saya bukan karena pekerjaan fisiknya, tapi karena pengabaian atas eksistensi saya sebagai individu yang juga punya kesibukan. Nilai saya di rumah ini hanya diukur dari seberapa patuh saya menjalankan "titah" dari mereka yang bahkan belum tentu mau membantu mencuci piring setelah makan.
Kini, setiap kali ponsel saya berbunyi dan nama salah satu kakak muncul di layar, yang saya rasakan bukan kegembiraan, melainkan mual.
Saya tahu, di balik tanya "Apa kabar, Dek?" selalu ada kelanjutan "Tolong beresin ini ya, nanti Kakak pulang." Saya belajar bahwa dalam keluarga, terkadang kasih sayang bersifat transaksional; mereka sayang jika saya bisa menjadi pelayan yang baik, dan mereka akan mencibir jika saya menunjukkan rasa lelah.
Jadi, untuk para kakak yang sedang duduk manis di kantor atau di kosan perantauan sambil menunggu waktu mudik: Berhentilah memerintah adikmu lewat telepon seolah kami tidak punya kehidupan. Kami juga sedang bertarung dengan kuliah dan kerja, sama seperti kalian.
Jangan jadikan rumah Ibu sebagai panggung kesombongan kalian hanya karena kalian lahir lebih dulu atau tinggal lebih jauh. Karena pada akhirnya, rumah adalah tempat berbagi peluh, bukan tempat membuang beban pada bahu yang paling muda.
Bagaimana? Apakah ponsel Anda juga sudah mulai berdering berisi instruksi dari "tuan dan nyonya" di perantauan?
Mungkin sudah saatnya kita berani menjawab bahwa tangan kita sedang memegang buku tugas atau laptop kantor, bukan gagang pel yang mereka perintahkan.
Baca Juga
-
Lagu "Mejikuhibiniu" Sukses Hancurkan Standar Musik Saya Tanpa Ampun
-
Saya Menjual Idealisme Musik Saya Demi Desahan Manis Bertajuk 'Malu-Malu'
-
Saya Menumbalkan Lambung Demi Sesobek Saset Kopi Susu saat Sahur
-
Saya Jarang Mendengarkan Dewa 19 dan SO7 Sejak Bintang 5 Menjarah Otak Saya
-
Sial! Lagu 'So Asu' Naykilla Menjadi Candu yang Menghina Selera Musik Saya
Artikel Terkait
Kolom
-
Mengapa Momen Lebaran Sering Menjadi Ajang Membandingkan Pencapaian?
-
Nostalgia Saat Reunian: Kenapa Kita Hobi Banget Jualan Kenangan Masa Lalu?
-
Menanti Lebaran di Tengah 'Teror' Pertanyaan Klasik yang Bisa Jadi Tekanan
-
Cara Kita Membaca Hari Ini, Menentukan Arah Kebijakan Esok Hari
-
"War Uang Baru" Jelang Lebaran: Tradisi Sensasional atau Cara Berbagi Kebahagiaan?
Terkini
-
Baju Baru yang Lusuh
-
Lelaki Tak Berkepala yang Berjongkok di Rel Kereta Tanpa Palang Pintu
-
Windah Basudara hingga Logan Paul, Kenapa Kartu Pokemon Mahal dan Digemari?
-
Harga Sebuah Percaya: Mengapa Cinta Tak Cukup Hanya Dititipkan dalam Doa?
-
Tanpa Thom Haye di FIFA Series, Timnas Indonesia Unjuk Transformasi Baru?