Sobat yoursay, siapa pun yang pernah mencoba berjalan kaki di kota-kota besar Indonesia pasti pernah mengalami momen yang membuat kita bertanya-tanya, “Kenapa sih jalan kaki di negeri sendiri terasa seperti olahraga ekstrem?”
Kita sering mendengar stigma bahwa orang Indonesia malas berjalan kaki. Tapi sebenarnya, malas itu muncul bukan karena budaya, tapi karena lingkungannya memang tidak bersahabat.
Cobalah berjalan dari satu blok ke blok lain di sebagian besar kota. Trotoarnya mungkin hilang separuh karena dipakai parkir, sisanya bolong, atau malah diokupasi warung dadakan.
Kadang trotoar itu ada, rapi pula, tapi tiba-tiba terputus begitu saja dan memaksa kita turun ke jalan raya. Di titik itu, kita seperti makhluk yang berusaha bertahan hidup di tengah arus kendaraan yang tidak pernah benar-benar peduli kehadiran kita.
Kalau sobat yoursay pernah jalan di Singapura, Tokyo, atau bahkan Kuala Lumpur, pasti terasa betapa berbeda atmosfernya.
Di sana, trotoar adalah sesuatu yang dirancang terlebih dulu sebelum memikirkan mau taruh gedung di mana.
Sedangkan di Indonesia? Trotoar sering jadi afterthought, atau malah terlihat seperti aksesori kota yang bagus di foto tapi tak nyaman dipakai.
Lalu muncul narasi, “Ya makanya, orang Indonesia itu malas jalan kaki.”
Ah, sobat yoursay, ini kalimat favorit yang sering diulang tanpa mikir konteks. Kita seolah-olah disalahkan atas kemalasan yang sebenarnya diproduksi oleh kondisi lingkungan.
Bayangkan kalau berjalan 300 meter saja harus melewati trotoar retak, saluran air terbuka, dan motor parkir. Siapa yang betah?
Sebenarnya kalau kita amati, orang Indonesia tidak anti jalan kaki. Cobalah pergi ke kawasan CFD, area taman kota yang baru dibangun, atau wisata pedestrian-friendly seperti Malioboro, disana ramai luar biasa.
Itu bukti bahwa ketika ruangnya nyaman, manusianya mau jalan. Kita ini bukan bangsa pemalas. Kita hanya bangsa yang lelah berjibaku dengan trotoar yang lebih mirip uji nyali.
Indonesia seakan lebih memilih membangun kota sebagai ruang untuk mobil, bukan manusia. Lebar dua meter untuk trotoar dianggap pemborosan. Tapi menambah dua meter untuk jalur mobil dianggap kemajuan.
Sobat yoursay, sadar nggak sih kalau perilaku orang lebih banyak dibentuk lingkungan daripada kemauan? Kalau kota ramah pejalan kaki, warganya akan lebih sehat, lebih aktif, dan lebih punya interaksi sosial.
Di negara-negara Eropa, jalan kaki dianggap bagian dari gaya hidup, bukan karena mereka lebih rajin dari kita, tapi karena jalannya memang aman, teduh, dan menyenangkan.
Kota yang baik harusnya mengundang orang keluar, bukan mengusirnya kembali ke kendaraan. Tapi di Indonesia, terkadang kita merasa kota justru memaksa warga untuk membeli kendaraan.
Mau ke minimarket dekat rumah saja? Jalannya gelap dan tak ada trotoar. Mau nyebrang? Zebra cross-nya tidak dihormati. Mau mengantar anak sekolah? Bahu jalannya sempit dan trotoarnya dipakai parkir. Maka lahirlah logika, “Daripada ribet, mending naik motor.”
Sobat yoursay, apakah itu salah warganya? Atau salah kotanya?
Indonesia sebenarnya punya harapan. Beberapa area di Jakarta, Bandung, dan Surabaya mulai menghadirkan revitalisasi trotoar yang lebih manusiawi.
Tapi upaya ini belum merata dan sering terjebak estetika, bukan fungsi. Trotoar terlihat instagramable, tapi tetap tidak teduh, tidak terus-menerus terhubung, dan masih sering diserobot kendaraan.
Sobat yoursay, mungkin ini saatnya kita berhenti mengulang mitos bahwa orang Indonesia malas jalan kaki. Mari kita balik pertanyaannya, apakah kotanya sudah mendukung kita untuk berjalan?
Setiap pembangunan kota sejatinya mengirim pesan tentang siapa yang diprioritaskan. Ketika trotoar rapuh dan jalur mobil megah, dan ketika pejalan kaki harus zigzag menghindari motor, kita tahu jelas siapa yang menjadi prioritas .
Padahal pejalan kaki adalah indikator kesehatan kota. Semakin banyak orang berjalan, semakin hidup kotanya. Dan semakin hidup kotanya, semakin sehat pula warganya.
Sebaliknya, kota tanpa trotoar sejatinya sedang membangun masa depan yang sesak, bising, dan semakin tidak manusiawi.
Jadi, sobat yoursay, lain kali jika seseorang mengatakan bahwa orang Indonesia malas jalan kaki, jawab saja, bukan kami yang malas, tapi kotanya yang tak ramah.
Dan kota yang tidak ramah pada manusia, suatu hari nanti, mungkin bisa kehilangan manusianya.
Baca Juga
-
Algojo Algoritma: Saat 11 Juta Peserta BPJS PBI Dicoret Demi Rapikan Data
-
Guru di Bawah Bayang Laporan: Saat Nasihat Dianggap Serangan Personal
-
Macan Tutul di Bandung dan Tragedi Gajah Riau: Siapa yang Sebenarnya Menyerobot Wilayah?
-
Lelah di Balik Seragam: Menyingkap Beban Emosional Guru yang Tersembunyi
-
Radar Sosial yang Lumpuh: Mengapa Negara Gagal Membaca Isyarat Sunyi YBR?
Artikel Terkait
-
Ikut Duduk di Sekolah, Prabowo Minta Papan Interaktif yang Bikin Siswa Semangat Belajar Jangan Rusak
-
Ribuan Buruh Geruduk Balai Kota, Desak UMP DKI 2026 Naik Jadi Rp6 Juta
-
Suara Penumpang Menentukan: Ajang Perdana Penghargaan untuk Operator Bus Tanah Air
-
7 Kota di Dunia yang Penduduknya Kurang dari 100 Orang, Nomor 3 Bikin Melongo
-
Bukan Cuma Jakarta, Ini 10 Kota Paling 'Beracun' di Dunia yang Bikin Sesak Napas
Kolom
-
Dilema Seorang Penulis: Antara Idealisme Bahasa dan Target Pasar
-
Autentisitas dan Anti-Mainstream sebagai Mata Uang di Ekonomi Platform
-
Makanan Organik: Tren Sehat dan Masalah Ketimpangan Akses
-
AI sebagai Rekan atau Ancaman? Adaptasi Skill Anak Muda di Era Otomatisasi
-
Olahraga sebagai Status Sosial: Lari, Padel, dan Komunitas Urban 2026
Terkini
-
5 Spot ala Tiongkok di Jakarta untuk Liburan Imlek
-
Film Whistle: Horor yang Sangat Kreatif, Unik, dan Juga Menghibur
-
Pengisi Suara Ran Detective Conan Hiatus, Nami One Piece Gantikan Sementara
-
Respons Ashanty usai Aurel Hermansyah Diduga Diabaikan Keluarga Halilintar
-
Niat Mandi Suci Sebelum Menjalani Puasa Ramadhan 2026