Sobat Yoursay, belakangan ini muncul sebuah tren yang kian mencemaskan di ruang terbuka kita. Tiap kali gelombang kritik menguat, selalu muncul aksi gelap yang membayangi dari balik layar. Alih-alih membalas dengan adu data atau diskursus gagasan, yang terjadi justru tindakan teror.
Temuan bangkai ayam di selasar rumah, pelemparan telur busuk ke area pribadi, hingga ancaman yang menyasar anggota keluarga bukanlah perbuatan iseng belaka. Hal tersebut adalah peringatan eksplisit agar pihak-pihak kritis berhenti bersuara jika tidak ingin menanggung konsekuensi.
Peristiwa yang dialami aktivis Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik, DJ Donny, serta konten kreator Sherly Annavita membuktikan bahwa kritik kini diperlakukan layaknya ancaman berbahaya.
Mereka bertiga dikenal aktif menyoroti manajemen bencana di wilayah Sumatra. Namun, bukannya mendapatkan jawaban resmi atau debat terbuka, mereka justru dihujani teror simbolis, mulai dari bangkai binatang, telur busuk, hingga serangan bom molotov. Ini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan sebuah gerakan untuk membungkam aspirasi.
Sobat Yoursay, teror seperti ini tidak terjadi secara kebetulan. Greenpeace Indonesia mencatat kalau intimidasi terhadap aktivis, jurnalis, dan warga di media sosial makin sering terjadi. Polanya selalu sama dan waktunya selalu pas saat kritik mereka lagi ramai dibicarakan. Seolah-olah ada kekuatan tertentu yang ingin memberi peringatan bahwa kebebasan berpendapat memiliki risiko yang harus dibayar mahal.
Pernyataan Leonard Simanjuntak, Kepala Greenpeace Indonesia, sangat patut untuk dicatat. Beliau menegaskan bahwa intimidasi tak akan menyurutkan langkah dalam memperjuangkan keadilan lingkungan, HAM, dan prinsip demokrasi.
Meski terdengar berani, kalimat ini sebenarnya terdengar getir. Kalau orang-orang yang berjuang untuk kita saja harus mempertaruhkan nyawa demi bicara, berarti demokrasi kita sedang tidak baik-baik saja.
Pihak Polda Metro Jaya berencana membedah pola teror yang menimpa DJ Donny, Sherly Annavita, dan Iqbal Damanik, walaupun baru satu laporan yang masuk secara formal. Meski terdengar sesuai prosedur, masyarakat punya hak untuk bersikap kritis. Mengapa penanganan serius harus menunggu pola yang utuh? Bukankah satu serangan bom molotov saja seharusnya sudah memicu respons darurat?
Sobat Yoursay, kita kerap mendengar istilah "analisis" dan "penyelidikan" dari pihak berwenang. Kata-kata tersebut memang terdengar objektif, namun dalam situasi teror, waktu sangatlah berharga.
Teror hidup dari rasa takut, dan rasa takut menjalar dengan cepat. Setiap hari yang berlalu tanpa ketegasan hukum memberikan rasa aman bagi pelaku untuk kembali beraksi, sekaligus membuat korban merasa ditinggalkan sendirian.
Satu hal yang sering luput dari perhatian adalah bahwa teror tidak sekadar menyasar personal, tapi juga menyasar pesan yang diperjuangkan orang tersebut.
Saat aktivis lingkungan diteror, yang ingin dihancurkan adalah isu lingkungannya. Saat kreator konten diancam, yang ingin dibunuh adalah kebebasan kita berbicara. Teror merupakan jalan pintas paling malas dalam sebuah perdebatan karena ia tidak menuntut kecerdasan argumen.
Kita pun harus objektif melihat gambaran besarnya. Kritik terhadap tata kelola bencana di Sumatera bersinggungan dengan banyak kepentingan besar, mulai dari kebijakan lingkungan hingga akuntabilitas negara. Dalam konteks ini, suara kritis seharusnya dijadikan pengingat bagi penguasa, bukan justru dianggap musuh.
Hari ini korbannya adalah aktivis dan influencer. Esok bisa saja jurnalis di daerah, dan lusa mungkin warga biasa yang kritis di grup percakapan digital. Jika teror berlangsung tanpa sanksi hukum, ia akan menjelma menjadi instrumen baru dalam kancah politik dan kekuasaan.
Lalu, apakah kita akan melihat ini sebagai deretan kasus kriminal biasa, atau mengakuinya sebagai anomali demokrasi yang besar? Dan apakah negara akan hadir menjamin keselamatan warganya dalam berpendapat, atau hanya sekadar mendata laporan sambil menanti korban berikutnya berjatuhan?
Jawabannya, sobat Yoursay, ada pada posisi yang kita ambil. Memilih diam, atau tetap berani bersuara.
Baca Juga
-
Mengapa PTN Membatasi Tahun Lulusan? Menyoal Keadilan Pendidikan Bagi Pejuang Gap Year
-
Lapor Kekerasan Seksual Malah Dikasih Tasbih: Sejak Kapan UPTD PPA Jadi Majelis Taklim?
-
Ramadan 2026: Mencari Makna Kesederhanaan Saat Tekanan Ekonomi Menghimpit
-
Memaafkan Sebelum Berpuasa: Tradisi atau Kebutuhan?
-
Algojo Algoritma: Saat 11 Juta Peserta BPJS PBI Dicoret Demi Rapikan Data
Artikel Terkait
-
Polisi Selidiki Teror ke DJ Donny, dari Kiriman Bangkai Ayam hingga Bom Molotov
-
Agar Negara Tak Dicap Merestui Pembungkaman Kritik, Teror ke DJ Donny dan Aktivis Lain Harus Diusut
-
Iwakum Kecam Teror terhadap Pegiat Medsos dan Aktivis: Bentuk Pembungkaman Kritik
-
Diteror Bom Molotov usai Kritik Pemerintah, Ini 7 Fakta Serangan di Rumah DJ Donny
-
Figur Publik Kritis Diteror, Koalisi Masyarakat Sipil Serukan Soliditas: Warga Jaga Warga!
Kolom
-
Riuh Ibadah di Ramadan: Penuh Suara, Tapi Seberapa Dalam Maknanya?
-
Dari Buku ke Scroll: Neuroplastisitas dan Krisis Fokus Manusia Modern
-
Kedewasaan Berpuasa: Menahan Diri Bukan Mengontrol Orang Lain
-
Habibie dan Etika Politik yang Hilang:Ketika Negara Menjadi Utang Politik
-
Mindful Detachment: Belajar Ketenangan Batin di Tengah Hidup yang Sibuk
Terkini
-
FIFA Series 2026: Lawan St. Kitts and Nevis, Harusnya Bukan Masalah Besar bagi Timnas Indonesia
-
Bye Bibir Kering! 5 Lip Balm Murah yang Cocok Dipakai Saat Puasa
-
Bagaimana SMKN 1 Sukanagara Mengisi Ramadan dengan Pesantren Ekologi?
-
Puasa Pertama Fahri dan Makna Kejujuran
-
Sparks of Tomorrow Ungkap 4 Pemeran Baru lewat Video Perkenalan Karakter