Menjelang Natal, pola yang sama hampir selalu terulang. Pusat perbelanjaan mulai ramai, notifikasi promo bermunculan, dan rencana makan bersama jadi topik sehari-hari.
Tidak terasa berlebihan, bahkan terasa wajar.
Natal memang identik dengan berbagi dan berkumpul. Tapi di balik itu, ada kebiasaan lain yang ikut dinormalisasi, yakni belanja lebih banyak dari biasanya.
Bagi banyak orang, Natal bukan lagi sekadar soal hadir dan berkumpul, tapi juga soal apa yang dibawa dan ditampilkan.
Kado menjadi bagian penting, bukan hanya sebagai bentuk perhatian, tetapi juga penanda niat.
Ada perasaan kurang enak kalau datang tanpa bingkisan, meski sederhana.
Standar ini terbentuk pelan-pelan, tanpa paksaan, tapi terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini pernah dibahas oleh pemikir sosial Jean Baudrillard.
Ia melihat bahwa dalam masyarakat modern, orang sering mengonsumsi bukan karena kebutuhan, melainkan karena makna simbolik.
Barang yang dibeli membawa pesan tertentu tentang kepedulian, status, atau citra diri.
Konsumsi tidak lagi semata soal fungsi, tetapi tentang bagaimana seseorang ingin dilihat oleh orang lain.
Dalam konteks Natal, pemikiran ini terasa relevan.
Kado, dekorasi, hingga perayaan tertentu sering kali menjadi simbol bahwa Natal dirayakan “dengan layak”.
Tanpa sadar, muncul ukuran tidak tertulis tentang bagaimana Natal seharusnya dijalani.
Bukan berarti semua orang ingin berlebihan, tapi ada dorongan sosial untuk tidak terlihat kurang atau berbeda.
Masalahnya, normalisasi konsumerisme ini tidak selalu berjalan seiring dengan kondisi semua orang.
Akhir tahun sering kali justru menjadi periode pengeluaran tinggi seperti kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan, atau persiapan tahun baru.
Namun, tekanan untuk tetap merayakan Natal dengan standar tertentu membuat sebagian orang merasa harus menyesuaikan diri, meski kemampuan terbatas.
Konsumerisme Natal juga kerap dibungkus sebagai tradisi.
Padahal, tradisi yang terus berubah seiring logika pasar layak dipertanyakan.
Apalagi jika setelah perayaan usai, yang tersisa justru beban finansial atau barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Membicarakan konsumerisme Natal bukan berarti menolak perayaan atau menghakimi cara orang merayakan.
Setiap orang punya pilihan dan caranya masing-masing.
Namun, penting untuk menyadari bahwa Natal tidak harus selalu identik dengan pengeluaran besar.
Kehangatan tidak selalu datang dari harga kado, dan kebersamaan tidak bergantung pada seberapa meriah perayaannya.
Mungkin, menyongsong Natal juga bisa menjadi momen untuk lebih sadar, mana yang benar-benar ingin dilakukan, dan mana yang selama ini dijalani hanya karena terasa normal.
Baca Juga
-
Dari Lumpur Pantai Baros: Mengubah Aksi Tanam Mangrove Jadi Seni dan Refleksi Diri
-
Lebih dari Sekadar Angkat Senjata, Ini Cara Bela Negara di Kehidupan Sehari-hari
-
Restitusi untuk Korban Tindak Pidana Masih Sulit Direalisasikan
-
Dirut ANTAM dari Eks Tim Mawar, Negara Tutup Mata soal Rekam Jejak HAM
-
Rp17 Miliar Terkumpul, Musisi Indonesia Peduli bagi Korban Bencana
Artikel Terkait
-
Komunitas Forum Karyawan Lokal Kristen NHM Rayakan pra-Natal Bersama Masyarakat Desa Kao
-
25 Pantun Natal dan Tahun Baru 2026, Gaya Baru Beri Ucapan Anti Mainstream
-
Gubernur Bobby Nasution Jamin Stok Pangan Aman Jelang Nataru
-
24 Desember 2025 Apakah Libur? Simak Tanggal Merah dan Long Weekend Natal
-
Lirik Lagu Malam Kudus dan Chordnya untuk Mengiringi Malam Natal
Kolom
-
Lelah di Balik Seragam: Menyingkap Beban Emosional Guru yang Tersembunyi
-
FOMO di Kalangan Pelajar: Ancaman Tren Viral Meredupkan Budaya Literasi
-
Radar Sosial yang Lumpuh: Mengapa Negara Gagal Membaca Isyarat Sunyi YBR?
-
Di Balik Kekuasaan: Cara Psikologi Sosial Membentuk Wajah Politik Indonesia
-
Kesehatan Mental Generasi Muda: Antara Tantangan dan Layanan Pemerintah
Terkini
-
Sayap Kecil yang Menantang Badai
-
Tegas Lawan Pelecehan Daring, Agensi Hyeri Pastikan Proses Hukum Berjalan
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
-
4 Moisturizer Lokal Licorice untuk Wajah Cerah dan Lembap Sepanjang Hari
-
5 Brand Parfum Lokal Anti Mainstream, Wajib Masuk Koleksi!