Pantai Baros, Yogyakarta, menjadi ruang belajar pada 20 Desember melalui kegiatan Mangrove Sketch and Write yang digelar Suara Hijau bersama Suara.com.
Sekitar 25 peserta terlibat dalam aktivitas menanam mangrove di kawasan pesisir ini. Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan proses menanam, tetapi juga pengalaman langsung berhadapan dengan kondisi alam yang menuntut kesiapan fisik, kesabaran, dan ketelitian sejak pagi hari.
Penanaman mangrove dilakukan di dua area dengan karakter yang berbeda. Di darat, proses menanam membuat sedikit lega karena ada kepastian.
Lubang tanamnya jelas terlihat, tanahnya stabil buat dipijak, dan bibit bisa ditancapkan dengan yakin kalau akarnya sudah masuk dalam. Meski melelahkan, hasilnya langsung kelihatan. Setiap bibit yang berdiri jadi tanda bahwa usaha tidak sia-sia.
Berbeda dengan area perairan. Air laut yang menutupi permukaan tanah, membuat lubang tanamnya tidak terlihat sama sekali. Harus meraba-raba, menebak-nebak, dan menjaga keseimbangan badan agar tidak jatuh.
Bahkan setelah bibit ditanam, tetep tidak ada jaminan kalau mangrove-nya kuat menancap. Keraguan terus muncul: apakah akar sudah tertanam baik, atau cuma tertahan lumpur sementara dan berisiko roboh diterjang arus?
Kondisi alam membuat tantangannya nambah. Meski masih pagi, matahari di pesisir ini super terik. Pantulan cahaya dari air laut membuat panasnya menyengat dan cepat lelah. Tidak bisa buru-buru; kesalahan kecil bisa membuat bibit gagal tumbuh dan upaya sia-sia.
Pengalaman menanam mangrove di Pantai Baros ini menunjukkan kalau kerja lingkungan tidak selalu punya kepastian atau hasil instan. Mangrove membutuhkan waktu sekitar 5 tahun untuk bisa tumbuh.
Dan lewat akar-akar yang tumbuh tak terlihat, dapat menjaga pesisir dari abrasi dan keseimbangan ekosistem secara perlahan. Prosesnya butuh sabar, teliti, dan konsistensi yang sering kali luput dari perhatian.
Kegiatan Mangrove Sketch and Write ini jadi pengingat kalau peduli lingkungan bukan cuma soal datang atau foto-foto. Itu proses panjang yang melelahkan, di bawah terik matahari dan di tengah ketidakpastian.
Kayak mangrove yang ditanam hari itu, upaya menjaga pesisir cuma bisa bertahan kalau dijalani sebagai komitmen jangka panjang, bukan sekadar aktivitas sesaat.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Di Bawah Matahari yang Tak Berbelas Kasihan: Kegigihan Petani Garam Rembang
-
Tekad Nelayan Pancer, Banyuwangi: Bangkit Setelah Diterpa Gelombang Tsunami
-
Dari Pesisir untuk Warga: Aksi Tanam Mangrove Suara Hijau dan Sketch and Write
-
Mangrove Sketch and Write, Merawat Pesisir Baros Lewat Aksi dan Karya
-
Saat Sketsa dan Tulisan Berubah Jadi Aksi Menjaga Mangrove di Pantai Baros
Kolom
-
Harga Emas Turun Lagi, Harus Panik atau Santai Saja?
-
Standar Sosial dan Keterbatasan: Benarkah Uang Membatasi Cara Kita Bahagia?
-
Konten 'Back to Reality' di Media Sosial dan Narasi Kolektif Pasca Lebaran
-
Drama Sekolah Daring April 2026: Kebijakan Bijak atau Sekadar Tes Ombak?
-
Paradoks Wisata Libur Lebaran: Berangkat Cari Ketenangan, Pulang Bawa Pegal Linu Sekujur Badan
Terkini
-
Gaun Pengantin di Sidang Cerai: Makna Mengejutkan di Balik Pilihan Wardatina Mawa
-
WA di Pergelangan Tangan: Apakah Fitur Baru Garmin Ini Akan Mengubah Cara Kita Berkomunikasi?
-
Bye-Bye Kemerahan! 4 Moisturizer Gel Allantoin di Bawah 50 Ribu untuk Kulit Berminyak
-
Resmi Diperkenalkan! Inilah Sosok Maple, Zavu, dan Clutch yang Akan Meriahkan Piala Dunia 2026
-
Kisah Jessica dan Yusuf yang Awkward di Film Taaruf Enak Kali Ya?