Saat membahas patriarki, banyak orang langsung membayangkan kantor, politik, atau ruang publik. Padahal, akar patriarki sering kali tumbuh paling kuat justru dari rumah sendiri di mana nilai dan peran pertama kali dikenalkan.
Meski mengakar kuat, sebenarnya budaya patriarki sendiri mulai banyak dipertanyakan dan dipertentangkan relevansinya. Bahkan banyak anak muda semakin berani speak up untuk memberikan perlawanan.
Bagi Gen Z, melawan patriarki tidak selalu berarti turun ke jalan. Namun, teradang perlawanan paling berat justru terjadi di ruang makan, ruang keluarga, dan obrolan harian bersama orang terdekat.
Patriarki yang Terlihat “Normal” di Rumah
Dalam sebagian besar lingkup keluarga, patriarki hadir bukan dalam bentuk kekerasan, tapi kebiasaan yang diwariskan. Contohnya, didikan anak perempuan agar lebih “nurut” dan mengalah hingga beban pekerjaan rumah yang tidak adil.
Banyak pekerjaan rumah dianggap otomatis jadi tanggung jawab perempuan, sementara anak laki-laki jarang diminta mengurus emosi atau pekerjaan domestik. Di sisi lain, perempuan masih dinilai dari sikap, pakaian, dan status relasinya.
Karena terjadi sejak kecil, pola ini pun dianggap wajar. Bahkan ketika sudah terasa tidak adil, kita sendiri jadi ragu untuk menyebutnya sebagai masalah, termasuk untuk mengubah mindset yang terlanjur turun menurun.
Gen Z Mulai Bertanya, Bukan Sekadar Menurut
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh di era informasi yang terbiasa melihat diskusi soal kesetaraan, kesehatan mental, dan hak individu di media sosial. Akibatnya, banyak dari kita mulai bertanya, bukan sekadar menurut.
Pertanyaan seperti “Kenapa yang bersih-bersih selalu perempuan?”, “Kenapa laki-laki tidak diajarkan mengurus rumah?”, atau “Kenapa pilihan hidup perempuan selalu dipertanyakan?” mulai semakin berisik di kepala meminta diberi keadilan.
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tapi di dalam keluarga, bertanya saja sudah dianggap melawan. Pada akhirnya, cara terbaik melawan patriarki justru tanpa konfrontasi.
Melawan Patriarki Tidak Selalu dengan Konfrontasi
Banyak Gen Z sadar bahwa melawan patriarki di rumah bukan hal mudah. Ada relasi kuasa, budaya hormat pada orang tua, dan rasa tidak enak yang membuat kita memilih cara yang lebih halus.
Perlawanan kecil yang sering dilakukan Gen Z terasa sederhana, seperti membagi pekerjaan rumah tanpa label gender, mengajarkan adik laki-laki peka dan bertanggung jawab, dan menolak komentar seksis dengan tenang.
Gen Z pun mulai memilih hidup yang berbeda dari ekspektasi tradisional. Ini bukan bentuk pembangkangan, melainkan proses negosiasi nilai yang sudah mengakar dan ingin diubah ke arah kesetaraan.
Patriarki: Beban Emosional Perempuan, Laki-Laki Juga Dirugikan
Salah satu dampak patriarki di rumah bukan hanya dirasakan perempuan sebagai beban, tapi sebenarnya juga merugikan laki-laki. Bagi perempuan, ada beban emosional yang tidak terlihat sebagai dampak harapan yang tidak adil.
Perempuan sering diharapkan mengerti tanpa dijelaskan, sabar tanpa batas, dan kuat tanpa mengeluh. Saat lelah, perempuan dianggap “baper” dan saat bersuara, dibilang “kurang ajar”.
Pola ini membuat banyak perempuan Gen Z tumbuh dengan rasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri. padahal perempuan juga berhak capek, marah, dan menentukan hidupnya sendiri.
Sementara laki-laki dalam budaya patriarki tumbuh dengan standar maskulinitas sempit, seperti tidak boleh menangis, harus selalu kuat, dan tidak boleh terlihat lemah. Akibatnya, ada emosi dipendam, masalah diselesaikan sendiri, dan bantuan dianggap kelemahan.
Perlawanan Sunyi Budaya Patriarki dari Rumah Sendiri
Perubahan besar tidak selalu datang dari sistem, tapi dari kebiasaan sehari-hari. Rumah harus bisa menjadi tempat belajar ulang tentang pembagian peran yang adil, komunikasi setara, dan menghargai pilihan hidup masing-masing.
Kita mungkin tidak bisa langsung mengubah orang tua, tapi bisa memutus rantai yang tidak sehat agar tidak diteruskan ke generasi berikutnya. Langkah ini merupakan bentuk perlawanan sunyi atas budaya patriarki demi perubahan yang lebih baik.
Namun, upaya ini butuh konsistensi sebab patriarki tidak runtuh dalam sehari. Meski begitu, Gen Z tidak harus sempurna dalam melawannya. Cukup dengan sadar, konsisten, dan berani bertanya.
Karena perubahan paling bermakna sering dimulai bukan dari tempat yang paling bising, tapi dari rumah sendiri, tempat kita belajar tentang relasi, peran, dan rasa adil sejak awal.
Baca Juga
-
Career Minimalism ala Gen Z: Mengenal Tren Kerja yang Anti Burnout
-
Malaysia Open 2026 Day 2: Jadwal Laga 8 Wakil Indonesia, MD Perang Saudara
-
Alasan Emosional yang Bikin Tiap Zodiak Tergoda Buat Selingkuh: Aries Impulsif, Pisces Mudah Baper?
-
Kekerasan dan Ruang Aman bagi Perempuan: Isu Penting yang Sering Diabaikan
-
5 Hobi yang Diam-diam Bikin Kamu Naik Level, Investasi Hidup yang Seru!
Artikel Terkait
-
Mendagri Dorong Percepatan Pendataan Rumah Rusak Pascabencana Sumatra
-
Krisis Hunian Generasi Z dan Harapan Punya Rumah yang Sulit Tergapai
-
Idap Asma, Diding Boneng Ungkap Dampak Ekstrem Syuting Film Horor
-
Tren Childfree dan Anti-Nikah: Apa yang Sebenarnya Dicari Gen Z?
-
Ulasan Buku Zona Produktif Ibu Rumah Tangga: Berdaya Meski di Rumah Saja
Kolom
-
Angka Fantastis, Bukti Minim: Layakkah Nadiem Divonis Korupsi?
-
Dilema Penulis Zaman Now: Menulis Buku atau Menjadi Konten Kreator?
-
Sejak Kapan Gaji Minimum Jadi Benefit? Potret Buram Dunia Kerja Kita
-
Saat Bertahan Sendiri Dijadikan Standar Kedewasaan: Apa Arti Mandiri?
-
Banjir yang Berulang: Peringatan Sistemik yang Tak Kunjung Didengar