Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi ibu dan anak (Gemini AI/Nano Banana)
e. kusuma .n

Ramadan selalu datang dengan cara yang sama—pelan-pelan seperti mengetuk pintu hati yang lama tak dibuka. Tahun ini, bagiku, ia datang bersama aroma kayu manis dan suara sendok beradu dengan panci dari dapur kecil rumah Ibu.

Aku pulang setelah hampir dua tahun merantau. Kota telah mengubah banyak hal dalam diriku—cara bicara, cara berpikir, bahkan cara memandang waktu. Tapi rumah ini tetap sama. Dindingnya masih berwarna hijau pucat, jam tua di ruang tamu masih berdetak terlalu keras, dan Ibu masih bangun paling awal untuk menyiapkan sahur.

***

Malam pertama tarawih, aku berdiri di saf belakang di musala kampung. Suara imam bergetar membaca ayat-ayat panjang, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa kecil. Bukan kecil karena tak berarti, melainkan kecil karena menyadari betapa luasnya ampunan Tuhan dibandingkan dengan segala kesalahan yang kupanggul diam-diam.

Sebenarnya, aku pulang bukan hanya untuk Ramadan. Aku pulang karena lelah.

Lelah berpura-pura kuat di kota. Lelah menjawab pertanyaan tentang karier yang tak kunjung stabil. Lelah membandingkan hidupku dengan potongan-potongan kesuksesan orang lain yang berseliweran di layar ponsel. Ramadan terasa seperti alasan paling sopan untuk menghilang sejenak.

Ibu tak banyak bertanya. Ia hanya menyodorkan semangkuk kolak pisang saat berbuka dan berkata, “Makan yang manis-manis dulu, biar hatinya ikut manis.”

Aku tertawa kecil, tapi kalimat itu tinggal lebih lama dari yang kukira.

Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme sederhana—sahur, bekerja sebisanya dari kamar depan, tidur sejenak, lalu menunggu azan magrib dengan membantu Ibu menyiapkan gorengan. Di sela-sela itu, aku mulai melakukan hal yang lama kutinggalkan—membaca Al-Qur’an selepas subuh.

Awalnya terasa kaku. Lidahku terbata, pikiranku melompat ke mana-mana. Tapi setiap kali kubuka halaman baru, ada rasa seperti menemukan kembali bagian diriku yang pernah hilang. Ramadan seolah bukan hanya tentang menahan lapar, melainkan tentang menahan diri untuk tidak terus-menerus lari dari kenyataan.

***

Suatu sore, listrik padam menjelang berbuka. Rumah menjadi gelap, hanya diterangi cahaya jingga dari jendela. Aku dan Ibu duduk di teras, menunggu azan tanpa kipas angin, tanpa televisi, tanpa notifikasi.

“Dulu waktu kamu kecil,” kata Ibu tiba-tiba, “kamu paling semangat ngabuburit. Katanya mau cari pahala sebanyak-banyaknya.”

Aku tersenyum. Aku ingat betul bagaimana dulu aku berlari ke musala, memegang uang receh untuk dimasukkan ke kotak amal, merasa bangga karena bisa berbagi meski sedikit.

“Kapan terakhir kamu merasa cukup?” tanya Ibu pelan.

Pertanyaan itu lebih tajam dari yang terlihat. Aku terdiam. Di kota, cukup selalu terasa seperti garis yang terus mundur. Gaji harus lebih besar, pencapaian harus lebih tinggi, hidup harus lebih terlihat. Aku lupa bagaimana rasanya bersyukur tanpa syarat.

***

Azan magrib berkumandang tak lama setelah itu. Kami berbuka hanya dengan air putih dan kurma karena gorengan belum sempat matang. Anehnya, aku merasa lebih lega daripada saat berbuka di restoran mahal bersama rekan kerja.

Malam itu, setelah tarawih, aku membuka ponsel dan berniat mengunggah foto suasana Ramadan di kampung. Tapi jari-jariku berhenti. Untuk pertama kalinya, aku tak ingin membagikan apa pun. Aku ingin menyimpan momen ini sebagai rahasia kecil antara aku, Ibu, dan Tuhan.

***

Hari ke-27 Ramadan, aku ikut Ibu membagikan paket sembako sederhana untuk beberapa tetangga lansia. Tak ada dokumentasi, tak ada unggahan. Hanya senyum tulus dan ucapan terima kasih yang membuat dadaku hangat. Di sana, di gang sempit yang dulu sering kulewati tanpa peduli, aku menemukan sesuatu yang lama kucari: rasa berarti tanpa perlu terlihat.

Ramadan hampir usai ketika aku menyadari satu hal penting—aku mungkin belum punya jawaban untuk masa depanku. Karierku masih belum pasti. Tabunganku belum seberapa. Tapi hatiku tak lagi seramai dulu.

Pada malam takbiran, aku membantu Ibu memasang lampu kecil di teras. Cahaya-cahaya itu berkedip sederhana, jauh dari gemerlap kota. Namun justru di situlah aku merasa utuh.

Ramadan tahun ini tidak memberiku keajaiban besar. Ia hanya memberiku sepotong kisah tentang pulang, tentang cukup, dan tentang belajar berdamai dengan diri sendiri.

Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.