Dalam beberapa tahun terakhir, wacana childfree dan sikap anti-nikah semakin sering muncul di ruang publik. Media sosial dipenuhi diskusi tentang memilih tidak memiliki anak, menunda atau bahkan menolak pernikahan.
Pilihan ini kerap memicu perdebatan. Ada yang menilainya sebagai bentuk kebebasan, ada pula yang menganggapnya sebagai krisis nilai keluarga. Namun, fenomena ini memberikan gambaran bahwa banyak anak muda merasa ragu terhadap institusi yang dulu dianggap sebagai tujuan hidup utama.
Fenomena ini tidak bisa dipahami hanya sebagai tren sesaat atau sekadar pengaruh gaya hidup modern. Di baliknya, terdapat akar psikologis yang lebih dalam, berkaitan dengan pengalaman relasional, kecemasan
akan masa depan, serta cara generasi muda memaknai kebahagiaan dan keamanan emosional. Keputusan untuk tidak menikah atau tidak memiliki anak sering kali bukan penolakan terhadap cinta atau keluarga, melainkan respons terhadap realitas psikologis dan sosial yang mereka hadapi.
Ketidakamanan Emosional dan Luka Relasional
Bagi sebagian anak muda, pernikahan tidak lagi dipersepsikan sebagai ruang aman, melainkan sumber potensi luka. Pengalaman tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh konflik, komunikasi yang minim, atau relasi orang tua yang tidak sehat meninggalkan jejak psikologis yang kuat.
Ketika pernikahan yang disaksikan sejak kecil identik dengan pertengkaran, ketidakadilan peran, atau penderitaan emosional, wajar jika institusi tersebut dipandang dengan penuh kecurigaan.
Secara psikologis, ini berkaitan dengan pembentukan internal working model tentang relasi. Anak yang tidak melihat contoh keterikatan yang aman cenderung mengembangkan ketakutan terhadap komitmen jangka panjang.
Sikap anti-nikah atau childfree kemudian menjadi bentuk perlindungan diri. Sebuah cara untuk menghindari pengulangan luka yang sama, meskipun dengan konsekuensi kesepian yang juga tidak kecil.
Beban Ekonomi dan Kecemasan Masa Depan
Selain faktor emosional, realitas ekonomi turut memainkan peran penting. Biaya hidup yang terus meningkat, ketidakpastian pekerjaan, serta tekanan untuk sukses di usia muda menciptakan kecemasan kronis.
Bagi banyak anak muda, membayangkan pernikahan dan memiliki anak berarti membayangkan tanggung jawab finansial yang terasa terlalu berat dan menakutkan.
Dalam kondisi ini, pilihan childfree sering dipersepsikan sebagai upaya mempertahankan kontrol atas hidup. Anak muda tidak sedang menolak keluarga, tetapi mencari rasa aman di tengah dunia yang terasa tidak stabil.
Secara psikologis, kontrol menjadi kebutuhan penting ketika individu merasa masa depan sulit diprediksi. Menunda atau menolak pernikahan dan anak menjadi strategi untuk mengurangi kecemasan, meskipun tidak selalu menyelesaikan akar ketakutannya.
Pencarian Makna di Luar Skrip Sosial Lama
Generasi muda hidup di era di mana skrip kehidupan tidak lagi tunggal. Jika dulu menikah dan memiliki anak dianggap sebagai puncak kedewasaan, kini makna hidup dicari melalui berbagai jalur.
Mulai dari karier, relasi non-tradisional, pengembangan diri, hingga kontribusi sosial. Tren childfree dan anti-nikah dapat dilihat sebagai bentuk negosiasi ulang terhadap makna kebahagiaan dan keberhasilan.
Dari sudut pandang psikologi identitas, ini adalah proses eksplorasi yang wajar. Anak muda berusaha membangun identitas yang lebih autentik, tidak semata-mata mengikuti ekspektasi sosial.
Namun, eksplorasi ini juga membawa tantangan. Ketika pilihan hidup lebih beragam, individu dituntut untuk benar-benar mengenal dirinya. Apakah keputusan tersebut lahir dari kesadaran diri, atau justru dari ketakutan dan luka yang belum tersadari?
Pada akhirnya, tren childfree dan anti-nikah bukan sekadar soal menolak pernikahan atau anak. Melainkan adalah cermin dari pencarian rasa aman, makna hidup, dan relasi yang tidak melukai. A
lih-alih buru-buru menghakimi, mungkin yang lebih dibutuhkan adalah ruang dialog yang empatik. Ruang untuk memahami bahwa di balik pilihan hidup anak muda, sering kali tersembunyi kebutuhan psikologis yang ingin dipenuhi. Dengan pemahaman ini, diskusi tentang keluarga, pernikahan, dan masa depan dapat menjadi lebih bermakna.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Saat Bertahan Sendiri Dijadikan Standar Kedewasaan: Apa Arti Mandiri?
-
Banjir yang Berulang: Peringatan Sistemik yang Tak Kunjung Didengar
-
Saat Kesedihan Tak Diakui: Dampak Bahaya Memendam Duka Bagi Kesehatan Jiwa
-
Budaya Asal Bapak Senang: Konflik Aversi yang Jadi Lingkaran Setan Birokrasi
-
Potret Kemunduran Demokrasi dan Menguatnya Corak Otoritarian di Indonesia
Artikel Terkait
-
Stoikisme: Filosofi Kuno yang Masih Relevan di Tengah Tekanan Hidup Modern
-
Mewah dan Fungsional, Menilik Detail Isi Bridesmaid Kit Ranty Maria
-
Lelah Geser Kanan-Kiri? Gen Z Jakarta Kembali ke Biro Jodoh 'CV' di Mal
-
Sering Cemas Hari Senin? Inilah Mengapa Gen Z Rentan Kena Monday Blues
-
Bahasa Baru Politik Gen Z: Menilik Fenomena Viralitas Meme dan Satir di Media Sosial
Kolom
-
Baca Buku Bisa Jadi Cara Ampuh Healing Inner Child, Gen Z Wajib Coba!
-
Melawan Budaya Patriarki dari Rumah Sendiri: Perlawanan Sunyi ala Gen Z
-
Angka Fantastis, Bukti Minim: Layakkah Nadiem Divonis Korupsi?
-
Dilema Penulis Zaman Now: Menulis Buku atau Menjadi Konten Kreator?
-
Sejak Kapan Gaji Minimum Jadi Benefit? Potret Buram Dunia Kerja Kita
Terkini
-
4 Body Serum Anti-Aging Harga Rp40 Ribuan, Rahasia Kulit Kencang dan Cerah
-
Gema Langkah di Lorong yang Tak Pernah Ada
-
Kisah Transformasi Tas Anyaman Jali, Produk UMKM yang Tembus Pasar Paris dan Tokyo
-
Bina Marga Percepat Pemulihan Akses Jalan di Aceh Pascabencana
-
Jay Idzes dan Beban Ekspektasi: Menguji Kedewasaan Suporter Indonesia