Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Ilustrasi Buka Puasa dengan Buah Kematian (Nano Banana/Gemini AI)
Sherly Azizah

"Jangan sekarang, Tuhan. Ini malam pertama Ramadan."

Tanganku gemetar hebat saat memasangkan selang oksigen ke mulut Ibu yang sudah tak mampu lagi mengucap kalimat thayyibah. Di luar sana, langit Kediri menyala merah oleh kembang api Imlek, dan dari pengeras suara radio rumah sakit, terdengar lagu-lagu cinta Valentine yang memuakkan. Dunia sedang berpesta, sementara aku sedang menawar nyawa pada malaikat maut.

Aku, seorang dokter residen yang sedang bertugas, harus menghadapi kenyataan paling pahit: Pasien kritis di ranjang nomor 4 adalah ibuku sendiri.

"Dok, stok oksigen di gudang menipis karena keterlambatan pengiriman paket libur panjang Imlek," lapor perawat padaku. Suaranya terdengar seperti vonis mati.

Tahun 2026, kemacetan karena tumpukan hari raya membuat distribusi medis lumpuh. Di satu sisi, orang-orang berebut kurma untuk berbuka, di sisi lain, ibuku berebut satu liter oksigen untuk tetap hidup.

Pukul 18.02. Azan Magrib berkumandang.

Aku masih memakai baju hazmat yang gerah. Perutku melilit, lapar yang seharusnya menjadi ibadah kini terasa seperti siksaan. Aku punya satu butir kurma di saku. Namun, tepat saat aku hendak memasukkannya ke mulut, pintu ICU didorong kasar.

Seorang pria Tionghoa masuk sambil menggendong anaknya yang membiru. "Dokter, tolong! Anak saya tersedak mainan cokelat Valentine-nya!"

Aku terpaku. Hanya ada satu ventilator yang tersisa. Hanya ada satu tabung oksigen cadangan yang tersisa. Dan itu sedang terpasang di tubuh ibuku.

"Dokter, cepat!" teriak pria itu dengan air mata yang membasah di atas baju merah Imleknya.

Inilah puncak dari segala ujian. Di tahun yang katanya penuh toleransi ini, Tuhan sedang memintaku mempraktikkannya secara ekstrem. Jika aku menyelamatkan ibuku, anak itu mati. Jika aku menolong anak itu, ibuku akan pergi sebelum sempat mencicipi kurma pertamanya tahun ini.

"Ibu..." bisikku di telinga Ibu yang terpejam. "Ibu selalu bilang, Ramadan itu tentang memberi yang paling kita cintai, kan?"

Air mata jatuh dari sudut mata Ibu yang tertutup. Beliau seolah mendengar. Jemarinya yang lemah bergerak, menyentuh tanganku, lalu perlahan ia melepaskan genggamannya. Itu adalah sebuah izin. Sebuah ikhlas yang menyayat nadi.

Dengan tangan yang mati rasa, aku melepas ventilator dari wajah ibuku.

"Dok! Apa yang Dokter lakukan?!" perawat berteriak histeris.

Aku tidak menjawab. Aku memasangkan alat itu ke leher anak kecil tadi. Aku melakukan resusitasi dengan tenaga sisa. Satu menit. Dua menit. Anak itu terbatuk, benda kecil itu keluar, dan napasnya kembali berhembus. Ayahnya bersimpuh di lantai, merapal doa dalam bahasanya yang tidak kupahami, namun syukurnya menembus langit yang sama dengan azan yang baru saja usai.

Aku berbalik ke ranjang nomor 4. Monitor jantung di sana sudah menunjukkan garis lurus yang dingin. Tiiiiiiiiiit.

Ibu pergi. Tepat saat dunia merayakan kasih sayang, aku melepaskan kasih sayang terbesarku demi nyawa asing yang tak kukenal.

Pria Tionghoa itu mendekatiku setelah menyadari apa yang terjadi. Ia melihat wajah Ibu yang tenang, lalu melihat jas dokterku yang berlumuran air mata. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya: sebuah cokelat Valentine kecil dan sebuah jeruk mandarin.

"Ini... ini tidak berharga dibanding apa yang Dokter berikan," suaranya parau.

Aku mengambil jeruk itu. Dengan tangan gemetar, aku mengupasnya. Aromanya yang segar bercampur dengan bau obat-obatan rumah sakit yang amis. Itulah menu buka puasaku. Bukan kurma, melainkan buah dari tangan orang yang baru saja kehilangan orang tuanya demi anaknya.

"Pak," kataku sambil menelan bulir jeruk yang terasa seperti duri di tenggorokan. "Tolong jangan beri tahu anak Anda bahwa dia hidup karena ada seorang ibu yang memilih untuk berhenti bernapas."

Namun, saat aku hendak menutup wajah Ibu dengan kain putih, aku menemukan sebuah rahasia kecil di bawah bantalnya. Sebuah amplop merah (angpao) yang ternyata disiapkan Ibu untukku sejak sebulan lalu.

Isinya bukan uang. Melainkan secarik kertas bertuliskan: "Nak, Ibu sengaja memesan tempat di Ramadan tahun ini untuk pulang. Jangan menangis. Ibu bangga, anak Ibu bukan hanya dokter bagi manusia, tapi dokter bagi kemanusiaan. Selamat berbuka puasa di surga yang berbeda, Nak."

Di bawah surat itu, ada setangkai bunga mawar plastik dari toko cokelat Valentine yang entah bagaimana bisa Ibu dapatkan.

Malam itu, di bawah langit Kediri tahun 2026, yang masih riuh dengan petasan dan lagu cinta, aku bersujud di samping jasad Ibu. Aku tidak merasakan lapar lagi. Perutku penuh dengan sesak, tapi jiwaku mendadak kosong.

Saat aku keluar dari ruang ICU, aku melihat pemandangan yang takkan pernah kulupakan. Pria Tionghoa tadi, bersama istrinya yang memakai salib di leher, sedang berdiri menghadap kiblat di musala rumah sakit. Mereka tidak salat, tapi mereka diam membisu dengan kepala tertunduk, menjaga salat tarawih para perawat agar tetap khusyuk.

Toleransi tahun 2026 ternyata bukan tentang merayakan semua hari raya, tapi tentang kesediaan untuk saling menanggung luka yang paling dalam.

Aku berjalan pulang, membawa mawar plastik itu. Namun, tepat di gerbang rumah sakit, seseorang memanggil namaku. Seseorang yang wajahnya sangat mirip dengan anak kecil yang kuselamatkan tadi, tapi dia versi dewasa.

"Dokter Satria? Saya dari masa depan. Saya hanya ingin bilang... pengorbanan malam ini mengubah dunia."

Aku mengerjap. Orang itu hilang di balik kabut asap kembang api. Aku terpaku. Siapa dia? Dan kenapa mawar plastik di tanganku tiba-tiba berubah menjadi mawar asli yang sangat wangi?