Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
Ilustrasi membaca (Pexels.com/Min An)
e. kusuma .n

Di tengah hidup Gen Z yang serba cepat, penuh tuntutan, dan sering bikin overthinking, istilah healing inner child makin sering terdengar. Biasanya healing identik dengan journaling, terapi, atau liburan.

Tapi tahukah kamu kalau baca buku juga bisa jadi cara healing inner child? Ternyata, membaca buku jadi cara yang paling sederhana, murah, dan surprisingly efektif nenyembuhkan inner child.

Bukan sekadar aktivitas “anak rajin”, membaca ternyata bisa jadi ruang aman untuk mengenal diri sendiri, memeluk luka lama, dan menemukan versi diri yang lebih tenang. Terutama kalau buku yang dibaca relate dengan pengalaman emosional kita.

Apa Itu Inner Child dan Kenapa Perlu "Disembuhkan"?

Inner child adalah bagian dalam diri kita yang menyimpan pengalaman masa kecil, baik yang bahagia maupun yang menyakitkan. Saat kebutuhan emosional waktu kecil tidak terpenuhi, luka itu bisa terbawa sampai dewasa tanpa disadari.

Tandanya bisa bermacam-macam, seperti mudah merasa tidak cukup, takut ditinggalkan, sulit mengekspresikan emosi, terlalu keras pada diri sendiri, hingga haus validasi.

Di sinilah proses healing inner child penting, supaya kita tidak terus bereaksi dari luka lama. Dan salah satu cara lembut untuk memulainya adalah lewat membaca buku.

Alasan Baca Buku Bisa Jadi Cara Healing Inner Child

Membaca bukan cuma soal menyerap informasi, tapi juga pengalaman emosional. Saat membaca, otak dan perasaan ikut “masuk” ke dalam cerita. Tanpa sadar, kita belajar memahami emosi, memvalidasi perasaan, dan memaknai ulang pengalaman hidup.

Lalu, apa saja sih alasan baca buku bisa jadi media healing inner child yang cocok buat Gen Z?

1. Buku Memberi Rasa Dipahami Tanpa Diadili

Kadang kita capek menjelaskan perasaan ke orang lain. Lewat buku, terutama buku reflektif atau novel bertema kehidupan, kita sering merasa, “Kok ini kayak gue banget?”

Perasaan dipahami ini penting buat inner child, karena banyak luka muncul dari pengalaman tidak didengar atau tidak dianggap penting.

2. Membantu Menamai Emosi yang Selama Ini Kabur

Gen Z sering sadar kalau “ada yang nggak beres”, tapi sulit menjelaskannya. Buku bertema self-healing cenderung mampu membantu memberi nama pada emosi, entah itu kecewa, sedih tertahan, takut ditolak, atau lelah emosional.

Saat emosi bisa dinamai, proses penyembuhan jadi lebih mudah. Inner child merasa diakui dan kamu jadi tahu cara terbaik untuk mengatasinya.

3. Jadi Ruang Aman untuk Refleksi Tanpa Tekanan

Tidak semua orang siap untuk melangkah ke tahapan konseling atau terapi. Dan membaca bisa jadi pintu awal yang lebih aman yang pelan.

Kamu bisa berhenti kapan saja, mencerna pelan-pelan, tanpa tuntutan harus “cepat sembuh”. Sebab healing itu bukan lomba, dan buku mengajarkan kita untuk berjalan dengan ritme sendiri.

4. Membantu Berdamai dengan Masa Lalu

Banyak buku menghadirkan kisah tokoh yang mengalami luka serupa, sepertikeluarga tidak harmonis, merasa sendirian, atau tumbuh dengan tuntutan tinggi.

Dari sana, kita belajar bahwa masa lalu tidak harus disangkal, tapi bisa dipahami dan diterima. Pelan-pelan, inner child belajar bahwa apa yang ia rasakan dulu valid.

5. Menguatkan Self-Compassion

Salah satu luka inner child paling umum adalah kebiasaan menyalahkan diri sendiri. Menemukan buku yang tepat bisa membantu kita belajar berbicara lebih lembut pada diri sendiri.

Kalimat sederhana seperti “kamu sudah cukup” atau “nggak apa-apa capek” bisa terasa sangat menyembuhkan ketika dibaca di waktu yang tepat.

Jenis Buku yang Cocok untuk Healing Inner Child

Kalau kamu baru mulai, nggak harus langsung baca buku berat. Cukup banyak referensi bacaan yang cocok untuk proses healing ala Gen Z, kok.

  • Buku self-healing atau psikologi populer dengan bahasa ringan
  • Novel reflektif yang fokus pada perjalanan emosi karakter
  • Buku esai kehidupan yang relatable
  • Puisi atau prosa pendek yang menyentuh perasaan
  • Buku journaling dengan prompt reflektif

Kamu bisa memilih yang dianggap paling sesuai. Sebab, yang terpenting bukan genre-nya, tapi rasa aman dan koneksi yang kamu rasakan saat membacanya.

Tips Biar Membaca Jadi Healing, Bukan Beban

Agar membaca benar-benar terasa menyembuhkan, pastikan untuk tidak menargetkan jumlah halaman dan membaca saat suasana tenang. Kamu juga bisa menandai kalimat yang “kena banget”, lalu zinkan diri merasa sedih atau terharu karenanya.

Proses ini jadi momen untuk menghubungkan isi buku dengan pengalaman pribadi. Kalau capek, berhenti tanpa rasa bersalah karena healing bukan soal produktif, tapi cara jujur pada diri sendiri.

Membaca Adalah Cara Pelan Memeluk Diri Sendiri

Di dunia yang menuntut kita kuat terus, membaca bisa jadi bentuk perlawanan yang lembut. Lewat buku, kita belajar memahami luka, menerima masa lalu, dan merawat inner child yang selama ini diminta diam.

Kalau kamu sedang lelah, bingung, atau merasa kosong tanpa tahu alasannya, mungkin kamu nggak butuh jawaban besar. Mungkin kamu cuma butuh satu buku yang bisa menemani dan berkata, “kamu nggak sendirian”.

Karena ternyata, baca buku bukan cuma soal pintar, tapi juga tentang sembuh pelan-pelan.