Belakangan ini, saya merasa isu lingkungan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan Gen Z. Saya sering melihat orang membawa tumbler, tote bag, hingga mengunggah gaya hidup ramah lingkungan di media sosial.
Bahkan, banyak brand yang kini menggunakan label “eco-friendly” untuk menarik perhatian anak muda. Tentu fenomena ini menjadi pemandangan yang positif.
Setidaknya, ada kesadaran kalau bumi sedang tidak baik-baik saja. Isu tentang sampah plastik, perubahan iklim, dan polusi bukan lagi hal yang terasa jauh.
Media sosial membuat informasi tentang kerusakan lingkungan tersebar dengan cepat, dan Gen Z menjadi generasi yang cukup vokal membicarakannya.
Namun, di tengah tren itu, saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah kepedulian ini benar-benar lahir dari kesadaran, atau hanya bagian dari gaya hidup yang ingin terlihat keren?
Antara Kesadaran dan Tren Media Sosial
Saya tidak bisa memungkiri bahwa media sosial punya pengaruh besar terhadap cara Gen Z memandang isu lingkungan. Konten tentang zero waste, sustainable living, dan eco lifestyle kini terlihat estetik dan menarik.
Di satu sisi, hal itu memang membantu meningkatkan kesadaran. Banyak orang yang awalnya tidak peduli jadi mulai mencoba kebiasaan kecil yang lebih ramah lingkungan.
Namun di sisi lain, saya merasa ada kecenderungan jika peduli lingkungan kadang berubah menjadi sekadar identitas sosial. Seolah orang dianggap “baik” jika memakai produk ramah lingkungan, tanpa benar-benar memahami makna di baliknya.
Ironisnya, gaya hidup ramah lingkungan kini juga menjadi bagian dari budaya konsumtif. Orang membeli banyak tote bag dengan alasan mengurangi plastik, padahal jumlahnya justru berlebihan.
Barang-barang yang seharusnya membantu mengurangi konsumsi malah berubah menjadi alasan untuk membeli lebih banyak layaknya barang koleksi.
Saya pernah merasa bersalah ketika menyadari bahwa saya membeli barang “eco-friendly” bukan karena butuh, tapi karena takut tertinggal tren. Dari situ saya sadar kalau menjaga lingkungan tidak cukup hanya terlihat hijau di media sosial.
Sulit Konsisten di Tengah Gaya Hidup Modern
Menurut saya, gaya hidup ramah lingkungan sulit dijalani secara konsisten karena realita kehidupan modern memang serba praktis dan konsumtif. Kita hidup di zaman yang mendorong orang untuk terus membeli sesuatu.
Diskon besar-besaran, tren fast fashion, hingga kebiasaan belanja online membuat konsumsi terasa sangat mudah. Bahkan, satu klik saja sudah cukup untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Saya sendiri sering berada di posisi itu. Ingin hidup lebih minim sampah, tapi masih tergoda membeli barang lucu yang muncul di media sosial. Ingin mengurangi plastik, tapi kadang tetap memilih makanan delivery karena lebih praktis.
Hal-hal kecil seperti itu membuat saya sadar bahwa menjadi peduli lingkungan ternyata tidak sesederhana membawa tote bag atau tumbler. Ada kebiasaan dan pola pikir yang harus diubah, dan itu tidak mudah.
Selain itu, tidak semua pilihan ramah lingkungan mudah diakses. Produk sustainable sering kali lebih mahal. Apalagi dengan keterbatasan finansial, memilih barang murah terasa lebih realistis dibanding membeli produk eco-friendly.
Peduli Lingkungan Tidak Harus Sempurna
Semakin saya memikirkan hal ini, semakin saya percaya kalau kepedulian terhadap lingkungan seharusnya tidak diukur dari seberapa estetik gaya hidup seseorang. Peduli lingkungan juga tidak harus selalu terlihat sempurna.
Menurut saya, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih berarti dibanding sekadar mengikuti tren.
Membawa tumbler memang baik, tapi akan lebih bermakna jika benar-benar mengurangi sampah plastik. Memakai tote bag juga bagus, asalkan tidak menjadi alasan untuk terus membeli barang baru.
Saya belajar jika menjadi peduli lingkungan bukan tentang terlihat paling hijau, melainkan tentang kesadaran untuk hidup lebih bertanggung jawab. Tidak harus langsung zero waste, mengurangi konsumsi berlebihan saja sudah menjadi langkah penting.
Gen Z dan Potensi Membawa Perubahan Lingkungan
Pada akhirnya, saya percaya bahwa Gen Z sebenarnya punya potensi besar untuk membawa perubahan. Generasi ini lebih terbuka terhadap isu sosial dan lingkungan dibanding generasi sebelumnya.
Hanya saja, tantangannya adalah bagaimana mengubah kepedulian yang awalnya sekadar tren menjadi kebiasaan yang benar-benar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena lingkungan tidak membutuhkan beberapa orang yang hidup sempurna tanpa sampah. Lingkungan membutuhkan lebih banyak orang yang mau mulai peduli, meski perlahan dan masih sering gagal di tengah jalan.
Baca Juga
-
Zero Waste dan Tekanan Sosial: Saat Peduli Lingkungan Jadi Ajang Kompetisi
-
Harga Naik, Gaya Hidup Jalan Terus: Paylater Jadi Jalan Pintas?
-
Keinginan Instan di Era Serba Cepat: Mengapa Paylater Begitu Menggoda?
-
Mudah Dipakai, Sulit Dilepaskan: Ketergantungan Paylater di Era Digital
-
Jebakan Paylater: Hidup Ingin Praktis, Finansial Malah Jadi Tragis
Artikel Terkait
Kolom
-
Kopdes Merah Putih Rasa Minimarket: Ketika Produk Petani Lokal Absen dari Rak Koperasi
-
Kebijakan Sampah Residu ke Bantargebang, Apakah Solusi atau Beban Baru?
-
Hari Reformasi Nasional: Menolak Normalisasi KKN Gaya Baru
-
Zero Waste dan Tekanan Sosial: Saat Peduli Lingkungan Jadi Ajang Kompetisi
-
Jangan Biarkan Uang Menguap, Ini 2 Investasi Aman saat Rupiah Melemah
Terkini
-
Durasi 2 Jam 52 Menit dan Kontroversi Casting: Menakar Hype The Odyssey Karya Christopher Nolan
-
6 Parfum Floral Notes untuk Daily Office Look: Wanginya Feminin dan Elegan!
-
Terkurung Sumpah Purba: Gugatan Cinta dan Fanatisme Kasta dalam Lakuna
-
Redha: Buku yang Mengajarkan Kita Cara Menangis Tanpa Kehilangan Harapan
-
Le Sserafim Hidupkan Kembali Tren Lagu Macarena di Lagu Terbaru, Boompala