Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Belajar (Unsplash/@yingzge)
Oktavia Ningrum

Belakangan ini, semakin sering kita mendengar narasi yang meromantisasi keputusan “kuliah itu scam” dan “nikah muda saja”. Dalihnya beragam. Mulai dari kuliah mahal, gelar tidak menjamin kerja, atau hidup bisa jalan tanpa pendidikan tinggi.

Sepintas terdengar realistis, bahkan membumi. Tapi mari berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur. Kalau semua orang disarankan berhenti kuliah, sebenarnya kita berharap hidup ini ditopang oleh siapa?

Benarkah Kuliah itu Scam? 

Bayangkan anakmu akan dididik oleh guru yang tak kuliah. Pada siapa tanggung jawab moral akan dibebankan? Ketika seseorang hamil dan melahirkan, siapa yang memeriksa kehamilannya? Siapa yang membantu persalinan? Ketika bayi lahir, siapa yang memastikan imunisasinya aman?

Saat naik pesawat, siapa yang menjamin mesin itu layak terbang? Jawabannya jelas: dokter, bidan, perawat, apoteker, teknisi, dan insinyur. Dan ya, mereka semua butuh kuliah.

Siapkah Kita Dengan Dokter dan Pilot Tanpa Sertifikasi? 

Ironisnya, sebagian orang yang paling lantang menyepelekan pendidikan tinggi justru paling bergantung pada hasilnya. Mereka ingin layanan kesehatan yang aman, transportasi yang selamat, bangunan yang tidak roboh, dan teknologi yang bisa diandalkan. Tapi di saat yang sama, mereka mendorong generasi muda untuk menjauh dari jalur pendidikan yang melahirkan semua itu.

Pendidikan tinggi bukan sekadar simbol status atau lomba gengsi. Itu adalah sistem yang mencetak keahlian spesifik. Menjadi dokter tidak bisa ditempuh lewat niat baik saja.

Menjadi insinyur tidak cukup dengan “belajar otodidak”. Ada ilmu, standar, etika, dan tanggung jawab yang dipelajari bertahun-tahun karena kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal bagi nyawa orang lain.

Ketika Pendidikan Dianggap Tak Penting: Kemunduran Cara Berpikir? 

Narasi “nikah muda tanpa kuliah” sering dibungkus dengan moralitas dan romantisme kemandirian. Padahal realitas hidup jauh lebih kompleks. Kehamilan bukan sekadar proses alami, tapi peristiwa medis. Persalinan bisa berisiko.

Anak butuh imunisasi, nutrisi, dan pemantauan tumbuh kembang. Semua itu tidak berjalan di ruang hampa. Ada sistem kesehatan di belakangnya, dan sistem itu hanya bisa berdiri jika ada orang-orang terdidik yang mengelolanya.

Hal yang sama berlaku di sektor lain. Jalan yang kita lewati, listrik yang menyala, air yang mengalir, sinyal internet, pesawat yang terbang. Semuanya adalah hasil kerja panjang orang-orang yang belajar secara formal. Tanpa pendidikan tinggi, dunia modern akan lumpuh. Ironisnya, orang yang menolak kuliah tetap ingin menikmati hasil dunia modern.

Kuliah Tidak Wajib: Tapi Bukan Berarti Tak Penting

Tentu, tidak semua orang harus kuliah. Pendidikan tinggi bukan satu-satunya jalan hidup, dan kerja vokasional atau kewirausahaan juga penting. Masalahnya bukan pada pilihan individu, melainkan pada narasi kolektif yang merendahkan pendidikan seolah ia tidak penting sama sekali. Itu berbahaya.

Ketika pendidikan dianggap tidak perlu, yang terjadi bukan kebebasan, melainkan ketergantungan. Ketergantungan pada segelintir orang terdidik yang jumlahnya semakin sedikit. Ketimpangan akan melebar, kualitas layanan menurun, dan risiko hidup meningkat.

Mendorong anak muda untuk tidak kuliah tanpa memikirkan dampaknya adalah sikap tidak bertanggung jawab. Karena pada akhirnya, kita semua tetap ingin hidup aman, sehat, dan berfungsi. Dan semua itu hanya mungkin jika ada cukup banyak orang yang belajar, mendalami ilmu, dan bersedia memikul tanggung jawab besar.

Kita Mau Menikmati Hasil Pendidikan, Tapi Tidak Mau Mendukung Prosesnya?

Aneh tapi nyata. Di satu sisi, pendidikan tinggi dianggap tidak penting, bahkan dipandang sebagai pemborosan waktu; di sisi lain, kita menuntut hidup yang aman, sehat, dan serba terjamin.

Kita ingin persalinan ditangani tenaga medis, anak tumbuh dengan imunisasi lengkap, pesawat terbang tanpa kecelakaan, dan gedung berdiri tanpa runtuh. Namun pada saat yang sama, anak muda justru diajak berhenti kuliah dan segera menikah.

Seolah semua sistem kehidupan bisa berjalan tanpa orang-orang yang belajar bertahun-tahun untuk mengelolanya. Kontradiksi inilah yang jarang dibicarakan: kita ingin menikmati hasil pendidikan, tapi meremehkan proses yang melahirkannya?