Sobat Yoursay, menarik rasanya untuk melihat bagaimana literasi politik justru tumbuh subur di jalur nonformal. Saat narasi resmi dari pemerintah sering kali sulit dicerna karena bahasa yang berlapis, komedi satir seperti Mens Rea hadir sebagai penerjemah yang andal.
Karya ini membuktikan bahwa tawa bisa menjadi pintu masuk yang efektif menuju pemahaman tentang kekuasaan dan hukum, sebuah fungsi yang sering kali gagal dijalankan oleh seminar politik konvensional.
Judulnya saja sudah seperti materi ujian fakultas hukum. Mens rea, istilah Latin yang berarti niat atau keadaan batin seseorang saat melakukan tindak pidana. Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin baru pertama kali didengar. Tapi lewat dua jam komedi, konsep hukum yang kaku itu berubah menjadi sesuatu yang terasa dekat, bahkan relevan dengan obrolan sehari-hari.
Dari sinilah kita mulai melihat bahwa komedi, tanpa disadari, sedang menjalankan fungsi yang biasanya diemban oleh kelas-kelas formal, yaitu mendidik warga negara.
Banyak penonton Mens Rea mengaku baru memahami isu-isu tertentu setelah menontonnya. Soal bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana hukum bisa lentur ke atas tapi keras ke bawah, hingga bagaimana publik sering kali hanya dijadikan penonton dalam panggung besar bernama demokrasi.
Bukan karena Pandji memberikan kuliah satu arah, melainkan karena ia membungkus fakta dan kritik dalam cerita, ironi, dan humor yang akrab. Kita tertawa, lalu berpikir, lalu tiba-tiba merasa, “Loh, ini kok benar juga ya?”
Di sinilah keunggulan komedi dibandingkan penjelasan serius. Materi berat sering gagal sampai ke publik bukan karena isinya salah, tapi karena caranya membuat orang lelah sebelum mendengarkan. Komedi bekerja sebaliknya. Ia menurunkan pertahanan audiens. Ketika orang tertawa, mereka tidak sedang bersiap membantah. Mereka membuka diri. Di celah tawa itulah pesan masuk, diam-diam, tanpa terkesan menggurui.
Sobat Yoursay tentu pernah mengalami momen ketika sebuah lelucon terasa lucu di awal, tapi setelahnya meninggalkan rasa getir. Kita tertawa, lalu mendadak diam. Komedi semacam ini memberi semacam jeda refleksi. Mens Rea bermain di wilayah itu. Ia tidak memberi solusi instan, tidak menawarkan slogan perubahan, tapi memancing pertanyaan.
Tak berlebihan jika stand-up comedy seperti ini disebut sebagai “kelas kewarganegaraan alternatif”. Bedanya, kelas ini tidak memiliki papan tulis, tidak ada absensi, dan tidak diakhiri ujian pilihan ganda.
Audiens datang secara sukarela, bukan karena kewajiban. Mereka tidak merasa sedang diajari, padahal sebenarnya sedang diajak memahami realitas politik yang selama ini terasa jauh dan rumit.
Di sisi lain, reaksi keras terhadap Mens Rea justru memperlihatkan masalah yang lebih besar. Alih-alih menanggapi substansi kritik, sebagian pihak justru sibuk mempersoalkan cara penyampaiannya.
Ini mengirim sinyal yang ganjil kepada publik bahwa kritik akan lebih aman jika dibungkus kaku, membosankan, dan tidak banyak ditonton. Padahal, jika tujuan pendidikan politik adalah menjangkau masyarakat luas, bukankah metode yang efektif seharusnya dirangkul, bukannya dicurigai?
Sobat Yoursay, keberhasilan komedi dalam menjelaskan isu-isu berat adalah tamparan bagi institusi pendidikan dan otoritas publik. Ini adalah bukti adanya kebuntuan komunikasi antara negara dan warganya. Daripada mencurigai komedi, seharusnya negara berkaca bahwa ada metode penyampaian informasi yang selama ini gagal menyentuh nalar publik.
Mens Rea menunjukkan bahwa pendidikan politik tidak harus selalu serius untuk menjadi bermakna. Terkadang, justru lewat tawa kita belajar menjadi warga negara yang lebih sadar.
Tantangannya sekarang adalah memastikan bahwa kesadaran itu tidak berhenti di panggung, tapi berlanjut menjadi diskusi, literasi, dan keberanian berpikir kritis di ruang publik. Dan di titik ini, komedi sudah melakukan bagiannya. Sisanya, kembali kepada kita sebagai penonton, sekaligus warga negara.
Baca Juga
-
Hujan, Kopi, dan Alasan untuk Tidak Segera Pergi
-
Nadiem Ditarik Paksa: Mengapa Negara Begitu Takut Terdakwa Bicara?
-
Angka Fantastis, Bukti Minim: Layakkah Nadiem Divonis Korupsi?
-
Mitos Hidup Murah di Daerah: Gaji Lokal, tapi Harga Kebutuhan Nasional
-
Darurat Kebebasan! Ancaman Nyata Bagi Aktivis yang Berani Bersuara
Artikel Terkait
-
Polemik Pandji Pragiwaksono Memanas, Indro Warkop Beri Peringatan Keras Tentang Kritik di Indonesia
-
Pandji Pragiwaksono dan Polemik Mens Rea: Mengapa Kita Sering Dibenturkan Sesama Warga?
-
Indro Warkop Bandingkan Kasus Pandji Pragiwaksono dengan Era Kritik Warkop DKI
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Pandji Pragiwaksono Ungkap Alasan Anies Baswedan Tak Dibahas di Mens Rea
Kolom
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Kierkegaard dan Eksistensialisme: Menemukan Makna Hidup di Dunia yang Berisik
-
Pandji Pragiwaksono dan Polemik Mens Rea: Mengapa Kita Sering Dibenturkan Sesama Warga?
-
Psikologi Perubahan Iklim: Mengapa Kita Sadar Lingkungan tapi Malas Bertindak?
-
Kepekaan Perempuan Terhadap Bencana, Mengapa Kepedulian Dianggap Ancaman?
Terkini
-
Dilema Emosional Gen Z: Berani Jujur Tapi Siap Kehilangan atau Lebih Baik Diam?
-
Dapat Daesang, Jennie BLACKPINK Borong Penghargaan Golden Disc Awards 2026
-
John Herdman Latih Timnas Indonesia, Si Anak Hilang Berpeluang Comeback?
-
Taxi Driver 3 Tutup Cerita dengan Rating Tertinggi Sepanjang Penayangan
-
Anti Bosen, 4 Ide Styling Celana Jeans ala Zhang Ling He yang Cool Abis!