Dalam dunia fesyen, hiburan, hingga media sosial, label eksotis masih sering digunakan untuk menggambarkan perempuan dengan kulit gelap, rambut hitam, atau fitur wajah yang dianggap unik dan berbeda dengan Barat.
Sekilas, istilah ini terdengar seperti pujian. Namun, di baliknya tersimpan relasi kuasa yang jarang disadari. Banyak orang merasa bangga disebut eksotis, sementara yang lain justru merasa asing di tubuhnya sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa standar kecantikan modern belum sepenuhnya lepas dari cara pandang masa lalu.
Label eksotis bukan sekadar kata, melainkan produk sejarah dan konstruksi sosial. Label ini membawa jejak kolonialisme yang membentuk bagaimana tubuh non-Barat dipandang, dinilai, dan dikonsumsi. Pertanyaannya, mengapa istilah ini masih bertahan hingga kini? Dan bagaimana warisan kolonial tersebut terus memengaruhi cara kita memahami kecantikan dan identitas diri?
Asal-Usul Kolonial dari “Keindahan Eksotis”
Pada masa kolonial, bangsa Eropa memosisikan diri sebagai pusat peradaban dan keindahan. Tubuh dan budaya masyarakat jajahan dipandang sebagai sesuatu yang asing, liar, dan menarik untuk ditonton. Dari sinilah konsep eksotisme lahir, yakni sebuah cara pandang yang melihat perbedaan bukan sebagai kesetaraan, melainkan sebagai objek rasa ingin tahu dan konsumsi.
Dalam konteks kecantikan, tubuh non-Barat tidak dinilai berdasarkan standarnya sendiri, tetapi melalui lensa kolonial. Ciri fisik tertentu dianggap menarik justru karena berbeda dari standar Eropa, bukan karena dihargai secara setara. Pola ini menciptakan hierarki, di mana kecantikan Barat menjadi norma, sementara yang lain ditempatkan sebagai variasi eksotis.
Standar Kecantikan Modern yang Tak Pernah Netral
Meski kolonialisme formal telah berakhir, warisannya masih hidup dalam standar kecantikan modern. Kulit cerah, hidung mancung, dan tubuh ramping masih sering dianggap ideal, sementara ciri fisik lain diberi label alternatif seperti unik atau eksotis. Bahasa ini menunjukkan bahwa standar utama tetap berpijak pada nilai Barat.
Media berperan besar dalam mereproduksi standar tersebut. Representasi tubuh non-Barat sering kali terbatas pada peran tertentu yang menonjolkan keasingan, bukan keberagaman. Akibatnya, banyak individu tumbuh dengan persepsi bahwa kecantikannya hanya bernilai jika diakui sebagai sesuatu yang berbeda dan menarik bagi pandangan dominan.
Dampak Psikologis dari Labelisasi
Label eksotis dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika tubuh dipuji karena keunikannya, bukan karena keberadaannya sebagai subjek setara, muncul ambivalensi emosional. Di satu sisi, ada pengakuan, namun di sisi lain, ada perasaan terobjektifikasi.
Bagi sebagian orang, label ini menimbulkan tekanan untuk memenuhi ekspektasi tertentu. Tubuh menjadi sesuatu yang harus dipertunjukkan, bukan dialami. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi harga diri dan hubungan individu dengan identitas kulturalnya.
Melampaui Eksotisme: Menuju Representasi yang Setara
Menyoal label eksotis bukan berarti menolak keberagaman atau perbedaan. Justru sebaliknya, kritik terhadap eksotisme bertujuan untuk mendorong representasi yang lebih setara. Kecantikan tidak seharusnya diukur dari seberapa asing ia terlihat bagi standar dominan.
Upaya ini membutuhkan perubahan cara pandang, baik di tingkat individu maupun struktural. Media, industri kecantikan, dan masyarakat luas perlu menggeser narasi dari objektifikasi menuju penghargaan. Representasi yang beragam dan autentik dapat membantu membongkar hierarki lama yang masih bercokol.
Label eksotis adalah cermin dari warisan kolonial yang belum sepenuhnya kita sadari. Ia mengingatkan bahwa standar kecantikan tidak pernah netral, melainkan dibentuk oleh sejarah dan relasi kuasa.
Baca Juga
-
Cara Otak Menciptakan Emosi: Rahasia di Balik Penilaian Kognitif Manusia
-
Psikologi di Balik Cara Negara Merespons Keluhan Rakyat
-
Psikologi Perubahan Iklim: Mengapa Kita Sadar Lingkungan tapi Malas Bertindak?
-
Sudah Sukses Tapi Merasa Hampa? Kenali Fenomena Hedonic Adaptation
-
Kepercayaan Publik yang Kian Menjauh dari Pemerintahan
Artikel Terkait
Kolom
-
Cerita Senin Pagi di Jakarta: Perjuangan Menembus Hujan dan Harapan Fasilitas Publik Inklusif
-
Media Ngebut, Kebenaran Terengah-engah
-
Fitur Repost: Ruang Curhat Terselubung atau Ladang Ghibah Gaya Baru?
-
Psikologi di Balik Cara Negara Merespons Keluhan Rakyat
-
Broken Strings, Menyelami Luka Lama dan Keberpihakan Pada Korban