Keputusan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengadakan mobil dinas baru senilai Rp8,5 miliar langsung memicu perbincangan luas di media sosial. Mobil yang dipilih bukan kendaraan biasa, melainkan Range Rover Autobiography, salah satu SUV mewah dengan kelas tertinggi di dunia otomotif.
Pengadaan ini disebut sebagai bagian dari fasilitas kendaraan dinas untuk Gubernur Kalimantan Timur. Namun, angka fantastis yang melekat pada harga mobil tersebut membuat publik mempertanyakan urgensi dan relevansinya dengan kondisi sosial masyarakat.
Perdebatan ini semakin ramai setelah informasi spesifikasi mobil tersebut beredar luas. Range Rover Autobiography dikenal sebagai SUV premium yang menggabungkan kemewahan, teknologi, dan performa tinggi dalam satu paket kendaraan.
Dari sisi mesin, mobil ini dibekali dapur pacu bertenaga besar, termasuk varian mesin V8 5.0 liter supercharged yang mampu menghasilkan tenaga dan torsi tinggi. Tenaga tersebut disalurkan melalui transmisi otomatis 8-percepatan dan sistem penggerak empat roda (4x4), sehingga mobil tetap stabil di berbagai kondisi jalan.
Tak hanya soal performa, interior mobil ini juga dirancang dengan standar kemewahan tinggi. Kabin dilapisi material kulit premium, dilengkapi sistem hiburan digital, pengaturan kursi elektrik dengan fitur pemanas dan pendingin, hingga teknologi driver assistance modern yang menunjang kenyamanan dan keamanan.
Di tengah sorotan soal spesifikasi dan kemewahan kendaraan, perhatian publik justru bergeser ke dampak sosial dari penggunaan anggaran tersebut. Banyak warganet menilai bahwa angka Rp8,5 miliar terlalu besar jika hanya digunakan untuk satu unit mobil dinas.
Salah satu tanggapan yang ramai diperbincangkan datang dari Ferry Irwandi melalui akun Threads miliknya. Ia menyebut bahwa dana sebesar itu bisa dialihkan untuk berbagai kebutuhan publik, mulai dari pembangunan puskesmas tipe D, pengadaan cold storage berkapasitas 30–50 ton, hingga dana bergulir bagi ratusan UMKM.
Menurut Ferry, jika ratusan UMKM mengalami kenaikan omzet, maka dampak ekonominya bisa terasa langsung bagi masyarakat. Ia juga menyebut bahwa untuk kebutuhan medan berat atau offroad, kendaraan seperti Hilux sudah dianggap cukup tanpa harus menggunakan SUV mewah.
Pernyataan tersebut kemudian viral dan memantik diskusi baru di kalangan anak muda. Fokus pembicaraan tak lagi semata soal mobil, tetapi soal pilihan kebijakan dan arah penggunaan anggaran publik.
Isu ini pun berkembang menjadi perbincangan tentang prioritas pembangunan dan kepekaan terhadap kondisi sosial. Mobil dinas akhirnya bukan hanya dilihat sebagai fasilitas pejabat, tetapi sebagai simbol dari cara negara mengelola uang rakyat.
Baca Juga
-
Italjet Dragster 459 Twin, Motor Skutik Premium Bergaya Sport Italia
-
Samsung Galaxy S26 Series Masuk Indonesia, Pre-Order Resmi Dibuka
-
Nama Besar YouTube Indonesia, Tara ArtsGema Show Guncang Marapthon!
-
Overthinking Tiap Malam? Stoikisme Bisa Membantumu Mengendalikan Pikiran
-
Manchester Is Red! MU Naik ke Peringkat 4 usai Terus Menang
Artikel Terkait
News
-
Logika Terbalik Cukai Tembakau Ancam Generasi Muda
-
Kecemasan Gen Z: Apa yang Tersisa Saat AI Menguasai Dunia?
-
Bukan Sekadar Jabatan, Ini Tantangan Karier Gen Z di Era Otomatisasi
-
WNA Rasis di Medsos: Bisa Nggak Sih Dijerat Hukum Indonesia?
-
Pejuang Otodidak: Suka Duka Belajar Bahasa Jepang Mandiri dari Nol
Terkini
-
Rezeki Nomplok di Depan Mata, 3 Shio Ini Diprediksi Panen Cuan Besar di 2026
-
4 OOTD Layering Ala Bae In Hyuk, Minimalis tapi Tetap Fashionable
-
Hukuman Pelaku atau Perbaikan Sistem? Menolak Narasi "Oknum" yang Berulang
-
BLACKPINK Bawa Pesan Keberanian dan Persatuan di Comeback Lagu Terbaru, Go
-
Antara Idealisme dan Uang: Realita Pembajakan Buku dalam Selamat Tinggal