Dalam beberapa tahun terakhir, cara kita mengambil keputusan konsumsi telah berubah secara radikal. Jika dahulu rekomendasi datang dari tetangga, teman, atau iklan di media massa, kini opini publik berpindah ke layar ponsel. Electronic word of mouth atau E WOM menjelma sebagai kekuatan baru yang menentukan apa yang kita beli, pakai, dan pamerkan. Ulasan di marketplace, testimoni di media sosial, hingga video unboxing para influencer membentuk arus besar persepsi yang nyaris mustahil dilawan oleh individu. Di dalam arus itulah kita sering kali kehilangan jarak kritis dan terjebak dalam logika ikut ikutan.
Fenomena ini paling kentara pada produk teknologi, terutama ponsel pintar. Setiap kali sebuah tipe baru diluncurkan, linimasa kita segera dipenuhi foto, pujian, dan klaim bahwa produk tersebut lebih cepat, lebih canggih, dan lebih layak dimiliki. Tidak jarang kita merasa seolah tertinggal jika tidak ikut memilikinya. Padahal ponsel lama masih berfungsi dengan baik, mampu mengirim pesan, memotret, bekerja, dan menghibur seperti biasa. Namun E WOM menciptakan ilusi bahwa nilai diri kita ikut berubah jika tidak mengikuti arus tersebut.
Dalam konteks ini, E WOM bekerja bukan sekadar sebagai informasi, melainkan sebagai tekanan sosial. Ia membangun standar baru tentang apa yang dianggap mutakhir, keren, dan pantas. Ulasan positif yang berulang, algoritma yang mempromosikan konten populer, dan budaya pamer di media sosial membentuk sebuah ekosistem yang membuat pilihan pribadi terasa seperti kewajiban kolektif. Kita tidak lagi membeli karena membutuhkan, melainkan karena takut ketinggalan.
Fomo dan Ilusi Self Reward
Rasa takut tertinggal atau FOMO menjadi bahan bakar utama dari perilaku konsumsi impulsif ini. FOMO tidak lahir dari kekosongan, melainkan dari paparan konstan terhadap kehidupan orang lain yang tampak lebih seru, lebih sukses, dan lebih mutakhir. Ketika melihat teman atau figur publik memamerkan ponsel terbaru, alam bawah sadar kita segera membandingkan. Di situlah muncul kegelisahan bahwa kita belum cukup, belum selevel, atau belum layak.
Untuk meredam kegelisahan itu, kita sering menggunakan konsep self reward sebagai pembenaran. Kita berkata pada diri sendiri bahwa kita layak memanjakan diri setelah bekerja keras. Pada titik tertentu, tentu saja memberi hadiah pada diri sendiri adalah hal yang wajar. Masalah muncul ketika self reward berubah menjadi tameng untuk menutupi dorongan impulsif yang sebenarnya digerakkan oleh tekanan sosial. Kita tidak lagi bertanya apakah barang itu benar benar dibutuhkan, melainkan apakah barang itu akan membuat kita merasa diakui.
Budaya E WOM memperkuat distorsi ini. Ketika ribuan ulasan menyatakan bahwa sebuah ponsel adalah yang terbaik, paling worth it, dan paling prestisius, kita terdorong untuk percaya bahwa membelinya adalah bentuk keputusan rasional. Padahal, sering kali yang bekerja adalah mekanisme emosional. Kita membeli perasaan menjadi bagian dari kelompok yang dianggap up to date. Kita membeli rasa aman bahwa kita tidak tertinggal. Kita membeli pengakuan yang bersifat simbolik.
Ironisnya, kepuasan itu jarang bertahan lama. Begitu model berikutnya dirilis, euforia pun memudar. Kita kembali merasa kurang dan kembali tergoda. Inilah lingkaran setan konsumsi impulsif yang dipelihara oleh E WOM dan FOMO. Setiap produk baru menjanjikan pemenuhan, tetapi yang datang justru kegelisahan baru. Dalam jangka panjang, kita terjebak pada pola pengeluaran yang tidak sehat dan hubungan yang dangkal dengan benda yang kita miliki.
Ponsel sebagai Penanda Kelas Sosial Baru
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana ponsel perlahan berubah menjadi penanda kelas sosial. Di ruang publik, di kafe, di kantor, bahkan di pertemuan keluarga, jenis dan tipe ponsel sering kali menjadi simbol status yang diam diam diperhatikan. Merek tertentu diasosiasikan dengan kesuksesan, kecanggihan, dan selera tinggi. Merek lain dianggap biasa atau bahkan ketinggalan zaman. Dalam situasi ini, pilihan teknologi tidak lagi netral, ia sarat makna sosial.
E WOM memainkan peran penting dalam pembentukan makna tersebut. Influencer dan konten kreator sering kali menampilkan ponsel tertentu sebagai bagian dari gaya hidup ideal. Kamera canggih dikaitkan dengan kreativitas, desain mewah dengan prestise, dan harga tinggi dengan kualitas diri. Pesan yang tersirat adalah bahwa memiliki ponsel itu berarti menjadi versi diri yang lebih baik. Bagi banyak orang, terutama generasi muda, pesan ini sangat kuat.
Akibatnya, kita menyaksikan pergeseran nilai. Fungsi dasar ponsel sebagai alat komunikasi dan kerja menjadi nomor dua. Yang utama adalah citra yang melekat padanya. Kita rela berutang, mencicil, atau mengorbankan kebutuhan lain demi memiliki perangkat yang dianggap tepat secara sosial. Dalam masyarakat yang kesenjangan ekonominya masih lebar, praktik ini berpotensi memperdalam rasa tidak setara dan kecemasan kolektif.
Menghadapi situasi ini, kita perlu memulihkan kembali kedaulatan sebagai konsumen. E WOM tidak harus ditolak, tetapi harus dibaca dengan kritis. Ulasan dan rekomendasi seharusnya menjadi bahan pertimbangan, bukan kompas moral yang menentukan keputusan yang tidak rasional. Kita perlu bertanya ulang apa yang benar-benar kita butuhkan dan apa yang hanya kita inginkan karena tekanan lingkungan.
Lebih jauh, kita perlu merevisi cara kita memaknai self reward. Memberi hadiah pada diri sendiri seharusnya menjadi sarana merawat kesehatan mental, bukan alat untuk mengejar pengakuan semu. Self reward yang sehat adalah yang selaras dengan kebutuhan dan nilai pribadi, bukan yang didikte oleh algoritma dan tren.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya. Ponsel yang kita miliki adalah alat, bukan identitas. Ketika kita mampu melepaskan diri dari jerat FOMO dan membaca E WOM dengan jarak kritis, kita membuka ruang untuk konsumsi yang lebih bijak dan kehidupan yang lebih merdeka dari tekanan simbolik. Di situlah martabat kita sebagai warga dan konsumen menemukan kembali pijakannya.
Baca Juga
-
Aksesibilitas Bukan Aksesori: Mewujudkan Keamanan bagi Penumpang Rentan di Transportasi Umum
-
Tumbler, Simbol Baru Kelas Menengah Perkotaan
-
Evolusi Gaya Hidup Gen Z dan Sinyal Transisi Meninggalkan Minuman Beralkohol
-
Pilkada via DPRD : Efisiensi Anggaran atau Kemunduran Demokrasi?
-
Kebocoran 17,5 Juta Data Instagram, Ujian Serius Perlindungan Privasi Warga
Artikel Terkait
-
Saham Rasa Kripto, Gaya Baru Investasi Digital Native
-
Infrastruktur Digital Terancam Tersendat, MASTEL Ingatkan Sinkronisasi Kebijakan PusatDaerah
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Perusahaan Dompet Digital Mulai Sasar Segmen Olah Raga
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Kolom
-
Deepfake dan Manipulasi Emosi: Ketika AI Memegang Kendali Realita dan Ilusi
-
Pembenahan Mendesak, Menanti Komitmen Tim Reformasi Polri
-
Belajar dari Broken Strings: Kenapa Sesulit Itu Keluar dari Hubungan Toxic?
-
Memahami Criminal Mind: Kerangka Kognitif di Balik Perilaku Antisosial
-
Tumbler, Simbol Baru Kelas Menengah Perkotaan
Terkini
-
Nyonya Ngidam
-
4 Cleanser yang Mengandung Kojic Acid untuk Kulit Bersih, Glowing, dan Lembut
-
Tiru 5 Outfit Mirror Selfie Stylish ala Chaewon LE SSERAFIM, Kece Abis!
-
Sinopsis 28 Years Later: The Bone Temple, Kisah Dunia yang Kian Mengerikan
-
Anime Draw This, Then Die! Siap Tayang Juli, Ungkap 5 Pengisi Suara Utama