Pernahkah Sobat Yoursay scroll media sosial dan melihat sosok perempuan yang tampak memiliki segalanya? Pagi hari dia sudah olahraga pilates, siangnya memimpin rapat direksi dengan setelan blazer yang tajam, sorenya menjemput anak dengan senyum lebar, dan malamnya menyajikan makan malam sehat buatan sendiri di atas meja makan yang estetik. Kita sering menyebutnya sebagai "Superwoman."
Di hari-hari seperti International Women’s Day kemarin, narasi tentang perempuan yang bisa melakukan segalanya, alias having it all, biasanya meledak di mana-mana sebagai simbol keberhasilan emansipasi. Tapi, apakah konsep itu benar-benar sebuah pencapaian, atau justru jebakan batman yang sengaja dipasang untuk membuat kita merasa gagal setiap harinya?
Konsep having it all ini sebenarnya punya akar yang cukup dalam di budaya modern kita. Seolah-olah, perjuangan hak perempuan selama puluhan tahun ini hanya bertujuan agar kita punya daftar tugas yang dua kali lebih panjang dari sebelumnya.
Kalau dulu perempuan hanya dituntut untuk menjadi pengelola rumah tangga yang sempurna, sekarang standar itu bertambah, perempuan juga harus punya karier yang moncer dan mandiri secara finansial. Masalahnya, masyarakat sering kali lupa memberikan infrastruktur yang mendukung transisi ini.
Kita diminta untuk bekerja seolah-olah kita tidak punya keluarga, namun di saat yang sama diminta untuk mengurus keluarga seolah-olah kita tidak punya pekerjaan.
Standar ganda ini sering kali tidak kasatmata tapi sangat menyesakkan. Coba Sobat Yoursay perhatikan, saat seorang ayah sukses di kantor tapi jarang pulang untuk makan malam, dia tetap dianggap pahlawan keluarga yang bekerja keras. Namun, saat seorang ibu pulang terlambat karena mengejar deadline proyek besar, bisikan-bisikan tentang "kasihan anaknya" atau "pantas rumahnya berantakan" mulai muncul ke permukaan.
Perempuan modern dipaksa untuk berdiri di atas tali tipis yang mustahil untuk tetap seimbang. Jika dia terlalu fokus pada karier, dia dianggap tidak feminin atau egois. Jika dia memilih fokus di rumah, dia dianggap menyia-nyiakan potensinya.
Secara sosiologis, tekanan untuk menjadi sempurna di segala lini ini sebenarnya sangat dipengaruhi oleh logika kapitalis. Dalam sudut pandang ini, perempuan yang bisa menyeimbangkan karier tinggi dan peran domestik adalah konsumen yang ideal. Dia membeli jasa penitipan anak, dia berlangganan katering sehat, dia membeli produk perawatan diri untuk menutupi rasa lelahnya, dan dia terus bekerja keras untuk membiayai semua itu.
Kita terjebak dalam perlombaan lari yang garis finisnya terus digeser. Pada akhirnya, yang kita dapatkan bukanlah kepuasan, melainkan burnout yang kronis.
Faktanya, data dari berbagai survei kesehatan mental sering menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat stres dan kecemasan yang lebih tinggi terkait beban kerja ganda ini.
Fenomena mental load—yaitu beban kognitif untuk mengingat segala detail kecil mulai dari jadwal imunisasi anak hingga stok deterjen yang habis—hampir selalu jatuh ke pundak perempuan, bahkan ketika mereka memiliki penghasilan yang sama dengan pasangannya.
Inilah alasan mengapa narasi having it all itu berbahaya. Narasi ini membuat kita merasa bahwa jika kita merasa lelah atau gagal melakukan salah satu tugas, maka itu adalah kesalahan pribadi kita karena kurang "pintar" mengatur waktu, padahal sistemnya memang sudah cacat sejak awal.
Sobat Yoursay, di Hari Perempuan Internasional kali ini, mungkin kado terbaik yang bisa kita berikan untuk diri sendiri dan sesama perempuan bukanlah kata-kata motivasi untuk bekerja lebih keras, melainkan izin untuk menjadi "biasa-biasa saja" di beberapa hal.
Kita perlu mulai meredefinisi apa itu "cukup." Cukup tidak berarti malas atau tidak ambisius. Cukup berarti mengenali batas kemanusiaan kita. Tidak ada yang salah dengan rumah yang sedikit berantakan demi mengejar mimpi besar di kantor, dan tidak ada yang salah dengan menolak promosi jabatan jika itu artinya kita bisa punya waktu lebih untuk bernapas dan menikmati hidup.
Dunia mungkin akan terus menuntut kita untuk menjadi versi terbaik dari segala peran, tapi kita punya hak untuk menulikan telinga. Menjadi perempuan yang berdaya bukan berarti menjadi manusia super yang tidak butuh bantuan. Justru, keberdayaan muncul ketika kita berani berkata "tidak" pada ekspektasi yang tidak masuk akal dan mulai menentukan sendiri standar kebahagiaan kita, tanpa harus membandingkannya dengan standar media sosial.
Jadi, Sobat Yoursay, daripada mengejar mitos having it all yang melelahkan itu, bagaimana kalau kita fokus untuk having enough? Punya cukup waktu untuk istirahat, cukup ruang untuk berekspresi, dan cukup keberanian untuk menjadi diri sendiri tanpa embel-embel "sempurna." Karena pada akhirnya, hidup ini adalah sebuah perjalanan untuk dinikmati, bukan sebuah kompetisi untuk dimenangkan.
Baca Juga
-
Dilema Gorden Warteg: Hormati yang Puasa atau Hargai yang Cari Nafkah?
-
Bakti Tanpa Gaji Anak Perempuan: Karier Melesat, Tapi di Rumah Otomatis Jadi Perawat
-
BBM Aman 20 Hari ke Depan, Yakin Nggak Panik saat Mudik Nanti?
-
Bom Waktu Selat Hormuz: Mengapa Dapur Orang Indonesia Ikut Terbakar?
-
Anak-Anak Bukan Target Perang! Menuntut Keadilan Atas Tragedi Minab
Artikel Terkait
-
Bakti Tanpa Gaji Anak Perempuan: Karier Melesat, Tapi di Rumah Otomatis Jadi Perawat
-
Perang Global dan Peran Perempuan di Garis Depan Narasi Kemanusiaan
-
Punya Mama yang Jadi Tulang Punggung Keluarga, Bukan Hal yang Memalukan!
-
Derita Lahir di Balik Jeruji: Film Invisible Hopes Jadi Pengingat di Momen International Womens Day
-
30 Link Twibbon Hari Perempuan Sedunia 2026 Gratis, Langsung Pakai
Kolom
-
Krisis Kepercayaan Publik di Tengah Marak Video Perang Hasil Manipulasi AI
-
Hukum Internasional vs Rudal: Siapa yang Lebih Cepat Dapat Keadilan?
-
Dilema Gorden Warteg: Hormati yang Puasa atau Hargai yang Cari Nafkah?
-
Warisan Paling 'Zonk': Saat Orang Dewasa yang Perang, tapi Kita yang Kena Getahnya!
-
Perut Kenyang, Tempat Sampah Penuh: Refleksi Makna Ramadan di Tengah Lonjakan Food Waste
Terkini
-
Perburuan Kriminal Paling Berbahaya: Membaca Novel Bintang Karya Tere Liye
-
5 Rekomendasi HP Xiaomi RAM 8 GB Performa Terbaik 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Tak Hanya Comeback, Provisional Skuat Garuda Juga Dihiasi Deretan Pemain Debutan!
-
Monsters Inc 3 Siap Digarap, Hadirkan Ketakutan Monster dan Anak Manusia
-
Harapan di Phoenix Library: Ketika Kertas Lebih Galak daripada Rudal