Keresahan itu persis seperti saudara jauh yang datang bertamu tanpa WhatsApp terlebih dahulu. Tahu-tahu, dia sudah duduk manis di sofa pikiran, memesan kopi di kepala kita, dan membuat dada terasa sesak seolah-olah baru saja melihat tagihan paylater yang membengkak. Bentuknya macam-macam: ada yang tipis-tipis seperti gelisah tanpa sebab jelas, sampai paket komplit berupa jantung berdebar dan tangan yang mendadak sedingin es cendol.
Biasanya, refleks pertama kita adalah mengusirnya secepat mungkin. Kita menganggap gelisah adalah tamu tidak sopan yang harus segera ditendang keluar pintu.
Padahal, kalau mau sedikit meluangkan waktu untuk tidak panik, keresahan itu sebenarnya alarm paling jujur yang kita punya. Dia muncul bukan karena iseng atau ingin menjahili hidup kita yang sudah ruwet. Dia datang sebagai pengingat—semacam notifikasi dari semesta—bahwa ada sesuatu yang "korslet" di dalam sana. Mungkin ada kebutuhan batin yang selama ini kita tumpuk di bawah karpet atau arah hidup yang pelan-pelan mulai melenceng dari jalur yang semestinya.
Masalahnya, kita ini sering kali terlalu sibuk memoles tampilan luar agar terlihat estetis sampai lupa mengecek mesin di dalam. Kita lari terus, memenuhi tuntutan ini-itu, tanpa pernah benar-benar duduk dan bertanya pada diri sendiri: "Lha, aku ini sebenarnya kenapa, sih?"
Pendekatan untuk urusan batin ini seharusnya tidak perlu seberat buku filsafat Jerman atau sepanjang ceramah motivasi yang membosankan. Cukup refleksi sederhana tentang hidup sehari-hari yang sering kali tidak masuk akal. Kita lelah karena harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain yang tidak ada habisnya. Kita bingung menentukan arah di tengah gempuran pamer pencapaian orang lain di media sosial. Kita hidup di dunia yang memuja ketangguhan seolah-olah menjadi kuat adalah kewajiban mutlak, sementara menjadi lelah atau rapuh dianggap sebagai aib nasional. Padahal, mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja itu justru bentuk kejujuran paling heroik yang bisa dilakukan manusia.
Di sinilah seni menerima diri itu bermain. Menerima diri itu bukan sekadar urusan memajang daftar kelebihan di CV atau pamer foto liburan dengan caption sok bijak. Menerima diri berarti mau berjabatan tangan dengan bagian-bagian diri yang selama ini kita benci: rasa takut, minder, sifat lambat, atau keraguan yang sering muncul tiba-tiba. Semua "cacat produksi" itu bukan tanda bahwa kita gagal menjadi manusia. Justru itu satu paket dengan kemanusiaan kita. Tidak ada pertumbuhan yang sehat kalau setiap pagi kita masih hobi berperang melawan bayangan sendiri di cermin.
Menerima diri juga berarti sadar bahwa kita memiliki kuota kekuatan yang terbatas. Ada hari-hari di mana gelisah datang tanpa izin, dan kita tidak punya cukup energi untuk menghadapinya dengan elegan. Ya sudah, tidak apa-apa. Langit tidak akan runtuh dan dunia tidak akan kiamat hanya karena kita butuh jeda untuk sekadar rebahan atau menangis sebentar. Berhentilah memaksa diri untuk selalu terlihat rapi secara emosional di depan orang lain. Menerima diri bukan berarti kita menyerah pada nasib, tetapi berhenti menyiksa diri sendiri dengan standar kesempurnaan yang aslinya cuma fiksi buatan iklan.
Lucunya, kita sering kali mencari pelarian instan agar tidak perlu mendengar suara keresahan itu. Kita scrolling media sosial sampai jempol keriting, kerja rodi sampai lupa makan, atau pura-pura sibuk agar pikiran tidak memiliki ruang untuk merenung. Padahal, di balik gelisah yang cerewet itu, sering kali tersimpan sinyal yang sangat sederhana: mungkin tubuhmu cuma butuh tidur delapan jam, hatimu minta didengarkan, atau mungkin jalur hidupmu memang perlu sedikit digeser agar lebih sinkron dengan hati nurani.
Keresahan itu bukan hantu yang harus dibakar dengan kemenyan motivasi. Dia lebih mirip kompas emosional. Kalau rasa cemas itu datang berkali-kali, itu kode dari semesta bahwa kita mungkin sedang menjalani hidup yang tidak sejalan dengan nilai-nilai pribadi kita sendiri. Jika kita membacanya sebagai pesan, bukan sebagai ancaman, keresahan justru membantu kita melakukan koreksi kecil sebelum kita tersesat makin jauh ke hutan rimba kehidupan yang penuh kepalsuan.
Sayangnya, budaya kita saat ini terlalu gila pada citra "aku baik-baik saja". Di luar senyum lebar, tetapi di dalam batin sedang terjadi tawuran antaremosi. Kita dilatih untuk menyembunyikan emosi yang dianggap negatif seolah-olah sedih dan cemas adalah tanda kelemahan mental. Akibatnya, emosi itu menumpuk, membusuk, dan tidak pernah benar-benar selesai. Padahal, emosi yang sering kita cap sebagai "musuh" itu justru menyimpan informasi penting tentang siapa kita sebenarnya. Mereka memberi petunjuk tentang masalah yang belum tuntas dan kebutuhan yang belum terpenuhi. Mendengarkan emosi bukan berarti kita cengeng atau larut di dalamnya, melainkan memberi ruang agar kita paham apa akar persoalannya.
Pada akhirnya, hidup ini bukan soal bagaimana cara menghilangkan keresahan sampai bersih total. Itu mustahil, kecuali kalau kita sudah berubah menjadi batu nisan. Hidup adalah soal belajar cara memahami keresahan dengan cara yang lebih kalem dan bijak. Setiap orang memiliki ritme dan prosesnya masing-masing, dan tidak ada emosi yang layak dianggap sebagai kegagalan. Ketenangan sejati tidak datang dari menolak rasa sakit, melainkan dari keberanian untuk menatapnya langsung di mata. Melambat dan mendengar suara hati mungkin terasa tidak populer di dunia yang serba mengebut ini, tetapi justru di sanalah kita belajar menerima diri apa adanya.
Karena setiap keresahan, sekecil apa pun, selalu membawa satu kemungkinan manis: kesempatan untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih jujur pada dirinya sendiri.
Baca Juga
-
Mens Rea Pandji Pragiwaksono dan KUHP Baru: Ketika Tawa Lebih Jujur dari Hukum
-
Beli Bahagia di Toko Buku: Kenapa Novel Romantis Jadi Senjata Hadapi Kiamat
-
Dilema Fatherless di Indonesia: Ayah Selalu Sibuk, Negara Selalu Kaget
-
Perselingkuhan Artis dan Standar Ganda: Mengapa Kita Gemar Melempar Batu Lewat Jempol?
-
Media Ngebut, Kebenaran Terengah-engah
Artikel Terkait
-
4 Zodiak yang Masuk Era Antagonis, Mulai Menjalani Hidup untuk Diri Sendiri
-
Terjebak dalam Kritik Diri, Saat Pikiran Jadi Lawan Terberat
-
PSSI Akhirnya Pecat Patrick Kluivert Dkk, DPR: Setuju! Ini Jawab Keresahan Publik
-
Prompt Gemini AI untuk Tren Foto Viral 'Bertemu Diri Sendiri', Auto Nostalgia
-
Memahami Diri Sendiri: Sebuah Renungan untuk Berdamai dengan Masa Lalu
Kolom
-
Suntikan Rp200 Triliun ke Perbankan: Benarkah Rakyat Ikut Terbatu?
-
Anomali Pendidikan: Hilangnya Rasa Takut, tapi Tak Ada Rasa Hormat
-
Dari Kaset ke SD Card: Bagaimana Teknologi Mengubah Cara Kita Mengabadikan Momen
-
Filosofi Warung Madura dan Seni Ngecer untuk Bertahan Hidup
-
Koperasi di Tahun 2026, Mungkinkah Menjadi Masa Depan Ekonomi Gen Z?