Menyambung dengan tulisan saya sebelumnya tentang takjil di masjid-masjid Yogyakarta, saya justru menemukan satu hal lainnya yang tidak kalah menarik untuk kita bicarakan. Entah ini bisa disebut sebagai sebuah bentuk dari kebijaksanaan kecil, atau malah ini merupakan life hack sederhana dalam menjalani Ramadan, akan tetapi pengalaman tahun ini diam-diam juga mengubah cara pandang saya atas pengeluaran ekonomi selama sebulan penuh berpuasa.
Ramadan sering kali diidentikkan dengan peningkatan konsumsi yang cukup signifikan. Anehnya ialah, bulan yang pada dasarnya merupakan anjuran manusia untuk menahan diri justru malah berubah sebaliknya menjadi musim berbelanja yang lebih intens ketimbang bulan-bulan biasanya. Menu berbuka harus terasa lebih beragam, lebih mewah dan menawan, dengan jajanan takjil yang terasa begitu menggoda dari biasanya, dan meja makan yang kadang terlalu penuh dengan makanan yang pada akhirnya justru tidak seluruhnya tersentuh untuk kita makan. Dalam banyak rumah tangga pula pengeluaran yang seharusnya bisa lebih hemat malah berubah menjadi peningkatan yang cukup terasa.
Namun pengalaman berbuka di masjid-masjid membawa saya pada pola yang cukup berbeda. Setiap sore, ketika waktu magrib semakin mendekat, jamaah berkumpul dengan cara yang hampir sama dan serentak: duduk di lantai, menunggu azan, lalu membuka puasa dengan apa yang sudah tersedia dihadapan kita. Ada air mineral, kurma, makanan ringan, dan tak lama kemudian sekotak nasi sederhana yang cukup untuk mengisi perut hingga malam pun tiba. Tidak ada pilihan menu yang panjang, tidak ada godaan untuk membeli ini dan itu, tidak ada kebutuhan untuk memasak terlalu banyak. Semua telah hadir secukupnya, tapi justru terasa cukup.
Tanpa kita sadari pula bahwa kebiasaan ini di bulan ramadan membawa dampak yang cukup signifikan atas pengeluaran kita. Banyak hari berlalu tanpa perlu membeli makanan tambahan yang sebenarnya tidak terlalu kita perlukan. Bukan karena sengaja untuk berhemat secara ketat, akan tetapi karena kebutuhan memang sudah terpenuhi dengan sederhana. Mungkin sebelumnya terasa sebagai sebuah pengeluaran rutin seperti jajan sore, minuman-minuman manis, atah sekedar makanan tambahan yang perlahan menjadi sesuatu yang tidak terlalu mendesak.
Dari situ saya mulai memahami bahwa bijak berkonsumsi tidak selalu berarti hidup dengan perhitungan yang kaku. Kadang ia lahir dari kebiasaan sosial yang sehat. Ketika kita berbagi ruang makan dengan banyak orang, kita belajar satu hal yang sering terlupakan: rasa cukup.
Ramadan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang menata ulang hubungan kita dengan kebutuhan. Tubuh kita sebenarnya tidak memerlukan terlalu banyak. Sering kali yang membuat kita merasa perlu membeli lebih adalah kebiasaan, bukan kebutuhan. Ketika kebiasaan itu berubah, misalnya dengan berbuka secara sederhana di masjid, cara kita melihat konsumsi pun ikut berubah.
Mungkin ini memang terdengar seperti hal kecil. Tetapi bagi saya, di situlah Ramadan bekerja dengan cara yang halus. Ia tidak selalu mengubah manusia lewat ceramah panjang atau nasihat yang keras. Kadang ia mengubah kita lewat pengalaman sehari-hari yang sederhana: duduk di lantai masjid, membuka kotak nasi, makan secukupnya, lalu menyadari bahwa ternyata hidup tidak membutuhkan sebanyak yang kita bayangkan.
Jika ada pelajaran lifestyle yang saya temukan dari Ramadan tahun ini, maka pelajaran itu bukan tentang menu berbuka yang paling mewah atau tempat takjil yang paling ramai. Ia justru tentang kesederhanaan yang diam-diam mengajarkan efisiensi. Tentang bagaimana kebersamaan bisa membuat konsumsi menjadi lebih bijak. Dan tentang bagaimana rasa cukup, ketika benar-benar dirasakan, sering kali menjadi bentuk kemewahan yang paling jarang kita sadari.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Beda Nuzulul Quran Dengan Lailatul Qadar, Ini Amalan yang Bisa Dilakukan
-
Analis Boni Hargens: Sinergi Polri dan Lembaga Negara Sukses Jaga Kondusivitas Ramadan
-
Puasa buat Perubahan Fisiologis, Begini Tips Jaga Kesehatan Kulit dari Skincare dan Asupan Nutrisi
-
4 Tips Jalani Ramadan versi Slow Living: Kurangi Drama, Perbanyak Makna
-
Gaji Rp2 Juta Zakat Berapa? Ini Hitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah
Lifestyle
-
Puasa dari Algoritma: Cara Bijak Berkonsumsi Media Sosial di Bulan Ramadan
-
Mindful Eating saat Puasa: Menghargai Makanan dan Mengendalikan Nafsu Berbuka
-
4 Tips Jalani Ramadan versi Slow Living: Kurangi Drama, Perbanyak Makna
-
Bijak Belanja saat Ramadan: Cara Menghindari Pengeluaran Membengkak
-
Motorola Razr Fold Cetak Rekor Kamera HP Lipat Terbaik di DXOMARK dengan Skor 164
Terkini
-
Jelang Jamu Persik Kediri, Bojan Hodak Dipusingkan dengan Masalah Ini!
-
Kenapa Pertanyaan 'Kapan Nikah' Selalu Muncul saat Lebaran?
-
Realitas Sosial Jalan Muharto: Wajah Lain Malang yang Jarang Terlihat
-
Raymond/Joaquin Libas Ganda China, Segel Tiket Semifinal All England 2026
-
Praktik Hukum yang Kian Rapuh di Novel Sui Generis