Bekerja keras sejak usia muda kerap dipandang sebagai modal utama untuk membangun masa depan yang mapan. Namun bagi banyak anak muda hari ini, kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menabung. Di berbagai kota besar, upah yang diterima sering kali habis untuk memenuhi kebutuhan dasar. Biaya sewa tempat tinggal, transportasi, makanan, hingga koneksi internet menyedot sebagian besar pendapatan bulanan.
Situasi ini semakin terasa di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak selalu diimbangi peningkatan upah. Anak muda yang baru memasuki dunia kerja berada pada posisi tawar yang lemah. Banyak dari mereka bekerja dengan status kontrak, tanpa jaminan pendapatan jangka panjang. Dalam kondisi demikian, menabung bukan soal disiplin semata, melainkan soal sisa yang nyaris tidak pernah ada.
Bagi sebagian pekerja muda, hidup dari gaji ke gaji menjadi realitas yang tidak terhindarkan. Setiap bulan dimulai dengan perhitungan ketat dan diakhiri dengan kekhawatiran. Ketika terjadi kebutuhan mendadak, seperti sakit atau kerusakan alat kerja, tabungan tidak tersedia sebagai bantalan. Pilihan yang tersisa sering kali adalah berutang atau menunda kebutuhan lain yang sama pentingnya.
Tekanan Sosial dan Struktur Kerja yang Rentan
Di luar persoalan biaya hidup, anak muda juga menghadapi tekanan sosial yang tidak kecil. Media sosial membentuk ekspektasi tentang gaya hidup yang dianggap wajar bagi generasi produktif. Nongkrong, bepergian, dan membeli barang penunjang penampilan sering kali dipersepsi sebagai bagian dari kehidupan normal pekerja muda. Tekanan ini membuat pengeluaran semakin sulit dikendalikan, meskipun pendapatan terbatas.
Namun menyederhanakan persoalan ini sebagai kegagalan individu juga tidak adil. Struktur kerja hari ini cenderung menciptakan ketidakpastian. Jam kerja panjang, target tinggi, dan beban kerja yang terus meningkat tidak selalu diikuti dengan kesejahteraan yang memadai. Banyak anak muda bekerja lebih dari satu pekerjaan untuk bertahan, tetapi tetap kesulitan menyisihkan pendapatan.
Minimnya perlindungan sosial turut memperparah keadaan. Jaminan kesehatan, pensiun, dan perlindungan tenaga kerja belum sepenuhnya menjangkau semua pekerja muda, terutama di sektor informal dan ekonomi digital. Tanpa perlindungan ini, setiap risiko hidup harus ditanggung sendiri. Akibatnya, tabungan yang semestinya menjadi alat perencanaan masa depan justru habis untuk mengatasi keadaan darurat.
Membangun Ketahanan Finansial Sejak Dini
Potret rapuh finansial anak muda menuntut respons yang lebih komprehensif. Upaya membangun ketahanan finansial tidak bisa hanya dibebankan pada individu. Negara dan dunia usaha memiliki peran penting dalam menciptakan sistem kerja yang lebih adil dan berkelanjutan. Upah layak, kepastian kerja, serta akses terhadap jaminan sosial adalah fondasi yang menentukan kemampuan menabung generasi muda.
Di sisi lain, literasi keuangan tetap menjadi bekal penting. Anak muda perlu memahami pengelolaan keuangan dasar, termasuk menyusun anggaran dan menetapkan prioritas. Namun literasi ini harus disertai dengan kondisi objektif yang memungkinkan. Nasihat menabung akan terdengar kosong jika pendapatan hanya cukup untuk bertahan hidup.
Membangun tabungan bukan semata soal menyiapkan masa depan individu, tetapi juga soal ketahanan sosial secara kolektif. Generasi muda yang tidak memiliki cadangan finansial akan lebih rentan terhadap guncangan ekonomi. Ketika krisis datang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat luas.
Kerja keras tanpa tabungan mencerminkan masalah struktural yang lebih dalam. Anak muda telah menunjukkan daya juang dan produktivitas. Tantangannya kini adalah memastikan bahwa kerja keras tersebut memberi ruang bagi harapan, bukan sekadar bertahan dari bulan ke bulan. Dengan kebijakan yang berpihak dan kesadaran bersama, tabungan tidak lagi menjadi kemewahan, melainkan hak yang realistis bagi generasi pekerja muda.
Baca Juga
-
Bela Istri dari Jambret Jadi Tersangka, Bagaimana Hukum Pidana Melihatnya?
-
Dating Apps dan Kesepian di Tengah Keramaian Kota
-
Krisis Hunian Layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
-
Bukan Sekadar Hiburan, Pop Culture Juga Mekanisme Bertahan Hidup Manusia Modern di Era Digital
-
Membongkar Mitos Kota Metropolitan: Apakah Masih Menjanjikan Masa Depan yang Lebih Baik?
Artikel Terkait
Kolom
-
ASN Baru dari Program MBG: Konsekuensi Panjang dan Nasib Keberlanjutan
-
Jika Kota Tidak Ramah Pejalan Kaki, Gaya Hidup Sehat Sulit Diwujudkan?
-
Bela Istri dari Jambret Jadi Tersangka, Bagaimana Hukum Pidana Melihatnya?
-
Antara Jurnal Scopus dan Kerokan: Membedah Pluralisme Medis di Indonesia
-
Ketika Pancasila Tak Lagi Dihafal, Tapi Dialami di Kelas
Terkini
-
Seri Kedua Novel Na Willa: Konflik dan Kisah Lama Masa Kanak-Kanak
-
35 Tahun Berlalu, Sam Raimi Sebut Sekuel Film Darkman Sedang Disiapkan
-
Shinji Koyote Umumkan Pernikahan, Tulis Surat Menyentuh untuk Penggemar
-
Review Film Primate (2025): Teror Mencekam Simpanse Ganas Tanpa Efek CGI
-
Ditunggu Fans, Jeno dan Jaemin Siap Debut Sub-unit NCT JNJM 23 Februari