M. Reza Sulaiman | Sri Rahayu
Ilustrasi lebaran (Freepik/Odua)
Sri Rahayu

Sebagai seorang ibu, momen silaturahmi yang seharusnya penuh tawa sering kali berubah menjadi medan perang batin saat pertanyaan "Mana calon menantunya?" atau "Kapan anaknya menyusul sepupunya?" mulai bergulir di tengah obrolan santai.

Melansir studi dari Journal of Family Psychology mengenai dinamika keluarga selama hari raya, ekspektasi sosial terhadap pencapaian anggota keluarga—seperti pernikahan—sering kali menjadi sumber utama ketegangan emosional antara orang tua dan anak.

Di sinilah penerapan "bijak berkonsumsi" versi saya diuji secara ekstrem; bukan soal konsumsi makanan atau belanjaan, melainkan bagaimana saya secara cerdas mengonsumsi dan mengelola energi emosional saya sendiri.

Saya menyadari bahwa kemarahan atau rasa malu yang muncul akibat pertanyaan tersebut adalah bentuk pemborosan energi yang tidak perlu dan justru bisa merusak hubungan saya dengan anak tercinta yang hingga kini masih betah menjomblo.

Keputusan saya untuk menghadapi pertanyaan tersebut dengan kepala dingin adalah bentuk proteksi terhadap kesehatan mental keluarga kami. Bijak berkonsumsi energi emosional berarti saya memilih untuk tidak "memakan" semua komentar pedas atau sindiran halus dari kerabat sebagai beban pikiran.

Saya mulai memahami bahwa banyak orang bertanya bukan karena benar-benar peduli, melainkan sekadar basa-basi atau bahkan ingin memvalidasi kesuksesan keluarga mereka sendiri. Dengan menyadari hal ini, saya berhenti merasa harus memberikan jawaban pembelaan yang panjang lebar.

Versi bijak saya adalah menjawab dengan senyuman dan kalimat singkat seperti, "Mohon doanya saja, ya, jodoh terbaik pasti datang di waktu yang tepat." Dengan begitu, saya menghemat cadangan kesabaran saya agar tidak meledak di rumah dan tidak menambah beban psikologis pada anak saya yang mungkin sebenarnya juga sedang berjuang dengan kegelisahan yang sama.

Keresahan yang sering saya jumpai di masyarakat adalah para ibu yang justru ikut menjadi "pelantang suara" bagi komentar-komentar negatif kerabat kepada anak mereka sendiri. Banyak ibu merasa malu jika anaknya belum menikah dan akhirnya malah menekan anak dengan tuntutan yang sama di rumah.

Namun, saya memilih jalan berbeda. Saya ingin menjadi tempat aman (safe space) bagi anak saya. Saya lebih memilih "mengonsumsi" rasa empati dan dukungan daripada mengonsumsi rasa gengsi sosial.

Saya percaya bahwa kebahagiaan anak saya tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia membawa menantu ke hadapan saya, melainkan seberapa berkualitas ia menjalani hidupnya saat ini. Saat saya tenang, anak pun akan merasa tenang, dan itulah kemenangan sejati di hari Idulfitri: saat hubungan ibu dan anak tetap solid di tengah gempuran ekspektasi orang lain.

Selain itu, mengelola energi emosional ini juga membantu saya untuk tetap fokus pada esensi silaturahmi yang sebenarnya, yaitu menyambung rasa kasih sayang.

Daripada sibuk memikirkan jawaban untuk menepis pertanyaan kepo, saya memilih untuk mengalihkan pembicaraan ke hal-hal positif lain yang telah anak saya capai, seperti kariernya yang stabil atau hobinya yang bermanfaat.

Inilah gaya hidup bijak yang sesungguhnya: kita yang menentukan nilai kesuksesan keluarga kita sendiri, bukan didikte oleh "standar Lebaran" yang sering kali kaku. Ternyata, saat kita berhenti merasa terbebani oleh pendapat orang lain, hidangan Lebaran terasa jauh lebih nikmat dan waktu kumpul keluarga menjadi jauh lebih bermakna tanpa ada rasa canggung.

Kemenangan Ramadan adalah kemenangan atas ego dan emosi diri sendiri. Bijak berkonsumsi energi sabar saat menghadapi pertanyaan "Mana menantu?" adalah bentuk kedewasaan spiritual seorang ibu.

Saya merasa jauh lebih ringan saat masuk ke rumah saudara dengan mental yang sudah terproteksi, tahu betul bahwa kebahagiaan keluarga saya adalah tanggung jawab saya, bukan konsumsi publik. Bagaimana dengan Moms di rumah?

Apakah Moms sudah menyiapkan "perisai kesabaran" buat menghadapi pertanyaan legendaris itu, atau masih sering kepikiran sampai susah tidur? Yuk, saling menguatkan agar kita tetap jadi ibu yang cool dan bijak di mata anak-anak kita!