Pernah tidak merasa ada standar yang berbeda ketika membicarakan laki-laki dan perempuan? Misalnya, ketika laki-laki gagal mencoba sesuatu, hal itu sering dianggap sebagai bagian dari proses belajar. Namun ketika perempuan mengalami kegagalan yang sama, respons dari lingkungan kadang terasa lebih berat.
Pengalaman semacam ini mungkin tidak selalu terlihat jelas, tetapi sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Mulai dari ekspektasi untuk selalu terlihat kuat, tuntutan untuk berhasil dalam berbagai peran, hingga penilaian sosial yang datang lebih cepat ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Dalam sebuah video yang dibagikan Ferry Irwandi di YouTubenya, ia menyinggung bagaimana perempuan sering kali memiliki “jatah gagal” yang terasa lebih sempit dibanding laki-laki. Artinya, ruang untuk mencoba, gagal, lalu mencoba lagi tidak selalu terasa sama.
Pernyataan ini menarik untuk dipikirkan lebih jauh. Dalam banyak situasi sosial, laki-laki memang sering terlihat memiliki lebih banyak kesempatan untuk mencoba berbagai hal. Jika satu usaha tidak berhasil, kegagalan tersebut kerap dianggap sebagai pengalaman yang wajar.
Sementara itu, perempuan sering berada di tengah berbagai ekspektasi yang datang bersamaan. Di satu sisi mereka didorong untuk berkembang dan mengejar mimpi. Namun di sisi lain, masih ada tuntutan sosial yang membuat setiap keputusan terasa lebih rumit.
Tekanan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Kadang ia muncul melalui komentar kecil, perbandingan yang tidak perlu, atau standar sosial yang tanpa sadar membuat seseorang merasa harus selalu “baik-baik saja”.
Hal-hal seperti ini perlahan bisa memengaruhi rasa percaya diri. Bahkan seseorang yang memiliki kemampuan, bakat, dan potensi besar pun bisa mulai meragukan dirinya sendiri ketika tekanan sosial terus datang dari berbagai arah.
Di titik inilah peran lingkungan menjadi penting. Dukungan dari pasangan, keluarga, maupun teman dapat menjadi ruang aman bagi seseorang untuk tetap mencoba dan berkembang.
Bagi saya, diskusi seperti ini bukan tentang membandingkan siapa yang memiliki hidup lebih sulit. Sebaliknya, ini menjadi pengingat bahwa setiap orang membutuhkan ruang yang sama untuk belajar dari kegagalan dan mencoba kembali.
Seperti yang disinggung Ferry, sering kali kita merasa sudah cukup memahami kondisi orang lain, padahal belum tentu benar-benar melihat tekanan yang mereka rasakan. Karena itu, menjadi lebih peka terhadap pengalaman orang di sekitar kita mungkin adalah langkah kecil yang bisa membuat perbedaan besar.
Baca Juga
-
Triumph Rocket 3 Storm R, Motor dengan Mesin Lebih Besar dari Innova Zenix
-
Hindia dan Dipha Barus Bicara Soal Generational Trauma di Lagu Baru "Nafas"
-
Cari Smartwatch G-Shock Termurah? GBD-200SM Punya Warna Unik dan Fitur Lari
-
Cuma Laptop ADVAN yang Berani Tempel Intel Core Ultra di Harga Rp7 Jutaan?
-
Cincin Bentuk Jam Tangan? G-Shock DWN-5600 Hadir dengan Konsep Tak Biasa
Artikel Terkait
-
Rahasia Mengapa Kepemimpinan Perempuan Jadi Kunci Sukses Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia
-
5 Mobil Mungil Mesin Reliabel Cocok untuk Dipakai Lama oleh Kaum Hawa: Irit, Murah, Pajak Enteng!
-
70% Perempuan Alami Kekerasan di Tempat Kerja, Ini Saatnya Benahi Sistem
-
Vladimir Putin Batuk, Amerika Serikat dan Sekutunya Ketar-ketir
-
Niat Zakat Fitrah untuk Adik Perempuan, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Kolom
-
Kasta Ekskul di Sekolah Negeri: Bakat yang Terhalang Isi Dompet
-
Pendidikan Tanpa SPP, Tapi Tidak Tanpa Beban: Membaca Pelanggaran Hak Anak
-
Narasi Politik yang Setengah Jadi di Balik Kampanye Sekolah Gratis
-
Bukan Gratis, tapi Sulit: Jeritan Pendidikan di Namorambe
-
Privilege Pendidikan: Les Privat dan Wajah Ketimpangan yang Kita Abaikan
Terkini
-
Jagoan Baru Anak Muda, Realme C100 Siap Rilis dengan Baterai 8000 mAh
-
Matinya Preman Pasar
-
Di Atas Dendam, Ada Martabat: Mengenal Sisi Intim Buya Hamka Lewat Memoar Anak
-
Sticky oleh NCT Wish: Hubungan Asmara Unik tapi Manis bak Hidangan Penutup
-
Siapa Wali Nikah Syifa Hadju? Ini Penjelasan dari Pihak Keluarga