Pernahkah Anda terbangun dengan perasaan segar yang luar biasa, namun sedetik kemudian jantung Anda seolah berhenti berdetak saat mendengar suara muazin mengumandangkan "Allahu Akbar, Allahu Akbar"?
Itu adalah momen paling horor bagi siapa pun yang sedang menjalankan ibadah puasa. Saya pernah merasakannya, menatap gelas air putih di samping tempat tidur dengan tatapan nanar, menyadari bahwa waktu sahur telah habis dan saya kalah telak oleh rasa kantuk.
Bagi sebagian orang, ketiduran saat sahur mungkin dianggap sebagai kelalaian sepele. Namun, jika kita melihat dari kacamata psikologi, fenomena ini adalah pengingat yang sangat tajam tentang keterbatasan manusia.
Melansir dari National Sleep Foundation, tubuh manusia memiliki ritme sirkadian yang sangat kuat, dan saat kita mencoba memaksanya tetap terjaga atau bangun di jam-jam "kritis" (seperti pukul tiga pagi), otak kita sering kali melakukan mekanisme pertahanan berupa microsleep atau bahkan mematikan alarm secara tidak sadar.
Di titik inilah saya mulai merenung. Kita sering kali merasa sebagai "superhuman" yang bisa mengatur segalanya. Kita merasa hebat karena sudah memasang tiga alarm dengan jeda lima menit, menyiapkan menu sahur yang bergizi, dan yakin bahwa kita punya kontrol penuh atas waktu. Namun ternyata, hanya dengan sedikit rasa kantuk yang dikirimkan Tuhan, semua rencana besar itu runtuh seketika.
Secara filosofis, ketiduran saat sahur adalah tamparan bagi ego kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa sombong karena prestasi, jabatan, atau harta. Namun, di hadapan rasa lapar yang harus ditahan tanpa bekal sahur, kita baru sadar betapa ringkihnya diri ini. Saya dipaksa mengakui bahwa saya hanyalah makhluk biologis yang sangat bergantung pada asupan energi dan waktu istirahat.
Dalam tradisi spiritual, momen "apes" ini sebenarnya mengajarkan kita tentang konsep tawakal yang paling dasar. Kita sudah berusaha (ikhtiar) dengan memasang alarm, namun hasilnya tetap di luar kendali kita.
Saya juga teringat kutipan sosiologis yang sering dibahas dalam konsep self-limitation, bahwa mengakui kelemahan diri adalah langkah awal untuk memiliki empati yang lebih besar kepada sesama. Dengan merasakan lemasnya tubuh karena tidak sahur, saya jadi lebih bisa merasakan penderitaan mereka yang kelaparan bukan karena ketiduran, melainkan karena memang tidak ada makanan di meja mereka.
Ramadan memang laboratorium kehidupan yang unik. Ia tidak hanya menguji ketahanan fisik kita saat berpuasa, tetapi juga menguji mental kita saat rencana tidak berjalan sesuai harapan. Ketiduran saat sahur mengajarkan saya untuk tidak terlalu "mendewakan" rencana pribadi dan lebih menghargai setiap detik waktu yang diberikan.
Kini, setiap kali saya berhasil bangun sahur tepat waktu, ada rasa syukur yang jauh lebih dalam. Saya tidak lagi merasa itu adalah hasil kerja keras alarm saya semata, melainkan izin dari Tuhan agar saya bisa mempersiapkan diri dengan baik.
Jadi, jika besok pagi Anda terbangun tepat saat azan Subuh berkumandang, janganlah mengutuk diri sendiri terlalu dalam. Tersenyumah, minumlah air sisa semalam (sebelum azan selesai jika memungkinkan, atau pasrahkan saja), dan sadarilah bahwa pagi itu Tuhan sedang menunjukkan satu hal sederhana: Anda hanyalah manusia biasa yang butuh bantuan-Nya, bahkan hanya untuk sekadar membuka mata.
Ternyata, menjadi lemah itu tidak selamanya buruk karena dari sanalah kita belajar untuk menjadi lebih rendah hati. Setuju?
Baca Juga
-
Pesta Buah di Hutan Ceria
-
Kenali Boreout: Ketika Bosan di Kantor Lebih Menyiksa dari Beban Kerja
-
Ketika Jatuh Cinta Berubah Jadi Dilema: Menyelami Kepedihan 'I LIKE U' Karya NIKI
-
Mendengar 'Sambutlah' Denada: Saat Tren TikTok Bikin Lagu 90-an Candu Lagi
-
Heboh Wajah Anak Artis Bocor di Medsos: Salah Netizen atau Orang Tua yang Over-Sharenting?
Artikel Terkait
-
Idulfitri Jalur Zen: Strategi Ibu-Ibu Hadapi Pertanyaan "Mana Calon Menantunya?".
-
Dari Menahan Lapar ke Menahan Nafsu Konsumsi di Bulan Ramadan
-
Anti-Mokel! Cara Bijak Atur Nutrisi agar Tetap Menyala di Ruang Kuliah
-
Puasa Seharusnya Sederhana, Kenapa Konsumsi Justru Meningkat?
-
Bijak Berkonsumsi Selama Ramadan: Menjaga Keseimbangan di Bulan Penuh Berkah
Kolom
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan
-
Anggaran MBG Membengkak, Apakah Semua Anak Benar-Benar Membutuhkannya?
-
Bukan Tak Peduli, Ketika Masyarakat Adat Takut Membela Tanahnya Sendiri
-
Kota Pelajar untuk Perantau, 32 Ribu Anak Malang Justru Tidak Sekolah
-
Mitos Self-Reward Liburan: Healing Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah Hidup
Terkini
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik
-
Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
-
Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!