Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia, terutama di media sosial dan portal berita, kerap dipenuhi oleh informasi yang memicu kegelisahan. Mulai dari konflik politik, polemik kebijakan publik, isu nepotisme, hingga kasus hukum yang berulang kali memunculkan rasa ketidakadilan.
Linimasa nyaris tak memberi jeda. Satu isu belum selesai, isu lain muncul dengan narasi yang sama-sama menguras emosi. Media sosial mempercepat penyebaran berita, sementara algoritma cenderung menampilkan konten yang memancing reaksi kuat, seperti kemarahan, kecemasan, dan ketakutan. Akibatnya, masyarakat terpapar secara terus-menerus pada kabar negatif tentang negara dan pengelolaannya.
Paparan yang berulang ini bukan hanya menguras emosi. Banyak individu melaporkan munculnya rasa cemas berlebihan, sulit berkonsentrasi, mudah tersulut emosi, hingga perasaan tidak berdaya sebagai warga negara.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan sosial, memicu sinisme, dan mengikis harapan terhadap masa depan. Situasi tersebut menjadi lebih kompleks ketika individu merasa tidak memiliki kontrol atas perubahan, tetapi tetap terpapar pada informasi yang menekan setiap hari.
Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep overexposure trauma. Overexposure trauma merujuk pada kondisi psikologis ketika seseorang terpapar secara berlebihan dan terus-menerus pada informasi traumatis hingga memunculkan respons stres yang menyerupai trauma.
Berbeda dengan trauma akibat satu peristiwa besar, overexposure trauma terbentuk perlahan, melalui akumulasi berita negatif, narasi krisis, dan ketidakpastian yang terus diulang dalam keseharian.
Negara sebagai Sumber Ancaman Psikologis
Dalam kondisi ideal, negara dipersepsikan sebagai sumber perlindungan dan stabilitas. Namun, ketika narasi yang dominan justru berkaitan dengan konflik, ketidakadilan, dan krisis kepercayaan, negara dapat berubah menjadi simbol ancaman psikologis. Individu mulai mengaitkan identitas kebangsaannya dengan rasa takut dan marah, bukan rasa aman.
Ketika berita tentang negara dipersepsi sebagai ancaman, tubuh dan pikiran merespons secara defensif. Sistem stres aktif secara kronis, memicu kelelahan emosional. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis masyarakat secara kolektif.
Media Sosial dan Siklus Paparan Tanpa Henti
Media sosial memainkan peran sentral dalam memperparah overexposure trauma. Fitur scrolling tanpa batas membuat individu sulit berhenti, sementara konten negatif sering kali lebih viral dibandingkan kabar positif. Tanpa disadari, individu terjebak dalam siklus konsumsi informasi yang melelahkan secara emosional.
Selain itu, media sosial menciptakan ilusi partisipasi. Individu merasa terlibat dengan memberi komentar atau membagikan berita, tetapi tanpa solusi nyata. Ketimpangan antara keterlibatan emosional dan ketidakberdayaan struktural inilah yang memperkuat rasa frustrasi dan stres.
Dampak Psikologis Jangka Panjang
Overexposure trauma tidak selalu tampak dalam bentuk gangguan berat. Melainkan hadir dalam bentuk kelelahan mental, apatisme, atau sikap sinis terhadap isu publik. Individu menjadi enggan mengikuti berita, tetapi juga merasa bersalah ketika menjauh dari informasi.
Ketika masyarakat mengalami kelelahan kolektif, partisipasi sipil menurun. Diskusi publik menjadi dangkal, penuh emosi, dan minim empati. Alih-alih mendorong perubahan, paparan berlebihan justru melumpuhkan daya kritis.
Mengelola Paparan, Merawat Kesehatan Mental
Menghadapi situasi ini, pengelolaan paparan informasi menjadi kunci. Membatasi waktu konsumsi berita, memilih sumber yang kredibel, serta memberi ruang jeda bagi diri sendiri bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan strategi menjaga kesehatan mental.
Di sisi lain, penting untuk membangun kembali makna partisipasi yang sehat. Terlibat dalam diskusi yang reflektif, komunitas berbasis solusi, atau aksi nyata berskala kecil dapat mengembalikan rasa kontrol dan harapan. Dalam kondisi ketika negara menjadi sumber stres, merawat kesehatan mental bukan hanya kebutuhan personal, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap kelelahan kolektif.
Di tengah derasnya arus berita negatif, overexposure trauma menjadi tantangan psikologis bagi masyarakat Indonesia. Ketika negara dan dinamika politiknya terus hadir sebagai sumber stres, menjaga kesehatan mental bukan lagi urusan personal semata, melainkan kebutuhan kolektif.
Dengan kesadaran akan batas diri dan pengelolaan paparan informasi yang bijak, masyarakat dapat bertahan tanpa kehilangan empati, harapan, dan daya kritis di tengah ketidakpastian.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tag
Baca Juga
-
Muramnya Tata Kelola Kekuasaan Indonesia: Nepotisme Jadi Budaya?
-
Belajar Tentang Cinta dan Penerimaan Lewat 'Can This Love Be Translated?'
-
Membaca Drama Can This Love Be Translated? Lewat Lensa Pengasuhan
-
Antara Empati dan Superioritas: Mengembalikan Makna Volunteer yang Berdampak
-
Psikologi di Balik Hadirnya Do Ra-mi dalam 'Can This Love Be Translated?'
Artikel Terkait
-
Jelang Ramadan, Pemerintah Diminta Percepat Belanja Negara Guna Stimulasi Kredit
-
Kemenkeu Siapkan 8 SBN Ritel di 2026, Target Raup Dana Rp 170 Triliun
-
Krisis Etika Komunikasi Pejabat: Negara Asbun dan Rakyat yang Kian Letih
-
Kemenkeu: Investor SBN Ritel 2025 Didominasi Kalangan Perempuan
-
Apel Akbar Guru Honorer, 2.900 Guru Madrasah Desak Status PPPK
Kolom
-
Muramnya Tata Kelola Kekuasaan Indonesia: Nepotisme Jadi Budaya?
-
Perdamaian Tanpa Palestina, Damai untuk Siapa?
-
Krisis Etika Komunikasi Pejabat: Negara Asbun dan Rakyat yang Kian Letih
-
Misi Damai di Luar, Kegelisahan di Dalam: Menggugat Legitiminasi Diplomasi
-
Bebas Aktif atau Bebas Selektif? Menyoal Kursi Indonesia di Forum Trump
Terkini
-
Maju Satu Pekan, Film Ready or Not 2: Here I Come Tayang 20 Maret 2026
-
Viral Video Jisoo BLACKPINK 'Diabaikan' di Hong Kong, BLINK Beri Pembelaan Menohok
-
Anti Bosan! Intip 4 Inspirasi Daily OOTD ala Yuta NCT 127!
-
Lingkaran Setan Side Hustle: Antara Tuntutan Hidup dan Ancaman Burnout Anak Muda
-
Hwang Minhyun Kembali Bintangi Study Group 2, Siap Hadirkan Aksi Baru!