Menjelang waktu berbuka puasa, pemandangan yang sering terjadi adalah meja penuh dengan berbagai jenis makanan. Mulai dari gorengan, kolak, es buah, hingga aneka takjil berwarna-warni. Banyak orang yang awalnya hanya berniat membeli satu atau dua makanan, tetapi akhirnya pulang membawa banyak pilihan hidangan.
Fenomena ini sering disebut sebagai “lapar mata”, yaitu kondisi ketika seseorang merasa ingin membeli atau mengambil lebih banyak makanan hanya karena tampilannya terlihat menggoda. Saat berpuasa, kondisi ini tampak lebih sering terjadi dibandingkan hari-hari biasa.
Fenomena lapar mata saat berbuka sebenarnya bukan sekadar soal keinginan sesaat. Ada berbagai faktor yang memengaruhi kondisi ini, mulai dari perubahan fisiologis tubuh hingga faktor psikologis.
Ketika seseorang menahan lapar dan haus selama berjam-jam, tubuh dan otak menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan yang berkaitan dengan makanan. Hal ini membuat warna, aroma, dan tampilan makanan terasa jauh lebih menarik dibandingkan biasanya.
Selain itu, suasana Ramadan juga ikut memengaruhi perilaku ini. Pasar takjil yang ramai, variasi makanan yang berlimpah, serta tradisi berbuka bersama membuat orang lebih mudah tergoda untuk mencoba berbagai hidangan. Kombinasi antara rasa lapar, rangsangan visual, dan suasana sosial akhirnya menciptakan fenomena “lapar mata” yang hampir dialami oleh banyak orang saat waktu berbuka tiba.
Peran Otak dan Hormon Saat Berpuasa
Saat berpuasa, tubuh mengalami perubahan hormon yang cukup signifikan. Salah satu hormon yang berperan adalah hormon ghrelin, yaitu hormon yang memicu rasa lapar. Ketika seseorang tidak makan selama beberapa jam, kadar ghrelin meningkat sehingga otak mengirimkan sinyal bahwa tubuh membutuhkan asupan energi.
Peningkatan hormon ini membuat otak menjadi lebih peka terhadap segala hal yang berhubungan dengan makanan. Akibatnya, ketika seseorang melihat makanan yang tampak lezat, otak akan merespons lebih kuat dibandingkan saat kondisi kenyang. Hal inilah yang membuat berbagai hidangan saat berbuka terlihat jauh lebih menggoda.
Pengaruh Visual dan Aroma Makanan
Mata dan penciuman memiliki peran besar dalam memicu selera makan. Warna makanan yang cerah, tekstur yang menarik, serta aroma yang harum dapat langsung merangsang pusat nafsu makan di otak. Ketika seseorang sedang lapar, rangsangan ini menjadi lebih kuat sehingga keinginan untuk mencoba makanan pun meningkat.
Inilah sebabnya mengapa makanan di pasar takjil sering disajikan dengan tampilan yang menarik. Penataan makanan, warna minuman yang beragam, hingga aroma gorengan yang baru diangkat dari penggorengan dapat memicu rasa lapar bahkan sebelum seseorang benar-benar mencicipinya.
Faktor Psikologis dan Kebiasaan Sosial
Selain faktor biologis, lapar mata juga dipengaruhi oleh faktor psikologis. Saat berpuasa, banyak orang memiliki keinginan untuk membalas rasa lapar yang telah ditahan sepanjang hari. Hal ini membuat seseorang cenderung membeli atau menyiapkan lebih banyak makanan daripada yang sebenarnya dibutuhkan.
Di sisi lain, tradisi berbuka bersama juga memperkuat kebiasaan ini. Ketika melihat orang lain membeli banyak makanan atau ketika dihadapkan pada berbagai pilihan hidangan, seseorang lebih mudah terdorong untuk melakukan hal yang sama. Tanpa disadari, keputusan tersebut sering didasarkan pada keinginan sesaat, bukan kebutuhan tubuh.
Fenomena lapar mata saat berbuka merupakan hal yang wajar dialami banyak orang selama bulan puasa. Perpaduan antara perubahan hormon, rangsangan visual, serta faktor psikologis membuat makanan terlihat jauh lebih menarik dibandingkan biasanya.
Namun, penting bagi kita untuk tetap mengontrol porsi makan dan memilih makanan secara bijak. Dengan begitu, momen berbuka puasa tetap menjadi waktu yang menyenangkan sekaligus menyehatkan bagi tubuh.
Baca Juga
-
Konspirasi Mohon Maaf Lahir Batin: Ritual Penghapusan Dosa atau Cuma Basa-Basi?
-
Kenapa Pertanyaan 'Kapan Nikah' Selalu Muncul saat Lebaran?
-
Femisida dan Pergeseran Narasi dalam Kasus UIN Suska
-
MBG dan Pergeseran Peran Psikologis Orang Tua
-
Ketika Seragam Mengaburkan Empati: Tragedi Tual dan Psikologi Kekuasaan
Artikel Terkait
-
Arti Taqabbalallahu Minna wa Minkum Taqabbal ya Karim dan Cara Menjawabnya
-
Keistimewaan Malam 27 Ramadan, Diyakini sebagai Malam Lailatul Qadar
-
5 Perbedaan Hampers dan Parcel yang Sering Tertukar, Simak Penjelasannya
-
Promo Hypermart Lebaran 2026, Sirup Marjan hingga Freiss Diskon Besar hingga Rp8 Ribuan
-
Resep Kastengel Premium Renyah Tahan Lama ala Chef Devina Hermawan
Kolom
-
Lebaran Sebentar Lagi! dr. Tirta Bagikan Tips agar THR Tak Boncos
-
Lebaranomics: Hotel Full, Jalan Macet, tapi Kas Daerah Kok Masih Seret?
-
Lailatul Qadar vs Algoritma: Menjaga Fokus di Tengah Badai Notifikasi
-
Lebih Berat di Perempuan? Mengupas Tuntas Tekanan Gagal yang Tak Terlihat
-
70% Perempuan Alami Kekerasan di Tempat Kerja, Ini Saatnya Benahi Sistem
Terkini
-
Xiaomi Luncurkan Mesin Cuci Pintar 2026: Fitur Canggih Harga Terjangkau
-
Anak Tantrum Karena Roblox Diblokir? Ini Strategi Agar Orang Tua Hadapi Krisis Digital Anak
-
Sinopsis Tiba-Tiba Setan: Berburu Harta di Hotel Angker Berujung Teror!
-
Wajah Auto Cerah Sebelum Lebaran Idulfitri! 4 Serum Terbaik Pudarkan PIH
-
Kenakalan Miss Keriting, si Guru Matematika di Novel Selena Karya Tere Liye