Menjelang waktu berbuka puasa, banyak orang mencari cara untuk mengisi waktu agar terasa lebih cepat berlalu. Ada yang memilih berjalan-jalan sore, menyiapkan hidangan berbuka, atau sekadar bersantai sambil menonton video di media sosial. Di tengah kebiasaan tersebut, fenomena menonton mukbang, yaitu video seseorang makan dalam porsi besar sambil berbincang menjadi salah satu tontonan yang cukup populer. Tidak sedikit orang yang justru sengaja menonton mukbang saat sedang berpuasa, terutama pada saat menjelang adzan magrib.
Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan menarik. Mengapa seseorang justru menonton video makanan ketika sedang menahan lapar dan haus? Bagi sebagian orang, melihat makanan yang menggugah selera bisa terasa seperti siksaan kecil. Namun bagi yang lain, mukbang justru dianggap hiburan ringan yang membuat waktu menunggu berbuka terasa lebih menyenangkan. Dari sudut pandang psikologi, kebiasaan ini dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme menarik yang berkaitan dengan emosi, imajinasi, dan kontrol diri.
Sensasi Makan Secara Tidak Langsung
Salah satu alasan orang menonton mukbang saat puasa adalah karena pengalaman sensorik yang muncul secara tidak langsung. Ketika melihat seseorang menikmati makanan, otak dapat memicu respons seolah-olah kita ikut merasakan pengalaman tersebut. Fenomena ini berkaitan dengan kemampuan otak untuk membayangkan rasa, tekstur, dan aroma makanan hanya dari visual yang dilihat.
Dalam psikologi, hal ini sering disebut sebagai vicarious experience atau pengalaman tidak langsung. Dengan menonton mukbang, seseorang bisa merasakan sensasi makan secara imajinatif tanpa benar-benar melakukannya. Bagi sebagian orang, pengalaman ini justru membantu mereka bertahan sampai waktu berbuka karena rasa penasaran terhadap makanan tersebut ditunda hingga saat adzan magrib tiba.
Distraksi dari Rasa Lapar
Menjelang berbuka, rasa lapar biasanya mulai terasa lebih kuat. Manusia cenderung mencari distraksi atau pengalihan perhatian agar fokus terhadap rasa lapar berkurang. Menonton video mukbang bisa menjadi salah satu bentuk distraksi yang cukup efektif bagi sebagian orang.
Ketika seseorang fokus pada cerita, ekspresi, atau interaksi dalam video mukbang, perhatian mereka tidak sepenuhnya tertuju pada rasa lapar yang sedang dirasakan. Secara psikologis, distraksi dapat membantu menurunkan intensitas ketidaknyamanan sementara. Inilah sebabnya mengapa beberapa orang merasa waktu menjelang berbuka terasa lebih cepat ketika mereka menonton konten yang menghibur, termasuk mukbang.
Antara Hiburan dan Godaan
Meski demikian, menonton mukbang saat puasa tidak selalu memberikan efek yang sama bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, melihat makanan yang menggugah selera justru membuat rasa lapar semakin kuat. Hal ini terjadi karena visual makanan dapat memicu respons fisiologis, seperti meningkatnya produksi air liur atau munculnya keinginan kuat untuk makan.
Di sisi lain, bagi orang yang memiliki kontrol diri yang baik, mukbang bisa menjadi sekadar hiburan tanpa memicu dorongan berlebihan untuk segera makan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pengalaman menonton mukbang saat puasa sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis individu, termasuk tingkat pengendalian diri, kebiasaan, serta cara seseorang memaknai tontonan tersebut.
Menonton mukbang saat puasa dapat dipahami sebagai fenomena yang unik dalam kehidupan digital saat ini. Bagi sebagian orang, mukbang menjadi hiburan ringan yang membantu mengalihkan perhatian sambil menunggu waktu berbuka. Namun bagi yang lain, tontonan tersebut justru bisa menjadi godaan yang membuat rasa lapar semakin terasa.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mengenali respons dirinya sendiri. Jika mukbang membuat waktu puasa terasa lebih menyenangkan, tidak ada salahnya menikmatinya. Namun jika justru memicu rasa lapar yang berlebihan, mungkin lebih baik mencari aktivitas lain yang lebih menenangkan hingga waktu berbuka tiba.
Baca Juga
-
Generasi Z dan Ilusi Kesuksesan Modern: Jabatan Masih Relevan Nggak Sih?
-
Luka yang Tidak Selesai: Membaca Trauma Han Seol-ah dalam Sirens Kiss
-
Lonjakan Harga Plastik dan Kebenaran yang Selama Ini Terabaikan
-
Kerja Bagai Kuda tapi Hidup Tetap Sama? Menelusuri Retaknya Meritokrasi di Indonesia
-
Makna Belajar yang Hilang di Balik Sistem Pendidikan Indonesia
Artikel Terkait
-
Lebih Bahaya dari Harga Pangan: Ancaman Krisis Air yang 'Disembunyikan' Selama Ramadan
-
Promo Minyak Goreng Indomaret Minggu Ini, Harga Mulai Rp35 Ribuan
-
Niat Bayar Zakat Fitrah Sekeluarga: Arab, Latin, dan Artinya
-
THR Maksimal Dibayarkan Kapan? Ini Batas Waktu Resmi dan Aturan Lengkapnya
-
Terungkap Detik-detik Gugurnya Ali Khamenei: Dibunuh Israel saat Sedang Baca Al Quran
Kolom
-
Bukan Gratis, tapi Sulit: Jeritan Pendidikan di Namorambe
-
Privilege Pendidikan: Les Privat dan Wajah Ketimpangan yang Kita Abaikan
-
Ilusi Sekolah Gratis: Kisah Siswa yang Rela Sekolah di Tengah Keterbatasan
-
Berjuang untuk Pendidikan Anak, Meski Tanpa Sekolah Gratis
-
Kuota, Sinyal, dan Ketimpangan yang Tak Pernah Masuk Kebijakan
Terkini
-
Sticky oleh NCT Wish: Hubungan Asmara Unik tapi Manis bak Hidangan Penutup
-
Siapa Wali Nikah Syifa Hadju? Ini Penjelasan dari Pihak Keluarga
-
Ulasan Novel Aku, Meps, dan Beps, Kehangatan Keluarga dalam Kesederhanaan
-
Battlefield Diangkat ke Layar Lebar, Michael B. Jordan Gabung Jadi Produser
-
Bergema Sampai Selamanya: Apresiasi Momen Kecil Bersama Kekasih