Hayuning Ratri Hapsari | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi asuransi (Pexels.com/Karolina Kaboompics)
Yayang Nanda Budiman

Generasi Z tumbuh di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga dinamika pasar kerja yang cepat menjadi bagian dari keseharian mereka. Ironisnya, di tengah tingginya risiko tersebut, asuransi belum sepenuhnya menjadi pilihan utama bagi banyak anak muda. Produk perlindungan ini sering kali berada di urutan belakang, kalah oleh kebutuhan hidup harian dan gaya hidup.

Bagi sebagian Gen Z, asuransi dianggap belum mendesak. Selama tubuh masih sehat dan usia masih muda, risiko sakit atau kecelakaan dipersepsikan sebagai sesuatu yang jauh. Pola pikir ini membuat asuransi dipandang sebagai beban pengeluaran, bukan sebagai investasi perlindungan. Premi bulanan sering kali kalah prioritas dibandingkan biaya sewa, transportasi, atau cicilan digital.

Selain soal prioritas, rendahnya pemahaman juga menjadi persoalan utama. Banyak anak muda tidak benar-benar mengerti perbedaan asuransi kesehatan, jiwa, maupun proteksi lainnya. Istilah polis, premi, klaim, dan pengecualian terasa asing dan rumit. Tanpa pengetahuan yang cukup, keputusan untuk mengambil asuransi justru memunculkan kecemasan baru, yakni takut salah memilih produk.

Antara Ketidakpercayaan dan Pengalaman Lingkungan Sekitar

Rasa takut juga memainkan peran besar dalam sikap Gen Z terhadap asuransi. Cerita tentang klaim yang ditolak, proses berbelit, atau manfaat yang tidak sesuai ekspektasi kerap beredar luas. Pengalaman orang tua atau kerabat menjadi referensi utama, terutama ketika informasi resmi sulit dipahami. Asuransi kemudian dipersepsi sebagai janji yang tidak selalu ditepati.

Di era media sosial, persepsi ini semakin kuat. Narasi negatif sering kali menyebar lebih cepat dibandingkan edukasi yang berimbang. Konten keuangan yang populer justru banyak menyoroti investasi cepat untung atau bisnis sampingan, sementara asuransi dianggap kurang menarik karena tidak menjanjikan keuntungan instan. Akibatnya, perlindungan jangka panjang kalah pamor dari potensi cuan jangka pendek.

Kondisi kerja Gen Z juga turut memengaruhi. Banyak dari mereka bekerja dengan status kontrak, lepas, atau di sektor informal. Pendapatan yang tidak stabil membuat komitmen membayar premi terasa berisiko.

Ketakutan tidak mampu membayar secara konsisten membuat sebagian anak muda memilih menjauh dari asuransi sejak awal. Dalam situasi ini, ketidakpercayaan bukan semata sikap irasional. Ia lahir dari pengalaman, lingkungan, dan kondisi struktural yang nyata. Tanpa perubahan pendekatan, jarak antara Gen Z dan asuransi akan terus melebar.

Membangun Literasi dan Kepercayaan Sejak Dini

Menjembatani kesenjangan ini membutuhkan upaya bersama. Literasi keuangan, khususnya tentang asuransi, perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan kontekstual. Gen Z perlu memahami bahwa asuransi bukan alat mencari untung, melainkan mekanisme berbagi risiko.

Manfaatnya mungkin tidak langsung terasa, tetapi krusial saat keadaan darurat datang. Industri asuransi juga dituntut beradaptasi. Produk yang fleksibel, premi terjangkau, dan proses klaim yang transparan menjadi kunci membangun kepercayaan. Digitalisasi tidak cukup berhenti pada kemudahan pendaftaran, tetapi harus memastikan informasi mudah diakses dan dipahami. Tanpa transparansi, keraguan akan terus menguat.

Peran negara dan institusi pendidikan tidak kalah penting. Edukasi mengenai perlindungan finansial seharusnya diperkenalkan sejak dini, seiring dengan literasi digital dan kewirausahaan. Asuransi perlu diposisikan sebagai bagian dari perencanaan hidup, bukan sekadar produk jualan.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang asuransi bagi Gen Z bukan hanya soal perlu atau tidak. Ia menyangkut pemahaman, kepercayaan, dan relevansi dengan realitas hidup mereka. Di dunia yang penuh risiko, asuransi dapat menjadi penyangga penting. Tantangannya adalah memastikan bahwa generasi muda tidak lagi takut atau tak paham, melainkan mampu memilih secara sadar dan rasional.