Generasi Z tumbuh di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga dinamika pasar kerja yang cepat menjadi bagian dari keseharian mereka. Ironisnya, di tengah tingginya risiko tersebut, asuransi belum sepenuhnya menjadi pilihan utama bagi banyak anak muda. Produk perlindungan ini sering kali berada di urutan belakang, kalah oleh kebutuhan hidup harian dan gaya hidup.
Bagi sebagian Gen Z, asuransi dianggap belum mendesak. Selama tubuh masih sehat dan usia masih muda, risiko sakit atau kecelakaan dipersepsikan sebagai sesuatu yang jauh. Pola pikir ini membuat asuransi dipandang sebagai beban pengeluaran, bukan sebagai investasi perlindungan. Premi bulanan sering kali kalah prioritas dibandingkan biaya sewa, transportasi, atau cicilan digital.
Selain soal prioritas, rendahnya pemahaman juga menjadi persoalan utama. Banyak anak muda tidak benar-benar mengerti perbedaan asuransi kesehatan, jiwa, maupun proteksi lainnya. Istilah polis, premi, klaim, dan pengecualian terasa asing dan rumit. Tanpa pengetahuan yang cukup, keputusan untuk mengambil asuransi justru memunculkan kecemasan baru, yakni takut salah memilih produk.
Antara Ketidakpercayaan dan Pengalaman Lingkungan Sekitar
Rasa takut juga memainkan peran besar dalam sikap Gen Z terhadap asuransi. Cerita tentang klaim yang ditolak, proses berbelit, atau manfaat yang tidak sesuai ekspektasi kerap beredar luas. Pengalaman orang tua atau kerabat menjadi referensi utama, terutama ketika informasi resmi sulit dipahami. Asuransi kemudian dipersepsi sebagai janji yang tidak selalu ditepati.
Di era media sosial, persepsi ini semakin kuat. Narasi negatif sering kali menyebar lebih cepat dibandingkan edukasi yang berimbang. Konten keuangan yang populer justru banyak menyoroti investasi cepat untung atau bisnis sampingan, sementara asuransi dianggap kurang menarik karena tidak menjanjikan keuntungan instan. Akibatnya, perlindungan jangka panjang kalah pamor dari potensi cuan jangka pendek.
Kondisi kerja Gen Z juga turut memengaruhi. Banyak dari mereka bekerja dengan status kontrak, lepas, atau di sektor informal. Pendapatan yang tidak stabil membuat komitmen membayar premi terasa berisiko.
Ketakutan tidak mampu membayar secara konsisten membuat sebagian anak muda memilih menjauh dari asuransi sejak awal. Dalam situasi ini, ketidakpercayaan bukan semata sikap irasional. Ia lahir dari pengalaman, lingkungan, dan kondisi struktural yang nyata. Tanpa perubahan pendekatan, jarak antara Gen Z dan asuransi akan terus melebar.
Membangun Literasi dan Kepercayaan Sejak Dini
Menjembatani kesenjangan ini membutuhkan upaya bersama. Literasi keuangan, khususnya tentang asuransi, perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan kontekstual. Gen Z perlu memahami bahwa asuransi bukan alat mencari untung, melainkan mekanisme berbagi risiko.
Manfaatnya mungkin tidak langsung terasa, tetapi krusial saat keadaan darurat datang. Industri asuransi juga dituntut beradaptasi. Produk yang fleksibel, premi terjangkau, dan proses klaim yang transparan menjadi kunci membangun kepercayaan. Digitalisasi tidak cukup berhenti pada kemudahan pendaftaran, tetapi harus memastikan informasi mudah diakses dan dipahami. Tanpa transparansi, keraguan akan terus menguat.
Peran negara dan institusi pendidikan tidak kalah penting. Edukasi mengenai perlindungan finansial seharusnya diperkenalkan sejak dini, seiring dengan literasi digital dan kewirausahaan. Asuransi perlu diposisikan sebagai bagian dari perencanaan hidup, bukan sekadar produk jualan.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang asuransi bagi Gen Z bukan hanya soal perlu atau tidak. Ia menyangkut pemahaman, kepercayaan, dan relevansi dengan realitas hidup mereka. Di dunia yang penuh risiko, asuransi dapat menjadi penyangga penting. Tantangannya adalah memastikan bahwa generasi muda tidak lagi takut atau tak paham, melainkan mampu memilih secara sadar dan rasional.
Baca Juga
-
Urbanisasi Cepat dan Hilangnya Ruang Hidup Berkelanjutan
-
Quarter-Life Crisis di Kota Besar: Masalah Personal atau Sistemik?
-
Mimpi Financial Freedom di Tengah Realitas Ekonomi yang Tidak Ramah
-
Fleksibilitas atau Eksploitasi? Menakar Nasib Pekerja Gig di Indonesia
-
Krisis Empati dan Menakar Batas Etika Saat Mendengar Kabar Duka
Artikel Terkait
-
Biaya Pendidikan Anak Naik? Ini Rahasia Keluarga Muda Amankan Masa Depan Tanpa Pusing Finansial
-
Purbaya Naikkan Limit Investasi Saham Dana Pensiun dan Asuransi Jadi 20 Persen, Batasi di LQ45
-
Tren Baju Lebaran 2026 Ramai Diburu Gen Z Bandung: Renda Berlapis hingga Soft Pastel
-
Zodiak Cinta 2026: Cara Seru Gen Z Ngobrolin Hubungan Tanpa Drama
-
GEN Prime Link Meluncur, Tawarkan Bonus Proteksi hingga 200 Persen
Kolom
-
Guru Honorer: Solusi Darurat yang Menjadi Masalah Permanen
-
Healing ke Mana-mana, Pulang-pulang Tetap Ingin Resign
-
Ketika Guru Jadi Pilihan Terakhir: Krisis Talenta dan Masa Depan Pendidikan Indonesia
-
Fetisisme Kesibukan: Saat Lelah Menjadi Simbol Status Sosial
-
Prilly Latuconsina Pasang 'Open to Work' di LinkedIn: Gimmick Marketing yang Nirempati?
Terkini
-
Golden dari KPop Demon Hunters Jadi Lagu K-pop Pertama yang Menang Grammy Awards
-
Film Live Action Blue Lock Bagikan Visual Yuzu Aoki sebagai Gurimu Igarashi
-
Gabung Persija Jakarta, Mauro Zijlstra Berpeluang Main di AFF Cup 2026!
-
Ready or Not 2: Here I Come Tayang Lebih Awal, Siap Rilis 27 Maret 2026
-
6 Zodiak yang Punya Aura Mahal Alami: Tetap Berkelas Meski Tampil Sederhana!