Menjelang akhir tahun, kosakata kita mendadak menciut. Semua keluhan, mulai dari laptop yang lambat sampai atasan yang hobi memberikan revisi pada hari Minggu, hanya memiliki satu obat penawar: healing. Istilah ini muncul di mana-mana seperti jamur pada musim hujan, atau lebih tepatnya, seperti iklan pinjaman daring (pinjol) di SMS. Masuk ke media sosial, isinya sudah seperti brosur agen travel. Isinya foto kaki selonjoran di depan pantai, kopi estetik di pegunungan yang berkabut, atau mirror selfie di kamar hotel bintang lima yang harganya setara dengan cicilan motor bulanan.
Caption-nya? Seragam sekali: “Healing dulu, Bestie.” Seolah-olah hidup kita ini hanya butuh satu tombol restart bernama sarapan prasmanan hotel agar semua masalah selesai.
Dahulu, kalau orang lelah, mereka akan diam. Merenung. Atau paling banter tidur seharian di kamar sambil mendengarkan lagu galau. Namun sekarang, healing sudah naik kasta. Ia bukan lagi proses batin yang sunyi, melainkan agenda wisata yang berisik. Bahkan, kalau boleh jujur, healing zaman sekarang lebih mirip agenda belanja daripada pemulihan jiwa. Begitu merasa stres sedikit, yang dibuka bukan aplikasi meditasi, melainkan aplikasi pesan tiket pesawat. Pertanyaannya: Kita ini benar-benar sembuh, atau hanya pindah lokasi lelah saja?
Di mata generasi milenial dan Gen Z, makna healing ini memang sudah mengalami inflasi besar-besaran. Healing menjadi identik dengan jalan-jalan, berkumpul di kafe yang pencahayaannya bagus untuk Instagram, atau membeli skincare mahal dengan dalih self-reward. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Manusia memang butuh jeda. Namun masalahnya, healing sekarang sudah berubah dari kebutuhan psikologis menjadi gaya hidup visual.
Hari ini, kalau healing tidak kelihatan di Instagram Story, rasanya seperti belum sah sembuh. Harus ada bukti digital bahwa kita sedang merawat diri. Media sosial sukses menyulap liburan menjadi simbol status: kalau kamu bisa liburan, berarti hidupmu baik-baik saja. Kalau bisa staycation, berarti mentalmu aman. Kalau tidak? Ya, mungkin kamu kurang self-love, atau sesederhana kurang saldo.
Di sinilah letak jebakannya. Healing menjadi sebuah performa. Kita tidak hanya ingin merasa lebih baik, tetapi kita "ingin terlihat" baik-baik saja di mata orang lain. Ini yang disebut konsumerisme emosional. Kita sedang stres, lalu solusinya adalah membeli rasa lega. Beli tiket, beli pengalaman, beli konten. Rasanya memang enak, seperti minum es kopi susu gula aren saat cuaca panas. Manis, segar, tetapi hanya sebentar. Begitu esnya mencair dan gulanya habis, jantung kita malah berdebar karena sadar hari Senin sudah di depan mata.
Akhirnya, kita terjebak di lingkaran setan. Lelah kerja, lalu healing. Lelah kuliah, lalu healing. Begitu terus sampai saldo habis. Kita mengobati setiap kelelahan dengan konsumsi, padahal akar masalahnya masih "nongkrong" manis di meja kantor: beban kerja yang tidak masuk akal, tuntutan sosial yang makin gila, dan hidup yang kompetisinya sudah seperti balapan F1 tetapi tanpa pit stop.
Bukannya sembuh, kita sebenarnya hanya sedang melakukan manajemen penundaan. Menunda rasa lelah, menunda kecemasan, dan menunda pertanyaan besar: "Kenapa sih aku menjalani hidup yang sebenarnya tidak aku sukai ini?"
Tentu saja, saya tidak mau menjadi orang paling menyebalkan yang menyalahkan liburan. Liburan itu penting. Berkumpul dengan teman itu perlu. Namun, healing kehilangan maknanya saat kita tidak mau "pulang" ke diri sendiri. Kita pergi jauh-jauh hanya untuk lari, bukan untuk refleksi. Kita tahu kenapa kita lelah, tetapi kita lebih memilih membayar hotel daripada memperbaiki pola hidup atau berani bilang "tidak" pada tuntutan yang merusak mental.
Pemulihan mental itu seringnya tidak estetis. Tidak bisa difoto menggunakan filter aesthetic. Ia terjadi saat kita berani duduk diam, mengakui kalau kita hancur, dan menerima bahwa semua masalah tidak akan selesai hanya dengan sekali check-in di Bali. Kadang, healing yang paling nyata adalah keberanian menghadapi hal-hal yang selama ini kita hindari di balik layar ponsel.
Jadi, jujur saja. Tidak semua lelah itu obatnya koper. Tidak semua luka itu butuh destinasi baru. Kadang kita hanya butuh berhenti sejenak, menaruh HP, dan bertanya ke diri sendiri: "Aku ini sebenarnya butuh tiket pesawat, atau butuh keberanian untuk mengubah cara hidup?"
Kalau setelah bertanya begitu kamu tetap mau liburan, ya silakan. Namun, pastikan kamu pergi untuk pulih, bukan untuk kabur dari kenyataan yang bakal tetap menunggumu di depan pintu rumah saat kamu pulang nanti.
Baca Juga
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
-
Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Jangan-jangan Ini Jawabannya
Artikel Terkait
-
8 Ciri-Ciri Mental Miskin, Diam-Diam Bisa Merusak Masa Depan
-
Kota yang Bising, Pikiran yang Lelah: Apa Kabar Kesehatan Mental Anak Muda?
-
Mengenal Mental Miskin dari Sudut Pandang Psikologi, Pola Pikir yang Bisa Menghambat Kesuksesan
-
Fetisisme Kesibukan: Saat Lelah Menjadi Simbol Status Sosial
-
7 Ide Outfit ala Yuki Kato untuk Kamu yang Ingin Solo Traveling
Kolom
-
Etika Berkomunikasi bagi Pemandu Acara: Pelajaran dari Panggung LCC Kalbar
-
Menanti Taji BPKP: Saat Prabowo Mulai Bersih-Bersih Rumah Birokrasi
-
Ironi Literasi di Indonesia: Buku Masih Terlalu Mahal bagi Banyak Orang
-
Paylater dan Gaya Hidup Gen Z: Solusi Praktis atau Jebakan Finansial?
-
Ironi Pelemahan Rupiah: Mengapa Masyarakat Desa Menanggung Beban Terberat?
Terkini
-
Bikin Penonton Ikut Sedih, Begini Sisi Tragis Yoon Yi Rang di Perfect Crown
-
Samsung Kini Jual HP Refurbished Resmi, Harga Flagship Jadi Makin Worth It!
-
Manga GIGANT Karya Hiroya Oku Resmi Diadaptasi jadi Film Anime Layar Lebar
-
Film The Square, Pria Modern yang Sibuk Pencitraan dan Krisis Emosional
-
Review Serial My Royal Nemesis: Suguhkan Intrik Selir dengan Twist Modern