Di kota besar, usia dua puluhan hingga awal tiga puluhan sering digambarkan sebagai fase paling produktif dalam hidup. Ini adalah periode ketika seseorang diharapkan telah menemukan arah karier, memiliki kestabilan finansial awal, dan mulai “menata masa depan”. Namun, realitas yang dialami banyak anak muda justru bertolak belakang. Alih alih merasa mantap, tidak sedikit yang terjebak dalam kecemasan, kebingungan identitas, dan rasa tertinggal. Fenomena ini dikenal sebagai quarter-life crisis.
Pertanyaannya kemudian muncul: apakah quarter-life crisis sekadar persoalan pribadi, akibat ketidakmampuan individu mengelola ekspektasi hidupnya, atau justru gejala dari sistem sosial ekonomi kota besar yang semakin tidak ramah bagi generasi muda?
Kota Besar dan Beban Ekspektasi yang Menumpuk
Kota besar adalah ruang dengan tempo cepat dan standar tinggi. Kesuksesan diukur melalui pencapaian yang kasat mata: jabatan, gaji, kepemilikan aset, dan gaya hidup. Media sosial memperparah tekanan ini dengan menghadirkan etalase kesuksesan yang tampak instan dan seragam. Di linimasa, usia 25 sudah tampak mapan, usia 30 harus stabil, dan kegagalan jarang mendapat ruang untuk tampil apa adanya.
Bagi banyak anak muda, ekspektasi ini menimbulkan rasa cemas yang konstan. Mereka merasa selalu tertinggal, meski telah bekerja keras. Pekerjaan pertama sering kali tidak sesuai harapan, gaji habis untuk biaya hidup, dan waktu untuk refleksi diri nyaris tidak tersedia. Kota besar, dengan segala peluangnya, juga menjadi ruang perbandingan yang tidak ada habisnya.
Dalam kondisi ini, quarter-life crisis kerap dipersepsikan sebagai kegagalan personal. Individu menyalahkan dirinya sendiri karena belum mencapai standar yang ditetapkan, tanpa sempat mempertanyakan apakah standar tersebut realistis dan adil.
Struktur Ekonomi yang Tidak Bersahabat
Jika ditelisik lebih jauh, kegelisahan generasi muda di kota besar tidak lahir di ruang hampa. Ia berkaitan erat dengan struktur ekonomi yang semakin menekan. Biaya hidup meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan upah. Harga sewa tempat tinggal di pusat kota menguras sebagian besar pendapatan, sementara keamanan kerja semakin rapuh akibat kontrak jangka pendek dan sistem kerja fleksibel yang minim perlindungan.
Di sisi lain, jalur mobilitas sosial semakin menyempit. Pendidikan tinggi yang dulu dianggap tiket menuju kestabilan kini tidak lagi menjamin pekerjaan layak. Banyak lulusan perguruan tinggi bekerja di sektor yang tidak sesuai bidangnya, atau berpindah-pindah pekerjaan tanpa kepastian karier jangka panjang. Kondisi ini membuat perencanaan hidup menjadi sulit, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti menabung atau membangun keluarga.
Dalam konteks ini, quarter-life crisis tidak bisa dilepaskan dari persoalan sistemik. Kebingungan dan kecemasan bukan semata hasil dari kurangnya ketangguhan mental, tetapi respons wajar terhadap ketidakpastian struktural yang dialami secara kolektif.
Antara Tanggung Jawab Individu dan Perubahan Sistem
Mengakui dimensi sistemik dari quarter-life crisis bukan berarti meniadakan peran individu. Setiap orang tetap perlu mengelola kesehatan mental, mengenali batas dirinya, dan mendefinisikan ulang makna sukses secara personal. Namun, narasi yang terlalu menekankan self-improvement sering kali problematik karena mengabaikan konteks sosial yang lebih luas.
Kota besar membutuhkan lebih dari sekadar motivasi individu. Ia memerlukan kebijakan publik yang berpihak pada generasi muda: perumahan terjangkau, upah layak, jaminan kerja, serta akses layanan kesehatan mental yang mudah dan tidak distigmatisasi. Tanpa itu, anjuran untuk “lebih sabar” atau “lebih giat berusaha” hanya akan terdengar kosong.
Di sisi lain, anak muda juga mulai menunjukkan upaya perlawanan kultural. Banyak yang memilih jalur karier non-konvensional, menunda milestone hidup yang dianggap wajib, atau bahkan meninggalkan kota besar demi kualitas hidup yang lebih seimbang. Pilihan-pilihan ini sering disalahpahami sebagai kemunduran, padahal bisa jadi merupakan bentuk adaptasi rasional terhadap sistem yang tidak lagi menjanjikan stabilitas.
Menyikapi Quarter-Life Crisis Secara Kolektif
Quarter-life crisis di kota besar seharusnya tidak dipandang sebagai aib personal. Ia adalah sinyal sosial bahwa ada yang tidak beres dalam cara kita mengelola harapan, pekerjaan, dan kehidupan urban. Dengan melihatnya sebagai persoalan kolektif, ruang diskusi menjadi lebih luas dan empatik.
Alih alih bertanya “mengapa aku belum sampai”, mungkin pertanyaan yang lebih relevan adalah “sampai ke mana sistem ini memungkinkan kita melangkah”. Dari sana, diskusi tentang kesehatan mental, kebijakan ekonomi, dan masa depan kota bisa bergerak ke arah yang lebih jujur dan solutif. Pada akhirnya, quarter-life crisis bukan hanya tentang krisis usia, tetapi tentang krisis arah. Dan di kota besar, krisis ini mencerminkan ketegangan antara mimpi individual dan realitas struktural yang semakin sulit dijembatani.
Baca Juga
-
Mimpi Financial Freedom di Tengah Realitas Ekonomi yang Tidak Ramah
-
Fleksibilitas atau Eksploitasi? Menakar Nasib Pekerja Gig di Indonesia
-
Krisis Empati dan Menakar Batas Etika Saat Mendengar Kabar Duka
-
Kerja Keras Tanpa Tabungan: Potret Rapuh Finansial Anak Muda
-
Bela Istri dari Jambret Jadi Tersangka, Bagaimana Hukum Pidana Melihatnya?
Artikel Terkait
-
Ketika Akses Ditutup, Risiko Tak Hilang: Pelajaran dari Larangan Media Sosial
-
MBG Bertransformasi: dari Piring Makan ke Jaring Pengaman Sosial
-
Sunscreen Apa yang Bagus untuk Kulit Bruntusan? Ini 5 Pilihan yang Layak Dicoba
-
Krisis Ketahanan Emosional Remaja: Pelajaran di Balik Kasus Pengeroyokan Guru SMK
-
Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: Di Balik Janji Dai Nippon
Kolom
-
Kerja Sosial: Saat Negara Mulai Kapok Memenjarakan Semua Orang
-
Pelarangan Elephant Riding: Bukti Suara Kita Punya Impact Besar pada Alam!
-
Negara yang Sigap pada Pedagang Es Gabus, tapi Tertatih Menghadapi yang Berkuasa
-
Analisis Linguistik: Evaluasi Struktur Bahasa Ikrar Pelajar Indonesia
-
Chipset Ngebut tapi Mubazir: Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?
Terkini
-
Update Skandal Narkoba Korea 2026: Jurnalis Ungkap Hwang Hana Sebut Nama Figur Publik
-
Viral! Pengantin Wanita Minta Foto Suami Diedit Kurus, Hasilnya Malah Bikin Ngakak Guling-guling
-
4 Ide Outfit Rok Mini ala Kim Hye Yoon yang Simpel tapi Bikin Gayamu Chic
-
5 Drama Rom-Com Park Shin Hye Paling Seru, Terbaru Undercover Miss Hong
-
Memaknai Persahabatan, Kematian, dan Kebebasan dalam Novel 3 (Tiga)