M. Reza Sulaiman | Raja Lubis
Badge "open to work" Prilly (Dokumentasi/instagram/@prillylatuconsina96)
Raja Lubis

Bagi jutaan orang, lingkaran hijau di profil LinkedIn adalah doa dan harapan terakhir untuk menyambung hidup. Namun, bagi Prilly, itu hanya strategi marketing.

LinkedIn belakangan ini geger. Bukan karena ada startup baru yang mendadak unicorn, melainkan karena munculnya status "Open to Work" di profil Prilly Latuconsina. Awalnya, jagat maya bersimpati. Prilly baru saja mengumumkan mundur dari Sinemaku Pictures, rumah produksi yang ia bangun sendiri. Narasi yang terbangun adalah: "Wah, bahkan sekaliber Prilly pun berani memulai dari nol lagi."

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kekaguman itu berubah menjadi kecurigaan, lalu bermuara pada kritik tajam. Publik mulai mencium aroma gimmick marketing di balik lingkaran hijau tersebut. Jika benar ini hanyalah sebuah kampanye merek (brand campaign), maka kita sedang menyaksikan sebuah fenomena komunikasi yang cukup berbahaya: komodifikasi perjuangan.

Ketika Simbol Kelangsungan Hidup Menjadi Aksesori Konten

Prilly beserta kekasihnya, Omara Esteghlal

Keberatan terbesar warganet, menurut saya, terletak pada penyalahgunaan simbol. Di dunia profesional, lingkaran hijau "Open to Work" bukanlah sekadar hiasan profil. Bagi jutaan orang, simbol itu adalah bendera darurat. Ia mewakili kecemasan kepala keluarga yang baru saja terkena PHK, keputusasaan fresh graduate yang sudah mengirim ratusan lamaran namun nihil balasan, atau pejuang nafkah yang tabungannya mulai menipis.

Bagi kebanyakan orang, "Open to Work" adalah usaha serius untuk menyambung hidup.

Ketika Prilly—seorang pesohor dengan privilese melimpah, jaringan luas, dan kekayaan yang mapan—menggunakan fitur ini sebagai alat promosi, terjadi pergeseran makna yang nirempati. Sesuatu yang bagi orang lain adalah "perjuangan hidup", bagi Prilly dan brand yang ada di belakangnya hanya dianggap sebagai "alat viralitas". Ini adalah titik ketika gimmick marketing mulai menyinggung perasaan kolektif kelas pekerja.

Dalam keilmuan sales, strategi ini dikenal dengan istilah bait-and-switch. Audiens dipancing dengan narasi kemanusiaan atau kerentanan (seolah-olah Prilly sedang mencari kerja), hanya untuk kemudian ditukar dengan iklan produk.

Masalahnya, audiens LinkedIn sangat berbeda dengan audiens Instagram atau TikTok. LinkedIn adalah ekosistem yang dibangun di atas nilai profesionalisme dan kejujuran karier. Melakukan gimmick di sini ibarat bercanda tentang pengangguran di depan antrean pencari kerja. Rasanya hambar, tidak peka, dan cenderung menghina kecerdasan audiens.

Warganet merasa keberatan karena Prilly seolah-olah "bermain-main" dengan keadaan yang bagi banyak orang sangatlah menyakitkan. Ada kesan bahwa kemiskinan atau status pengangguran adalah sesuatu yang "estetis" atau bisa dijadikan konten seru-seruan. Padahal, bagi mereka yang benar-benar membutuhkan pekerjaan, status tersebut adalah beban mental yang sangat berat.

Menumpulkan Empati Digital

Film terbaru Prilly, "Danur: The Last Chapter" akan tayang di lebaran 2026

Jika gimmick seperti ini terus dibenarkan dan dianggap sebagai kesuksesan marketing, dampaknya adalah tumpulnya empati kita. Kita akan sampai pada titik di mana kita tidak lagi percaya pada simbol-simbol kerentanan di internet.

Besok-besok, ketika ada orang yang benar-benar membagikan kegelisahannya karena belum mendapat kerja, audiens mungkin akan bersikap skeptis: "Ah, ini marketing produk apa lagi ya?" Inilah yang paling mengkhawatirkan. Gimmick yang dilakukan Prilly dan brand tersebut berpotensi merusak ekosistem dukungan sosial yang selama ini terbangun di LinkedIn.

Seharusnya, sebuah brand dan figur publik memahami bahwa pemasaran yang efektif tidak harus "mencuri" simbol perjuangan kelas bawah. Menjual sesuatu memang ada seninya, tetapi seni yang baik tidak akan menginjak-injak harga diri dan keadaan sosial audiensnya.

Pelajaran dari fenomena ini adalah: viralitas bukan segalanya. Popularitas yang diraih dengan cara memanipulasi simpati publik terhadap isu serius seperti pengangguran adalah popularitas yang rapuh.

Prilly tetaplah sosok yang hebat dengan segala prestasinya. Namun, dalam kasus ini, ia dan tim marketing-nya gagal membaca suasana sosial. Mereka lupa bahwa di balik layar smartphone, ada orang-orang yang melihat fitur "Open to Work" sebagai harapan terakhir untuk bisa makan esok hari, bukan sebagai bahan pembicaraan untuk menaikkan engagement.

Sudah saatnya industri kreatif dan para pesohor berhenti menjadikan kesulitan hidup orang banyak sebagai bahan permainan. Cuan memang penting, tetapi martabat dan kepekaan sosial jauh lebih berharga.

Baca Juga