Di Indonesia yang masih kental dengan nilai budaya tradisional, istilah "anak bungsu harus menjaga rumah" atau "anak terakhir yang merawat orang tua" kerap terdengar. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan biasa, melainkan bagian dari norma turun-temurun di berbagai suku, termasuk Jawa, Sunda, dan Batak.
Saya sendiri, sebagai anak bungsu dari keluarga Batak, merasakan betapa beratnya tekanan ini setelah lulus kuliah: sulit sekali untuk benar-benar "keluar" rumah dan mengejar mimpi di perantauan.
Meski tidak berlaku mutlak di semua keluarga, pola ini masih kuat di masyarakat agraris dan tradisional. Berikut beberapa alasan utama mengapa beban merawat orang tua di hari tua sering jatuh ke pundak anak bungsu:
1. Anak bungsu paling lama menetap di rumah
Kakak-kakak biasanya lebih dulu menikah, membangun keluarga, dan pindah untuk membentuk rumah tangga sendiri. Secara alami, anak bungsu menjadi yang "terakhir" tinggal bersama orang tua. Lama-kelamaan, muncul ekspektasi: "Kamu saja yang menemani sampai akhir."
2. Tanggung jawab bakti yang dianggap paling nyata
Dalam budaya Indonesia, khususnya masyarakat tradisional, anak diharapkan merawat orang tua saat mereka tidak lagi sekuat dulu. Karena kakak-kakak sudah memiliki tanggungan keluarga sendiri, beban itu kerap dialihkan ke bungsu. Ini dipandang sebagai wujud bakti tertinggi: berada di sisi orang tua hingga akhir hayat.
3. Rumah warisan sebagai "kompensasi"
Di banyak keluarga, terutama di Jawa dan Batak, rumah orang tua (atau jabu parsantian dalam adat Batak Toba) secara tidak tertulis menjadi hak anak bungsu. Ini dianggap sebagai ganti rugi atas tanggung jawab merawat. Kakak-kakak dianggap sudah mendapat "modal hidup" lebih dulu, seperti biaya pendidikan, modal usaha, atau warisan lain, saat mereka menikah atau merantau.
4. Ikatan emosional yang lebih erat
Orang tua sering lebih memanjakan atau dekat secara emosional dengan anak bungsu. Pengalaman mengasuh sudah lebih santai, dan bungsu dipandang sebagai "anak terakhir" yang perlu dilindungi. Hubungan ini membuat orang tua merasa nyaman jika bungsu yang tetap tinggal serumah.
5. Faktor praktis dan budaya menjaga kaum rentan
Di Nusantara, meninggalkan orang tua sendirian atau memindahkan mereka ke panti jompo masih dianggap tabu. Anak bungsu dilihat sebagai "penyambung generasi" yang menjaga tradisi keluarga, rumah leluhur, dan memastikan orang tua tetap di lingkungan yang familier.
Bukankah Semua Anak Wajib Merawat Orang Tua, Bukan Cuma Bungsu?
Dilema ini kerap menghantui anak bungsu. Di satu sisi, ada mimpi meniti karier, meraih cita-cita, dan membangun kehidupan di kota besar, terutama saat lapangan pekerjaan di daerah kelahiran minim. Di sisi lain, rasa iba dan kasihan begitu kuat: siapa lagi yang mengurus orang tua jika kakak-kakak sudah menikah dan merantau jauh?
Pertanyaan mendasar muncul: Apakah hanya anak bungsu yang wajib membalas budi orang tua? Bukankah kakak-kakak juga anak dari orang tua yang sama? Mengapa beban ini seolah menjadi "hak prerogatif" bungsu semata, seakan kakak-kakak di atasnya bebas dari tanggung jawab bakti?
Saran yang realistis dan seimbang untuk situasi ini memang memerlukan pendekatan yang bijak, karena melibatkan nilai bakti, keadilan antarsaudara, dan kesehatan mental semua pihak. Di Indonesia, ini sering menjadi isu sensitif, tetapi semakin banyak keluarga yang mulai berubah ke arah lebih adil di era sekarang. Berikut saran praktis berdasarkan pola umum yang sering berhasil:
Untuk Orang Tua
Terbuka soal perasaan dan kebutuhan: Jangan hanya mengatakan "Kamu harus tinggal di sini" karena takut sepi. Coba ungkapkan dengan lembut: "Mama/Papa senang kalau ada yang menemani, tetapi Papa/Mama juga ingin kamu bahagia dan punya hidup sendiri." Ini bisa membuat anak bungsu tidak merasa "dihukum".
Ajak diskusi keluarga besar: Undang semua anak (termasuk menantu kalau perlu) untuk rapat keluarga. Bahas mengenai rencana perawatan saat sudah uzur agar tidak hanya bungsu yang ditarget.
Pertimbangkan opsi lain: Kalau orang tua tetap ingin di rumah sendiri, bisa menggunakan jasa pengasuh (caregiver) paruh waktu, atau anak-anak datang bergantian. Di kota besar, wisma lansia yang nyaman kini juga mulai dipertimbangkan.
Hargai usaha bungsu: Jika bungsu menetap, jangan anggap itu "kewajiban", tetapi apresiasi sebagai bentuk bakti. Berilah ruang privasi dan jangan mengontrol hidupnya secara berlebihan.
Untuk Bungsu (Anak Terakhir)
Komunikasi asertif tetapi hormat: Katakan dengan jujur tetapi sopan bahwa Anda sayang dan ingin menemani orang tua, namun juga memiliki mimpi atau karier sendiri. Cari solusi bersama agar semua pihak merasa nyaman.
Tetapkan batasan yang jelas: Jika sudah menikah atau ingin mandiri, usulkan tinggal berdekatan (bukan serumah), atau bagi jadwal kunjungan.
Libatkan saudara: Jangan menanggung beban sendirian. Ajak kakak-kakak diskusi untuk membagi tugas secara adil. Ingatkan bahwa bakti adalah tanggung jawab bersama.
Jaga kesehatan mental: Jika mulai stres, cari dukungan dari teman, pasangan, atau konsultan psikolog. Jangan sampai burnout karena merasa terpaksa.
Merencanakan finansial: Jika rumah menjadi warisan, pastikan hal tersebut tertulis jelas dalam wasiat sederhana. Namun, jangan jadikan itu alasan utama untuk bertahan; fokuslah pada keseimbangan hidup.
Untuk Keluarga (Terutama Kakak-Kakak)
Ambil bagian aktif: Jangan lempar tanggung jawab ke bungsu. Bagilah tugas konkret, misalnya yang dekat berkunjung rutin, sementara yang jauh membantu biaya kesehatan atau mengirim uang bulanan.
Dukung adik bungsu: Kalau bungsu ingin mandiri, bela dia di depan orang tua agar dia juga bisa membangun hidupnya sendiri.
Hindari saling lempar: Jangan gunakan alasan "bungsu paling dekat" untuk menghindar. Semua anak memiliki kewajiban yang sama.
Bantu finansial jika mampu: Banyak kasus bungsu merasa tertekan karena orang tua bergantung secara finansial. Jika mampu, berikan kontribusi lebih agar bungsu tidak terbebani sendirian.
Pada akhirnya, bakti kepada orang tua itu wajib, namun tidak harus dengan mengorbankan hidup bungsu sepenuhnya. Solusi terbaik adalah komunikasi terbuka dan pembagian tanggung jawab yang adil antar-semua anak.
Baca Juga
-
Menyoal Istilah "Gentengisasi" dan Prioritas Pembangunan Pemerintah
-
Mengulas The Psychology of Money: Pelajaran yang Jarang Diajarkan di Sekolah
-
7 Ide Outfit ala Yuki Kato untuk Kamu yang Ingin Solo Traveling
-
Menakar Keadilan bagi Rakyat Kecil: Mengapa Permintaan Maaf Aparat Saja Tidak Cukup?
-
Fresh Graduate Jangan Minder! Pelajaran di Balik Fenomena Open To Work Prilly Latuconsina
Artikel Terkait
-
Mengenal Legenda Putri Mandalika di Balik Tradisi Bau Nyale 2026 di Lombok Tengah
-
Mengenal Tradisi Sate Cabai dan Bawang, 'Mantra' Unik Masyarakat Indonesia Halau Hujan
-
Waspada Grooming Online: Pentingnya Orangtua Cek Pergaulan Digital Anak
-
Sepotong Cinta yang Baru
-
4 Smartwatch Anak dengan Fitur Lengkap, Bikin Orangtua Lebih Tenang
Kolom
-
Climate Anxiety: Saat Generasi Muda Cemas akan Masa Depan Bumi
-
Menantang Budaya Sibuk: Mengapa Istirahat Sering Kali Terasa Bersalah?
-
Lelah di Balik Seragam: Menyingkap Beban Emosional Guru yang Tersembunyi
-
FOMO di Kalangan Pelajar: Ancaman Tren Viral Meredupkan Budaya Literasi
-
Radar Sosial yang Lumpuh: Mengapa Negara Gagal Membaca Isyarat Sunyi YBR?