Fenomena Prilly Latuconsina yang membuka badge Open to Work di LinkedIn pada Minggu (25/01) lalu terasa seperti ironi kecil bagi para fresh graduate. Tujuannya terdengar sederhana: memperluas jaringan dan membuka peluang profesional baru. Namun, yang muncul di linimasa justru kontras yang sulit diabaikan.
Kolom komentarnya dipenuhi oleh manajer HR yang menawarkan pekerjaan, sementara pencari kerja pemula hanya bisa mengamati dengan perasaan campur aduk.
Di titik ini, rasa minder, iri, atau lelah secara emosional terasa wajar. Bukan karena Prilly melakukan sesuatu yang keliru, melainkan karena situasinya membuka ketimpangan yang selama ini samar. Banyak fresh graduate merasa sudah melakukan semua yang “disarankan sistem,” tetapi tetap kalah pamor dari figur publik. Dalam kondisi ekonomi yang serba ketat, wajar jika muncul pertanyaan: Apakah persaingan ini masih seimbang?
Fenomena Psikologis di Balik Open to Work Selebriti
Dari sudut pandang psikologi, fenomena ini berkaitan erat dengan halo effect, yaitu kecenderungan menilai seseorang lebih kompeten karena citra positif yang sudah lebih dulu melekat. Figur publik membawa reputasi, kepercayaan, dan eksposur yang terbentuk jauh sebelum badge tersebut muncul. Akibatnya, saat tanda Open to Work terlihat di profil Prilly, banyak HR atau perekrut langsung menawarkan posisi di perusahaan atau sekadar meminta CV.
Pada akhirnya, satu badge yang sama dapat memunculkan makna yang sangat berbeda, bergantung pada siapa yang mengenakannya.
"Hi, everyone!
Jangan kaget dulu ya. Aku menyalakan badge #OpenToWork bukan karena kekurangan aktivitas, tapi karena lagi ingin belajar hal baru.
Selama ini banyak berkutat di industri film dan business management. Sekarang aku penasaran untuk challenge diri di ruang yang berbeda, seperti offline sales experience. Ketemu orang langsung, ngobrol, memahami kebutuhan mereka, sampai belajar bagaimana sebuah produk benar-benar diterima dan dirasakan langsung oleh konsumen.
Masih dalam fase eksplorasi dan terbuka untuk ngobrol yaa.
Happy to connect ," ujar Prilly.
Mengapa Fresh Graduate Merasa “Kalah Start”?
Di balik unggahan Prilly tersebut, ada banyak fresh graduate yang merasa minder karena beberapa alasan, yaitu:
- Fresh graduate belum memiliki rekam jejak yang cukup untuk memicu kepercayaan instan.
- Algoritma dan atensi publik lebih cepat bergerak pada nama yang sudah dikenal luas.
- Perekrut sering bekerja di bawah tekanan waktu sehingga memilih opsi yang terlihat paling minim risiko.
- Badge Open to Work pada profil pemula belum tentu memberikan sinyal pembeda yang kuat.
Saran Realistis untuk Fresh Graduate
Menggunakan badge Open to Work sebenarnya bukan kesalahan dan tidak perlu dihindari. Namun, badge saja tidak cukup tanpa narasi yang jelas di balik profil tersebut. Deskripsi diri, portofolio, dan aktivitas profesional perlu membentuk konteks yang kuat. Tanpa itu, profil akan mudah tenggelam di antara ribuan pencari kerja lainnya.
Daripada sibuk membandingkan diri dengan figur publik, fresh graduate bisa fokus pada strategi yang lebih relevan. Membangun personal branding melalui unggahan reflektif, proyek kecil, atau pengalaman magang sering kali memberikan sinyal yang lebih konkret bagi perusahaan. Pendekatan personal melalui pesan yang relevan juga terasa lebih manusiawi. Di dunia kerja saat ini, konsistensi sering kali bekerja lebih senyap daripada popularitas.
Pada akhirnya, fenomena ini bukan tentang harus bersaing langsung dengan Prilly atau siapa pun. Dunia kerja memang tidak selalu adil, apalagi di tengah ekonomi yang menuntut kecepatan dan efisiensi. Badge Open to Work hanyalah alat, bukan ukuran nilai diri. Bagi fresh graduate, yang terpenting bukanlah siapa yang paling cepat dilirik, melainkan siapa yang tetap berjalan dengan arah yang jelas.
Baca Juga
-
Psikologi Tren Blind Box: Kita Beli Mainannya atau Rasa Penasarannya?
-
Saya Baru Sadar, Masakan Ibu Tak Pernah Membosankan Meski Itu-Itu Saja
-
Paradoks Karier: Kenapa Resign Terlihat Begitu Keren di TikTok Tapi Terasa Berat di Dunia Nyata?
-
Pendidikan Tinggi Sedang Sekarat, Kenapa Negara Malah Sibuk Urus Makan Gratis?
-
Jangan Sampai Gajian Cuma Numpang Lewat, Hentikan 5 'Kebocoran' Dompet Ini Sekarang!
Artikel Terkait
-
Keluar dari Zona Nyaman, Prilly Latuconsina Ingin Kerja Jadi Sales
-
Biodata dan Pendidikan Prilly Latuconsina yang Cari Kerja di LinkedIn
-
7 Sumber Kekayaan Prilly Latuconsina yang Aktifkan Open to Work di LinkedIn
-
4 Film Sinemaku Pictures yang Dibintangi Prilly Latuconsina, Wajib Masuk Watchlist!
-
Siapa Pacar Umay Shahab? Dikaitkan dengan Mundurnya Prilly Latuconsina dari Sinemaku Pictures
News
-
Di Balik Gerakan Tanpa Kata, Bagaimana Pantomim Jadi Ruang Memulihkan Diri?
-
Di Balik Jendela TransJakarta: Ada Cerita Perjuangan yang Sering Kita Lewatkan
-
Paradoks Transportasi Jakarta: Penumpang Naik Pesat, Kenapa Macet Makin Parah?
-
In This Economy: Gengsi Nggak Bisa Bayarin Bensin, Naik Transum Is The New Flex!
-
90 Mahasiswa Indonesia Lanjut S2 Lewat Erasmus Mundus, Uni Eropa Perkuat Investasi pada Talenta Muda
Terkini
-
Menolak Punah: Komunitas Menjadi Benteng Utama Karya Musik dan Buku Indie
-
Hasil Piala AFF 2026: Tiga Gol Mitchell Baker Bawa Indonesia Hajar Kamboja
-
Review Buku Navigating Night, Kisah Hangat Keluarga Imigran
-
Review Voicemails for Isabelle: Sebuah Arti Ketulusan Cinta yang Sejati
-
Ulasan Novel Tuan Besar Gatsby: Saat Kekayaan Tak Mampu Membeli Cinta