M. Reza Sulaiman | Yayang Nanda Budiman
Massa dari Koalisi Bersihkan Indonesia (KBI) saat menggelar aksi simbolik di Taman Pandang Istana, Jakarta, Senin (20/10/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Yayang Nanda Budiman

Di tengah hiruk-pikuk demokrasi elektoral, politik nasional justru kerap tampil sebagai panggung drama tanpa jeda. Polemik elit yang berulang, konflik kepentingan yang vulgar, serta kebijakan publik yang terasa jauh dari kebutuhan sehari-hari warga membentuk kelelahan kolektif. Masyarakat tidak lagi marah, tetapi juga tidak sepenuhnya peduli. Dalam konteks inilah, apatisme politik perlahan menjelma bukan sekadar sikap pasif, melainkan bentuk protes baru yang sunyi namun signifikan.

Fenomena ini patut dibaca lebih serius. Apatisme bukan lahir dari ketidaktahuan, melainkan dari kejenuhan terhadap praktik politik yang gagal menghadirkan harapan. Ketika saluran partisipasi formal dirasa tidak lagi bermakna, sebagian warga memilih menarik diri sebagai ekspresi kekecewaan.

Dari Partisipasi ke Penarikan Diri

Selama dua dekade reformasi, partisipasi publik sering dipahami sebagai indikator sehatnya demokrasi. Tingginya partisipasi pemilih dalam pemilu, maraknya diskusi politik di ruang publik, serta geliat masyarakat sipil menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tanda-tanda kelelahan mulai terlihat.

Banyak warga merasa suara mereka tidak benar-benar memengaruhi arah kebijakan. Janji kampanye yang berulang tanpa realisasi, pergantian elit yang itu-itu saja, serta politik transaksional yang makin terbuka menciptakan jarak psikologis antara rakyat dan penguasa. Politik tidak lagi dipersepsikan sebagai arena memperjuangkan kepentingan bersama, melainkan sebagai urusan segelintir orang.

Dalam situasi seperti ini, penarikan diri menjadi pilihan rasional bagi sebagian masyarakat. Tidak mengikuti perdebatan politik, enggan berpartisipasi dalam pemilu, atau memilih fokus pada urusan personal adalah cara bertahan di tengah kebisingan yang melelahkan. Apatisme di sini bukan tanda kemalasan politik, melainkan sinyal bahwa mekanisme representasi tidak lagi dipercaya.

Apatisme sebagai Kritik Diam

Berbeda dengan protes jalanan atau perlawanan terbuka, apatisme bekerja dalam senyap. Ia tidak menghadirkan slogan atau tuntutan eksplisit, tetapi dampaknya justru bisa lebih mengkhawatirkan. Ketika masyarakat berhenti peduli, legitimasi demokrasi perlahan terkikis dari dalam.

Apatisme juga mencerminkan kritik terhadap politik yang terlalu dramatis namun minim substansi. Konflik elit yang terus dipertontonkan, saling serang di media, dan manuver kekuasaan yang transparan justru menimbulkan kesan bahwa politik hanyalah tontonan. Warga ditempatkan sebagai penonton pasif, bukan subjek yang dilibatkan secara bermakna.

Dalam konteks ini, sikap tidak peduli dapat dibaca sebagai penolakan terhadap logika politik yang eksploitatif. Masyarakat menolak terus-menerus diseret dalam konflik simbolik yang tidak berdampak langsung pada kesejahteraan mereka. Diam menjadi bahasa kritik, meski tidak selalu disadari oleh para pengambil keputusan.

Tantangan Demokrasi ke Depan

Apatisme politik menghadirkan tantangan serius bagi masa depan demokrasi. Demokrasi tanpa partisipasi berisiko berubah menjadi prosedur kosong. Kebijakan publik akan semakin mudah ditentukan oleh kelompok kecil yang memiliki sumber daya, sementara suara mayoritas kian terpinggirkan.

Karena itu, kelelahan publik tidak boleh dipahami sebagai masalah masyarakat semata. Ia adalah cermin kegagalan sistem politik dalam merawat kepercayaan. Pemulihan hanya mungkin terjadi jika politik kembali dihadirkan sebagai ruang pemecahan masalah nyata, bukan sekadar arena perebutan kekuasaan.

Transparansi, konsistensi kebijakan, serta keberpihakan yang jelas kepada kepentingan publik menjadi prasyarat penting. Lebih dari itu, elit politik perlu belajar mendengar keheningan sebagai pesan. Ketika masyarakat memilih diam, sesungguhnya ada alarm demokrasi yang sedang berbunyi.

Apatisme hari ini mungkin tampak tenang, tetapi jika dibiarkan, ia dapat berubah menjadi ketidakpedulian permanen. Pada titik itulah demokrasi kehilangan denyut hidupnya. Mengembalikan makna politik sebagai kerja kolektif demi kebaikan bersama menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa lagi ditunda.