M. Reza Sulaiman | Budi Prathama
Ilustrasi lembaga keuangan. (Pixabay.com/@geralt)
Budi Prathama

Awal tahun biasanya identik dengan resolusi baru. Namun, bagi pasar keuangan Indonesia, awal tahun justru terasa seperti bangun tidur lalu mendapati dompet kosong, notifikasi tagihan menumpuk, dan grup WhatsApp keluarga tiba-tiba ramai membahas krisis. Pasar modal kita sedang sensitif; bukan sensitif dalam arti gampang tersinggung, melainkan gampang goyah hanya karena isu, rumor, dan drama elit yang tidak kunjung usai.

Sektor keuangan Indonesia kini hidup di era penuh kecurigaan. Kepercayaan publik menjadi barang mahal, bahkan lebih mahal daripada saham blue chip yang tiba-tiba anjlok tanpa sebab jelas. Di dalam negeri, kepercayaan masyarakat diuji. Di luar negeri, ekonomi global sedang ribut sendiri: perang di mana-mana, inflasi belum jinak, dan pasar global seperti orang cemas yang kebanyakan minum kopi. Dalam kondisi seperti ini, sektor keuangan Indonesia yang seharusnya menjadi jangkar stabilitas justru ikut oleng.

Padahal, sejak lama kita diajari satu mantra sakral: stabilitas keuangan hanya bisa berdiri di atas independensi lembaga keuangan, terutama bank sentral. Masalahnya, mantra itu kini terdengar seperti slogan motivasi di dinding kantor, dibaca tetapi tidak selalu dipraktikkan. Ketika independensi mulai bersinggungan dengan kepentingan politik, pasar langsung mengerutkan dahi. Apalagi jika drama datang bertubi-tubi: Ketua OJK mundur, Deputi Gubernur BI diganti mendadak, dan Dirut BEI pamit setelah urusan sanksi MSCI. Terlalu banyak kejutan untuk pasar yang sedang butuh ketenangan.

Kondisi ini membuat pasar bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang sedang memegang kemudi? Kekacauan di pasar modal hari ini bukan semata soal angka merah di layar perdagangan, melainkan sinyal adanya masalah tata kelola dan kepemimpinan. Investor boleh saja rasional, tetapi mereka juga manusia. Jika terlalu sering dikejutkan, refleks pertama mereka adalah kabur.

Ironisnya, Indonesia bukan negara tanpa pengalaman. Kita pernah jatuh sangat keras pada krisis 1997/1998, lalu kembali diuji pada krisis global 2008. Dari dua peristiwa itu, fondasi stabilitas keuangan dibangun ulang dengan susah payah. Namun kini, fondasi itu terasa mulai retak pelan-pelan. Bukan karena badai besar, melainkan karena gerusan kecil yang dibiarkan terlalu lama: krisis kepemimpinan, tarik-menarik kepentingan, dan lembaga yang makin sulit dibedakan antara profesional dan politis.

Ketika independensi digadaikan demi kepentingan kelompok, jangan heran jika sektor keuangan yang menjadi tumbal. Kita seperti orang yang terus mengulang kesalahan lama sambil berharap hasilnya berbeda. Sektor keuangan yang seharusnya steril justru terpapar virus politik. Konsentrasi kekuasaan pun menjadi kabur arahnya. Pembentukan Danantara, lembaga konsolidasi aset negara, misalnya, sejak awal sudah memancing tanda tanya. Katanya investasi, tetapi aromanya politis. Langkahnya panjang, aset yang dikuasai besar, dan jika tidak dikelola dengan amanah, risikonya bukan main-main.

Di tengah ketidakpastian global, wacana perombakan pimpinan lembaga keuangan justru muncul. Ini ibarat mengganti kapten saat kapal sedang diterjang ombak. Bukan berarti tidak boleh, tetapi risikonya jelas tinggi. Yang dibutuhkan bukan sekadar figur pintar, melainkan pemimpin dengan mental panglima: paham perbankan, khatam regulasi global, berpengalaman internasional, dan tidak panik saat berhadapan dengan kasus keuangan yang rumit.

Lebih penting lagi, pemimpin itu harus kebal terhadap godaan suap dan alergi terhadap intervensi politik. Sebab, sekali saja sistem perbankan goyah, efek domino akan merambat cepat. Kepanikan publik tinggal menunggu waktu, dan keuangan nasional bisa kacau hanya dalam hitungan hari.

Pada akhirnya, menjaga kepercayaan jauh lebih murah daripada membangunnya kembali. Satu langkah salah bisa merusak kredibilitas Indonesia di mata global dalam waktu singkat. Dan jika sudah hancur, jangan harap bisa diperbaiki dengan cepat. Butuh puluhan tahun, biaya besar, dan kesabaran ekstra. Sayangnya, kepercayaan tidak bisa dicetak ulang seperti uang. Ia hanya bisa dijaga atau dihilangkan jika kita tidak berhati-hati.