M. Reza Sulaiman | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Puasa Ramadan (Unsplash/@rauf_Alvi2001)
Oktavia Ningrum

Setiap bulan Ramadan datang, selalu muncul pola yang sama di ruang publik: sebagian orang dewasa merasa terganggu melihat orang lain makan dan merasa tidak dihormati. Bahkan, ada yang sampai menuntut penutupan warung makan. Padahal, jika kita jujur secara spiritual dan rasional, hal ini justru menunjukkan kesalahpahaman besar tentang makna puasa itu sendiri.

Esensi Puasa Bukan Kontrol Lingkungan

Puasa tidak pernah dirancang sebagai sistem perlindungan visual dari godaan. Puasa justru diciptakan sebagai latihan menahan nafsu, bukan menghilangkan pemicunya. Jika seseorang hanya bisa kuat berpuasa ketika tidak melihat makanan, tidak mencium aroma masakan, dan tidak melihat orang lain makan, maka yang seharusnya dilatih bukanlah pengendalian diri, melainkan ketergantungan pada kondisi eksternal.

Secara spiritual, esensi puasa adalah pengendalian diri internal, bukan pengaturan lingkungan. Menahan lapar, haus, emosi, dan dorongan biologis adalah proses batin, bukan proyek sosial. Maka, ketika orang dewasa merasa terganggu hanya karena melihat orang lain makan, itu bukan tanda kesalehan. Hal itu merupakan tanda ketahanan mental yang masih rapuh. Secara psikologis, respons tersebut lebih mirip reaksi anak kecil yang belum mampu mengelola impuls, bukan kedewasaan spiritual.

Puasa sebagai Ujian Personal, Bukan Sosial

Masalah ini semakin terlihat ketika tuntutan menghormati orang puasa berubah menjadi tekanan sosial: warung diminta tutup, orang yang makan dianggap tidak toleran, bahkan muncul stigma moral terhadap mereka yang tidak berpuasa. Hal ini berbahaya karena menggeser makna puasa dari latihan personal menjadi kontrol sosial. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks.

Di Indonesia, tidak semua muslim diwajibkan berpuasa. Secara syariat, ada banyak kondisi yang membolehkan seseorang tidak berpuasa, seperti:

  1. Ibu hamil dan menyusui;
  2. Perempuan haid;
  3. Orang lanjut usia;
  4. Orang sakit;
  5. Musafir (safar);
  6. Orang dengan kondisi medis tertentu.

Artinya, dalam satu komunitas muslim sendiri, selalu ada kelompok yang secara sah dan dibenarkan agama untuk tidak berpuasa. Jadi, menganggap semua orang wajib berpuasa adalah kekeliruan logika dasar.

Mendefinisikan Ulang Makna Toleransi

Lebih jauh lagi, Indonesia bukan hanya terdiri atas umat Islam. Indonesia adalah negara multikultural dan multikeyakinan. Ada warga nonmuslim, warga yang tidak beragama, wisatawan, pekerja, anak-anak, hingga lansia. Maka, tuntutan agar ruang publik "bersih dari aktivitas makan" selama Ramadan bukanlah bentuk toleransi. Hal itu justru merupakan dominasi simbolik atas ruang bersama.

Ironisnya, hal ini sering dibungkus dengan istilah "toleransi". Padahal, toleransi itu bersifat dua arah. Toleransi bukan berarti orang lain harus menyesuaikan hidupnya dengan praktik ibadah kita, melainkan berarti kita mampu hidup berdampingan tanpa memaksakan standar personal ke ruang publik.

Puasa bukan ujian sosial, melainkan ujian personal. Puasa bukan ujian bagi orang lain, melainkan ujian bagi diri sendiri. Jika seseorang hanya bisa berpuasa dengan tenang ketika semua orang lain menghilang dari realitas biologisnya, maka yang bermasalah bukan lingkungannya, melainkan ketahanan dirinya.

Puncak Kedewasaan Beragama

Lebih berbahaya lagi ketika dorongan "menghormati puasa" berubah menjadi pembenaran untuk kontrol sosial, seperti razia warung, tekanan moral, persekusi simbolik, dan stigmatisasi. Ini bukan lagi soal ibadah, melainkan soal relasi kuasa. Agama tidak lagi menjadi jalan pembinaan diri, melainkan alat regulasi sosial.

Padahal, secara etika spiritual, puasa justru melatih empati: memahami rasa lapar orang lain, memahami keterbatasan manusia, memahami penderitaan, serta memahami kerentanan. Jika puasa justru melahirkan kemarahan, intoleransi, dan tuntutan pengaturan hidup orang lain, maka ada yang salah dalam proses internalisasinya.

Kedewasaan spiritual tidak terlihat dari seberapa keras kita menuntut untuk dihormati, melainkan dari seberapa kuat kita mengendalikan diri. Orang dewasa yang matang secara mental tidak akan runtuh hanya karena melihat orang lain makan. Ia sadar bahwa dunia tidak berputar di sekitar ibadah personalnya. Ia sadar bahwa ruang publik adalah ruang bersama.

Puasa bukan tentang membuat dunia menyesuaikan diri dengan kita. Puasa adalah tentang kita menata diri di tengah dunia. Karena menahan lapar itu bersifat biologis, menahan nafsu itu mental, menahan ego itu spiritual, dan menahan keinginan mengontrol orang lain adalah puncak kedewasaan beragama. Jika masih terganggu melihat orang lain makan, maka yang perlu dilatih bukan lingkungannya, melainkan ketahanan dirinya sendiri.