Februari tahun ini terasa berbeda. Dalam satu rentang waktu yang berdekatan, kita menyaksikan Valentine, Imlek, masa Pra-Paskah, dan persiapan menuju Ramadan hadir hampir bersamaan. Empat momen dengan tradisi, simbol, dan makna yang berbeda itu seperti bertemu di satu persimpangan waktu—mengingatkan kita bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang hidup.
Cinta yang Beragam Wajah
Valentine sering dipahami sebagai perayaan kasih sayang antarpasangan. Namun lebih dari itu, ia adalah pengingat sederhana bahwa manusia membutuhkan afeksi dan pengakuan. Di sisi lain, Imlek berbicara tentang harapan baru, pembaruan, dan doa agar kehidupan lebih sejahtera di tahun yang berganti.
Pra-Paskah—yang dalam tradisi Kristiani menjadi masa refleksi dan pertobatan—mengajak orang menengok ke dalam diri, memurnikan niat, dan menata ulang relasi dengan Tuhan serta sesama. Sementara Ramadan, bulan suci umat Islam, menekankan pengendalian diri, empati pada yang lapar, serta penguatan spiritualitas melalui puasa dan ibadah.
Empat momen itu, jika direnungkan, sama-sama berbicara tentang cinta. Cinta yang romantis, cinta keluarga, cinta yang diwujudkan dalam pertobatan, dan cinta yang diterjemahkan dalam kesabaran serta pengorbanan.
Spiritualitas dan Perayaan dalam Satu Nafas
Seringkali orang memisahkan antara yang “meriah” dan yang “hening”. Valentine dan Imlek identik dengan warna-warni, hadiah, dan perayaan. Pra-Paskah dan Ramadan identik dengan keheningan, doa, serta pengendalian diri.
Namun bukankah keduanya saling melengkapi? Perayaan tanpa refleksi bisa terasa hampa. Sebaliknya, refleksi tanpa sukacita bisa terasa berat. Februari yang padat makna ini mengajarkan keseimbangan: merayakan dengan hati, dan merenung tanpa kehilangan harapan.
Indonesia sebagai Ruang Pertemuan
Di Indonesia, keberagaman agama dan budaya membuat momen seperti ini bukan hal yang mustahil. Di satu sudut kota, lampion merah menyala menyambut Tahun Baru Imlek. Di tempat lain, gereja memulai masa Pra-Paskah dengan ibadah Rabu Abu. Di rumah-rumah, keluarga menyiapkan diri menyambut Ramadan. Sementara itu, toko-toko memajang bunga dan cokelat untuk Valentine.
Semua berjalan berdampingan. Tidak saling meniadakan.
Inilah wajah Indonesia: ruang di mana berbagai keyakinan hidup berdampingan dalam ritme yang sama. Kadang beririsan, kadang berdekatan, tetapi tetap memiliki tempat.
Refleksi: Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Mungkin Februari yang “ramai” ini justru menjadi kesempatan untuk memperluas empati. Bahwa cinta tidak hanya milik satu hari, harapan tidak hanya milik satu tradisi, dan pertobatan tidak hanya milik satu agama.
Ketika Valentine mengajak kita mencintai, Imlek mengajak kita berharap, Pra-Paskah mengajak kita berbenah, dan Ramadan mengajak kita menahan diri—semuanya sebenarnya berbicara tentang menjadi manusia yang lebih baik.
Di tengah dunia yang mudah terbelah oleh perbedaan, Februari memberi pesan sederhana: keberagaman bisa hadir bersamaan tanpa harus bertabrakan. Dan mungkin, justru di situlah keindahannya.
Kesimpulan
Februari yang mempertemukan Valentine, Imlek, Pra-Paskah, dan Ramadan menunjukkan bahwa perbedaan dapat hadir dalam waktu yang sama tanpa saling meniadakan. Setiap perayaan membawa pesan cinta, harapan, pertobatan, dan pengendalian diri—nilai-nilai universal yang melampaui batas agama dan budaya.
Momentum ini mengingatkan kita bahwa keberagaman bukan sekadar fakta sosial, tetapi kesempatan untuk memperluas empati dan memperdalam kemanusiaan. Dalam ruang yang sama, kita bisa merayakan, merenung, dan bertumbuh bersama.
Baca Juga
-
Saat Galaksi dan Bintang Membentuk Akal Sehat dalam The Demon-Haunted World
-
5 Destinasi Wisata Religi Buddha di Kepulauan Riau, Sarat Sejarah dan Spiritualitas
-
Sajian Khas Imlek Tionghoa Pesisir di Bintan dan Kepulauan Riau, Mana Favoritmu?
-
Sudah Tahu Belum? 7 Tradisi dan Pantangan Imlek Pembawa Keberuntungan
-
Refleksi Imlek: Membedah Pemikiran Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran
Artikel Terkait
-
Mendag Akui Harga Minyakita dan Telur Naik Memasuki Ramadan
-
Menag: Ramadan 1447 H Momentum Perkuat Kesalehan Sosial dan Hidup Tak Eksploitasi Alam
-
Wajib Tahu! Waktu dan Menu Sahur Terbaik sebelum Berkendara Jauh?
-
Apakah Boleh Memakai Lipstik di Bulan Ramadan? Ini Kata UAS hingga NU
-
Plataran Borobudur Rayakan Valentine dengan Workshop Blooms of Love Berlatar Candi Borobudur
Kolom
-
Tulisan Nggak Laku: Mengapa Naskah Anda Belum Menemukan Pembacanya?
-
Ketimbang MBG Selama Ramadan, Mendingan Penuhi Tiga Kebutuhan Urgent Ini?
-
Mengapa PTN Membatasi Tahun Lulusan? Menyoal Keadilan Pendidikan Bagi Pejuang Gap Year
-
Perpustakaan: Berubah atau Jadi Museum Fosil Pengetahuan?
-
Lapor Kekerasan Seksual Malah Dikasih Tasbih: Sejak Kapan UPTD PPA Jadi Majelis Taklim?
Terkini
-
Film Crime 101: Kisah Pencuri dan Penegak Hukum yang Rumit dan Mematikan
-
Review Film Kokuho: Kisah tentang Perjuangan Menjadi Maestro Onnagata
-
Film Animasi GOAT: Kisah Kambing Kecil yang Mengubah Permainan
-
Manga The Elusive Samurai Resmi Tamat usai 5 Tahun, Anime Lanjut Season 2
-
Dopamine Detox Paling Elit: E-Ink Reader Bikin Fokusmu Jadi Nggak Rumit