Bimo Aria Fundrika | Angelia Cipta RN
Ilustrasi personal branding. (Pexels)
Angelia Cipta RN

Media sosial telah mengubah cara manusia dikenal. Jika dulu reputasi dibangun lewat interaksi nyata, karya, dan waktu, kini cukup lewat unggahan, caption, dan konsistensi visual. 

Istilah personal branding pun menjadi mantra baru bagi siapa pun dianjurkan membangun citra diri yang kuat agar terlihat, relevan, dan punya nilai jual. Apalagi bagi mereka yang memiliki usaha.

Namun di balik narasi motivasional itu, personal branding di media sosial menyimpan persoalan yang jarang dibahas secara kritis tentang keaslian, tekanan performatif, dan identitas yang perlahan menjadi komoditas.

Personal Branding: Dari Alat Strategis Menjadi Kewajiban Sosial

Pada dasarnya, personal branding bukanlah konsep yang keliru. Ia bisa menjadi alat untuk menunjukkan kompetensi, membangun kepercayaan, dan memperluas peluang profesional.

Masalah muncul ketika personal branding bergeser dari pilihan strategis menjadi kewajiban sosial. 

Di media sosial hari ini, tidak membangun citra dianggap sama dengan tertinggal.

Tekanan ini membuat banyak orang merasa harus selalu punya angle. Apa pun yang dilakukan perlu dikemas seperti bekerja harus terlihat produktif, belajar harus tampak inspiratif, bahkan istirahat pun perlu diberi narasi self-care.

Kehidupan sehari-hari berubah menjadi materi presentasi publik. Batas antara diri yang hidup dan diri yang ditampilkan menjadi kabur.

Di titik ini, personal branding tidak lagi berbicara tentang siapa seseorang sebenarnya, melainkan siapa yang paling bisa diterima oleh algoritma dan audiens. Nilai diri diukur dari konsistensi citra, bukan kedalaman kapasitas.

Orang yang kompleks dipaksa menyederhanakan diri agar mudah dikenali pasar digital. Akibatnya, identitas menjadi sempit seseorang harus selalu ahli di satu bidang, selalu optimis, selalu rapi secara naratif.

Lebih problematis lagi, personal branding sering dikemas sebagai tanggung jawab individual atas kesuksesan. Jika gagal dikenal, dianggap kurang konsisten. Jika tidak berkembang, dinilai kurang menjual. 

Narasi ini menutup fakta bahwa visibilitas di media sosial sangat dipengaruhi struktur algoritma, modal sosial, dan ketimpangan akses.

Personal branding lalu berubah menjadi ideologi seolah semua orang punya kesempatan yang sama, asal mau mengemas diri dengan benar.

Ketika Diri Menjadi Produk dan Autentisitas Dipertanyakan

Dalam logika media sosial, personal branding bekerja seperti pemasaran. Ada target audiens, positioning, diferensiasi, dan evaluasi performa. 

Masalahnya, yang dijadikan produk adalah manusia itu sendiri. Pikiran, emosi, pengalaman, bahkan luka personal bisa berubah menjadi konten jika dianggap relate dan punya potensi engagement.

Di sinilah autentisitas mulai bermasalah. Banyak orang mengklaim jadi diri sendiri, tetapi diri yang ditampilkan telah melalui proses seleksi ketat mana yang aman, mana yang disukai, mana yang layak ditunjukkan. 

Kejujuran pun menjadi strategis, bukan etis. Cerita personal dibagikan sejauh masih bisa dikontrol dan menguntungkan citra.

Akibatnya, media sosial dipenuhi figur yang tampak konsisten, tetapi rapuh di balik layar. Ketika identitas terlalu terikat pada citra digital, kritik terasa seperti ancaman eksistensial. Kesalahan kecil bisa berujung pembatalan sosial. 

Ruang untuk bertumbuh, berubah pikiran, atau gagal menjadi sangat sempit. Padahal, manusia secara alami tidak statis.

Personal branding juga menciptakan kelelahan kognitif dan emosional. Menjaga citra butuh energi seperti berpikir sebelum bertindak, menimbang sebelum berbicara, menghitung sebelum berbagi. Hidup tidak lagi mengalir, tetapi dikelola. 

Banyak orang akhirnya terjebak dalam performa tanpa jeda hadir di media sosial, tetapi jauh dari diri sendiri.

Bukan berarti personal branding harus ditolak sepenuhnya. Yang perlu dikritisi adalah cara kita memaknainya. 

Personal branding seharusnya menjadi alat, bukan tujuan hidup. Ia idealnya berangkat dari kapasitas nyata, bukan sekadar estetika dan narasi. 

Yang terpenting lagi, ia tidak boleh menghapus hak manusia untuk menjadi tidak sempurna, berubah, dan tidak selalu produktif.

Di tengah dorongan untuk terus membangun citra, sikap paling radikal justru adalah menjaga jarak kritis, tentang pertanyaan diri apakah yang saya tampilkan benar-benar mewakili nilai saya, atau sekadar menyesuaikan pasar? Apakah saya mengelola media sosial, atau justru dikelola olehnya?

Personal branding yang sehat bukan tentang terlihat paling menarik, tetapi tentang tetap berdaulat atas identitas sendiri.

Tanpa itu, media sosial tidak lagi menjadi ruang ekspresi, melainkan etalase tanpa akhir, tempat manusia dipajang, dinilai, dan akhirnya lelah dengan kehidupannya.