Pernah menyaksikan fenomena seperti ini? Saat menantu laki-laki datang, ibu mertua sibuk menyiapkan hidangan terbaik, melarangnya mencuci piring, dan memujinya setinggi langit hanya karena mau menggendong anaknya sendiri. Namun pemandangan itu bisa berubah 180 derajat ketika menantu perempuan masuk ke dapur. Tiba-tiba, setiap butir nasi yang tumpah atau cara memegang pisau menjadi bahan evaluasi.
Jangan tertawa dulu. Ini bukan adegan sinetron, melainkan realitas yang banyak terjadi. Di baliknya, ada ketimpangan psikologis dan sosiologis yang bekerja secara sistematis.
Mengapa ibu mertua bisa menjadi malaikat bagi menantu laki-laki, tetapi berubah menjadi kritikus paling tajam bagi menantu perempuan, padahal orangnya sama? Di situlah persoalan ini menarik untuk dibahas lebih jauh.
Proyeksi Investasi dan Ketakutan akan 'Kerugian'
Secara sosiologis, perlakuan berbeda ini berakar pada cara masyarakat kita memandang gender dalam struktur ekonomi keluarga. Dalam banyak budaya, anak laki-laki sering dianggap sebagai "aset investasi" masa tua. Ketika seorang ibu membesarkan anak laki-lakinya dengan peluh keringat, ada harapan bawah sadar bahwa anak ini akan menjadi pelindung dan penopang hidupnya kelak.
Saat menantu laki-laki (suami dari anak perempuan) datang, ibu mertua cenderung merasa "berutang budi". Dalam logika patriarki kuno yang dilestarikan terus menerus, anak perempuan sering dianggap sebagai tanggung jawab atau "beban" yang harus segera dilepaskan agar ada yang menafkahi lahir dan batin. Maka, ketika ada pria yang mau mengambil alih tanggung jawab itu, ibu mertua menyambutnya dengan karpet merah. Ia dianggap pahlawan yang meringankan beban orang tua.
Namun, logika ini berbalik saat anak laki-laki menikah. Menantu perempuan tidak dilihat sebagai penolong, melainkan sebagai "pendatang" yang ikut menikmati hasil investasi sang ibu (si anak laki-laki). Muncul ketakutan bawah sadar: "Apakah perempuan ini akan menghabiskan uang anakku?" atau "Apakah dia akan menjauhkan asetku dari jangkauanku?" Standar tinggi yang diterapkan kepada menantu perempuan sebenarnya adalah mekanisme pertahanan untuk memastikan "aset" mereka tidak jatuh ke tangan yang salah.
Internalized Misogyny: Perempuan sebagai Polisi bagi Perempuan Lain
Secara psikologis, ini sering kali berkaitan dengan internalized misogyny atau kebencian pada sesama perempuan yang mendarah daging. Ini ternyata sebuah perasaan yang nyata adanya, dan ternyata, banyak pakar yang menilai ini suatu halk yang alami. Ibu mertua, yang mungkin dulunya juga korban dari sistem mertua yang keras, sering kali tidak sadar meneruskan siklus tersebut.
Mengutip perspektif psikolog seperti Halimah, ada unsur intrasexual competition (kompetisi antar sesama gender). Ibu mertua merasa memiliki "cetak biru" tentang bagaimana cara melayani laki-laki yang benar di rumah itu. Ketika menantu perempuan hadir dengan cara yang berbeda, ibu mertua merasakannya sebagai ancaman terhadap otoritas dan eksistensinya selama puluhan tahun.
Anehnya, kompetisi ini tidak terjadi pada menantu laki-laki. Kenapa? Karena ibu mertua tidak merasa harus berkompetisi dalam hal maskulinitas. Menantu laki-laki berada di "lapangan" yang berbeda. Sementara menantu perempuan berada di lapangan yang sama—domestik—sehingga setiap gerakannya dianggap sebagai upaya kudeta terhadap takhta sang ibu di dapur dan hati anaknya.
Teori Kelekatan: Sindrom 'Ibu yang Tergantikan'
Dari sisi Attachment Theory, ibu yang memiliki kelekatan tidak aman (insecure attachment) dengan anak laki-lakinya cenderung melihat menantu perempuan sebagai rival emosional. Anak laki-laki sering diposisikan sebagai "suami psikologis" bagi ibunya—sosok yang memberikan validasi dan perlindungan emosional.
Ketika menantu perempuan datang dan mendapatkan perhatian utama sang anak, ibu mertua mengalami kecemasan akan perpisahan (separation anxiety). Kritik tajam terhadap menantu perempuan sebenarnya adalah manifestasi dari rasa sakit karena merasa "tergantikan". Sebaliknya, menantu laki-laki tidak menggantikan posisi ibu di hati anak perempuannya dengan cara yang mengancam; ia justru melengkapi peran proteksi yang tidak bisa diberikan oleh sang ibu.
Memutus Rantai di Meja Makan
Ketimpangan ini bukan sesuatu yang "alami" dan harus diterima, melainkan konstruksi sosial yang merusak kesehatan mental keluarga. Memahami bahwa kritikan mertua mungkin lahir dari rasa insecure atau trauma masa lalu memang membantu kita untuk berempati, namun bukan berarti kita harus tunduk pada standar ganda tersebut.
Poin krusialnya berada pada sang suami. Suami harus berhenti menjadi penonton dalam "laga" antara ibu dan istrinya. Ia harus mampu melakukan differentiation of self—menjadi individu mandiri yang bisa menghormati ibunya tanpa harus mengorbankan martabat istrinya sebagai rekan sejajar.
Pernikahan harusnya menjadi momen perluasan keluarga, bukan ajang audisi kelayakan yang merendahkan satu pihak. Karena pada akhirnya, keharmonisan sebuah rumah tangga tidak diukur dari seberapa patuh menantu perempuan pada aturan lama, tapi dari seberapa besar ruang penghargaan yang diberikan untuk setiap individu di dalamnya—tanpa memandang gender.
Baca Juga
-
Bedah Lirik Kuharap Duka Ini Selamanya dari Raisa: Kadang Kita Tidak Perlu 'Sembuh' dari Duka
-
Menulis demi Cinta atau Cuan: Saat Kata-kata Kehilangan Magisnya
-
Fenomena "Buku Jelek": Mengapa Kita Terobsesi Jadi Polisi Literasi?
-
Saat Kehilangan Tak Lagi Menakutkan: Kehadiran dalam Sebuah Kepergian
-
Mesin Waktu dan Jiwa Yang Tak Kembali
Artikel Terkait
Kolom
Terkini
-
7 Varian Pempek Gurih Nagih, Pas Kamu Jadikan Takjil Buka Puasa
-
Sisi Gelap Algoritma: Monetisasi Atensi dan Eksploitasi Emosi Publik
-
Jadi Pelajar Harus Sukses: Upaya Menggali Motivasi Belajar
-
Battle of Fates Dikecam, Ramal Kasus Kematian Petugas Pemadam Kebakaran
-
4 Rekomendasi HP Android dengan Kamera Jernih Mirip iPhone, Harga Mulai Rp2 Jutaan