Kehilangan adalah satu-satunya kepastian yang paling enggan kita bicarakan. Biasanya, narasi yang kita dengar setelah kematian seseorang adalah tentang bagaimana caranya "ikhlas", "cepat bangkit", atau "melupakan agar bisa melanjutkan hidup". Kita dipaksa untuk menyembuhkan luka secepat mungkin, seolah-olah duka adalah aib yang harus segera dikubur bersama jasadnya.
Namun, Raisa hadir dengan perspektif yang menjungkirbalikkan logika itu. Lewat lagu terbarunya bertajuk "Kuharap Duka Ini Selamanya" yang dirilis pada Februari 2026 ini, Raisa membawa kita masuk ke ruang paling privat dalam hatinya. Lagu ini bukan sekadar karya seni; ini adalah monumen duka yang ia bangun setelah kehilangan ibunda tercinta untuk selama-lamanya.
Pergeseran Makna: Saat Duka Menjadi Ruang Kenangan
Mari kita bedah judulnya: "Kuharap Duka Ini Selamanya". Bagi telinga awam, judul ini mungkin terdengar masokis atau aneh. Siapa yang mau berlama-lama dalam kesedihan? Namun, jika kita menyelami liriknya, kita akan menemukan sebuah pergeseran makna yang sangat mendalam tentang cara manusia berdamai dengan kehilangan.
Kuharap duka ini selamanya
Mungkin terdengar asing di awalnya
Bukan luka yang ingin aku lupa
Kenangan tentangmu tinggal di dalamnya
Raisa melalui lagu ini seolah berbisik bahwa ada jenis duka yang tidak ingin kita singkirkan. Duka akibat kematian seseorang yang teramat dicintai adalah duka yang "berharga". Mengapa? Karena di dalam duka itulah kenangan tentang sosok tersebut bersemayam. Menghilangkan duka tersebut secara total justru terasa seperti kita sedang menghapus jejak keberadaan mereka dalam hidup kita.
Selama ini, kita sering keliru menganggap duka sebagai musuh. Padahal, Raisa mengajak kita untuk melihat duka sebagai "wadah" penyimpanan memori. Jika dukanya hilang, kita takut memori-memori kecil tentang suara, tawa, dan pelukan mereka juga akan ikut memudar.
Beriringan, Bukan Menghindari
Sebagai seseorang yang juga sering bergelut dengan rasa kehilangan, saya merasa sangat relate dengan bagian:
Kuharap duka ini selamanya
Berjalan beriringan sewajarnya
Tak perlu hindari kehadirannya
Ada keberanian besar dalam lirik ini. Raisa memilih untuk "berjalan beriringan" daripada "berlari menjauh". Saya pribadi setuju dengan sikap ini. Sering kali masyarakat menuntut kita untuk segera move on dengan cara menyingkirkan semua kenangan agar cepat sembuh. Namun, bagi sebagian orang, kesembuhan bukan berarti melupakan. Justru, membiarkan duka itu tetap ada di sudut hati adalah cara kita menghargai betapa besarnya cinta yang pernah ada.
Duka itu tidak perlu diselesaikan atau diakhiri. Ia hanya perlu diberi ruang untuk hadir, tumbuh, dan menjadi bagian dari keseharian kita tanpa harus menghancurkan fungsi kita sebagai manusia.
Harga Sebuah Kerinduan
Lirik yang paling membuat dada terasa sesak sekaligus hangat adalah ketika Raisa menyanyikan:
Dan bila sakit ini harganya
Kan kubayar dengan berlapang dada
Sampai kita bertemu nanti
Ini adalah bentuk penerimaan tingkat tinggi. Ia sadar bahwa rasa sakit ini adalah "biaya" yang harus dibayar atas cinta yang pernah ia terima. Tidak ada cinta yang besar tanpa duka yang besar saat ia pergi. Raisa memilih untuk membayar harga itu dengan lapang dada.
Saya pun berada di barisan yang sama. Saya tidak ingin "sembuh" jika sembuh artinya saya harus berhenti mengingat detail-detail kecil tentang dia yang sudah pergi. Saya rela membawa rasa perih ini di setiap langkah saya, asalkan kenangan itu tetap terjaga sampai nanti waktunya kita bertemu kembali di keabadian.
Merayakan Kesedihan yang Indah
Lagu "Kuharap Duka Ini Selamanya" adalah pengingat bagi kita semua bahwa tidak ada standar waktu dalam berduka. Jangan biarkan orang lain mendikte kapan Anda harus berhenti bersedih.
Terkadang, mencintai seseorang yang sudah tidak ada berarti memeluk dukanya dengan erat. Duka itu tidak lagi tajam seperti duri, tetapi menjadi lembut seperti selimut yang menjaga memori tetap hangat. Pada akhirnya, tulisan dan lagu yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalannya menuju hati yang lain. Lewat karya ini, Raisa berhasil memvalidasi perasaan jutaan orang yang sedang belajar berdamai dengan kekosongan.
Sebab, jika duka adalah harga dari sebuah kenangan terindah, maka biarlah ia tinggal selamanya.
Baca Juga
-
Menulis demi Cinta atau Cuan: Saat Kata-kata Kehilangan Magisnya
-
Fenomena "Buku Jelek": Mengapa Kita Terobsesi Jadi Polisi Literasi?
-
Saat Kehilangan Tak Lagi Menakutkan: Kehadiran dalam Sebuah Kepergian
-
Mesin Waktu dan Jiwa Yang Tak Kembali
-
Viralnya Broken Strings Aurelie Moeremans: Bukti Minat Baca Masih Tinggi?
Artikel Terkait
-
Cerita Kehilangan Ibu, Raisa Dapat Pelukan Hangat dari Josh Groban di Atas Panggung
-
Review Konser Josh Groban di Jakarta: Suguhan Megah 'Hidden Gems' di Momen Valentine
-
Makna Lagu Multo dari Cup of Joe: Kisah Kenangan yang Menghantui
-
Lirik Lagu Ramadhan Tiba dan Chordnya, Sambutan Bahagia untuk Idul Fitri
-
Bedah Makna Lagu Bernadya "Kita Buat Menyenangkan": Seni Memaafkan Hal Kecil
Ulasan
-
Yang Terlupakan dan Dilupakan, Upaya Melawan Sunyi dalam Sejarah Perempuan
-
Film Crime 101: Kisah Pencuri dan Penegak Hukum yang Rumit dan Mematikan
-
Review Film Kokuho: Kisah tentang Perjuangan Menjadi Maestro Onnagata
-
Film Animasi GOAT: Kisah Kambing Kecil yang Mengubah Permainan
-
Bedah Literasi dan Ketangguhan Mental dalam Novel Harga Sebuah Percaya
Terkini
-
4 Padu Padan Daily Style ala Giselle aespa, Buat OOTD Keren Seharian!
-
Makeup Waterproof Susah Hilang? Ini 4 Cleansing Oil yang Ampuh dan Lembut di Kulit
-
Satu Februari, Empat Makna: Valentine, Imlek, Pra-Paskah, dan Ramadan
-
Manga The Elusive Samurai Resmi Tamat usai 5 Tahun, Anime Lanjut Season 2
-
Dopamine Detox Paling Elit: E-Ink Reader Bikin Fokusmu Jadi Nggak Rumit