Menulis itu mudah? Oh, tunggu dulu. Bagi kita yang menggantungkan hidup dari deretan alfabet, kalimat tersebut adalah mitos besar. Menjadi penulis full-time—baik itu sebagai content writer, copywriter, menulis fiksi, skenario, dan sebagainya adalah perjalanan menguras energi yang seringkali terlihat santai dari luar, padahal "berdarah-darah" di dalam.
Untuk menghasilkan satu tulisan yang bernyawa, kita harus melakukan riset mendalam, membaca puluhan referensi, hingga memeras otak untuk merangkai kata demi kata agar mengalir menjadi paragraf yang koheren. Belum lagi tahap penyuntingan; memastikan setiap tanda baca tepat pada tempatnya dan memastikan tulisan tersebut memiliki dampak emosional yang mampu menggerakkan pembaca.
Proses ini tidak gratis. Ada biaya internet, listrik, hingga modal "kesehatan mental" berupa asupan makanan bergizi dan kopi yang layak demi menjaga mood tetap stabil. Maka, ketika seorang penulis yang sangat mencintai pekerjaannya akhirnya bisa menghasilkan uang, rasanya seperti mendapat validasi tertinggi. Uang menjadi bahan bakar yang membuat semangat menulis berkobar lebih terang.
Namun, di sinilah letak jebakannya.
Pergeseran Niat: Dari Idealisme ke Pragmatisme
Dulu, saya memulai perjalanan ini dengan hati yang penuh. Saya menulis untuk membangun audiens, menulis apa yang ingin saya baca, dan menuangkan keresahan sesuai passion. Tulisan saya saat itu punya "nyawa" karena lahir dari kejujuran. Begitu pundi-pundi rupiah mulai masuk, semangat saya berubah menjadi produktivitas yang menggebu.
Tetapi, perlahan namun pasti, terjadi pergeseran yang menakutkan.
Uang yang tadinya adalah "bonus" dari kecintaan saya terhadap menulis, berubah menjadi "tujuan utama". Saya mulai menuntut diri sendiri untuk menghasilkan lebih banyak lagi. Fokus saya bergeser: dari menulis sebagus mungkin menjadi menulis sebanyak mungkin. Kualitas tulisan mulai dikesampingkan demi mengejar kuantitas yang bisa dikonversi menjadi nominal.
Saya mulai "menghamba" pada selera pasar. Apa yang sedang ramai? Apa yang diinginkan audiens? Saya mengetik apa saja yang disukai pasar, meski sebenarnya nurani saya menolak topik tersebut. Menulis tidak lagi menggunakan hati. Saya hanya memindahkan kata dari kepala ke layar secara mekanis. Menulis bukan lagi hobi yang dibayar, melainkan kewajiban yang menyesakkan.
Saat Cinta Itu Menguap
Ketika tulisan hanya dianggap sebagai komoditas, keajaibannya akan hilang. Saya merasa seperti mesin pengetik otomatis. Tidak ada lagi kepuasan batin saat melihat tulisan selesai; yang ada hanyalah hitung-hitungan berapa klik yang didapat atau berapa honor yang akan cair.
Cinta yang dulu menjadi fondasi, kini menguap tak berbekas. Menulis terasa kering, hambar, dan melelahkan secara mental. Inilah titik nadir seorang penulis: saat kita kehilangan suara kita sendiri karena terlalu sibuk meneriakkan apa yang ingin didengar orang lain.
Kembali ke Titik Nol
Jujur saja, setelah saldo rekening mulai terisi dari hasil mengetik, kita sering kali lupa caranya "pulang" ke niat awal. Memang tidak ada yang salah dengan mengejar pasar; toh, dapur harus tetap mengepul dan perut butuh diisi. Tapi, tolong, jangan sampai kita membiarkan diri kita tenggelam sepenuhnya dalam arus itu. Kita tetap butuh ruang untuk bernapas, tempat di mana kita bisa menulis apa saja yang kita mau—bukan apa yang diinginkan algoritma.
Coba sisihkan waktu untuk bikin satu atau dua tulisan seminggu yang benar-benar lahir dari keresahan pribadimu. Lupakan soal statistik, abaikan apakah tulisan itu bakal viral atau cuma dibaca segelintir orang. Mengapa? Karena kalau setiap hari kita hanya dipaksa mengejar kuantitas demi produktivitas semu, lama-lama jiwa kita akan kering. Kita bakal sampai di titik burnout yang parah, hingga akhirnya malah jadi benci dengan karya kita sendiri.
Ingat lagi, menulis itu bukan cuma soal memindahkan teks ke layar demi gaji. Menulis adalah cara kita bicara pada dunia, cara kita meninggalkan jejak. Jangan biarkan angka-angka di saldo bank membungkam kejujuran kita dalam berkarya. Pada akhirnya, tulisan yang bakal menetap lama di ingatan orang bukan tulisan yang paling SEO-friendly, tapi tulisan yang punya "ruh" dan mampu menyentuh sisi kemanusiaan. Hal semacam itu hanya bisa lahir kalau kita menulis dengan cinta.
Jadi, kalau sekarang kamu merasa penat dan muak, berhentilah sejenak. Tutup laptopmu, ambil napas dalam-dalam, dan kembalilah saat pikiranmu sudah lebih jernih. Percayalah, tulisan yang dikerjakan dengan hati akan selalu punya caranya sendiri untuk sampai ke hati pembacanya, tanpa perlu dipaksa.
Baca Juga
-
Fenomena "Buku Jelek": Mengapa Kita Terobsesi Jadi Polisi Literasi?
-
Saat Kehilangan Tak Lagi Menakutkan: Kehadiran dalam Sebuah Kepergian
-
Mesin Waktu dan Jiwa Yang Tak Kembali
-
Viralnya Broken Strings Aurelie Moeremans: Bukti Minat Baca Masih Tinggi?
-
Fitur Repost: Ruang Curhat Terselubung atau Ladang Ghibah Gaya Baru?
Artikel Terkait
Kolom
-
Dilema Seorang Penulis: Antara Idealisme Bahasa dan Target Pasar
-
Autentisitas dan Anti-Mainstream sebagai Mata Uang di Ekonomi Platform
-
Makanan Organik: Tren Sehat dan Masalah Ketimpangan Akses
-
AI sebagai Rekan atau Ancaman? Adaptasi Skill Anak Muda di Era Otomatisasi
-
Olahraga sebagai Status Sosial: Lari, Padel, dan Komunitas Urban 2026
Terkini
-
Hidup Tanpa Identitas, Kisah Paling Menyayat di Drama The Art of Sarah
-
Wuthering Heights Debut Box Office di Masa Valentine, Raup Rp585,5 Miliar
-
Valentine Tak Cuma soal Cinta, Pedagang Bunga Ikut Panen Rezeki
-
Review Buku Kumpulan Budak Setan: Horor Klasik Ala Penulis Kontemporer
-
7 Animasi Nuansa Tiongkok yang Wajib Masuk Watchlist, Seru dan Penuh Makna!