Bimo Aria Fundrika | Yogi Bagus Prasetyo
Ilustrasi Takjil. (Dok. Istimewa)
Yogi Bagus Prasetyo

Banyak anak mudah usia 20-an sering mengeluh soal kondisi gaji bulanan yang terasa pas-pasan. Namun, pemandangan yang cukup kontras justru sering terjadi saat bulan puasa tiba. Menjelang jam lima sore, mendadak banyak dari mereka yang seolah berubah menjadi "sultan" di pasar takjil. Fenomena jajan sore ini seolah menjadi rutinitas wajib yang pantang untuk dilewatkan.

Berburu hidangan berbuka memang sudah menjadi tradisi seru khas bulan Ramadan di Indonesia. Berbagai macam makanan dan minuman manis berjejer rapi menggoda iman dan dompet sekaligus. Sayangnya, tanpa sadar kebiasaan jajan sore ini kerap menciptakan fenomena "bocor alus" dalam keuangan milenial.

Kondisi ini bukanlah sekadar tebakan belaka. Data survei Kurious dari Katadata Insight Center pada Maret 2023 membuktikan realita pengeluaran tersebut.

Survei mencatat bahwa 46,7 persen responden rutin menghabiskan Rp20 ribu hingga Rp40 ribu setiap harinya untuk membeli takjil. Angka ini menjadi kelompok pengeluaran mayoritas masyarakat saat Ramadan tiba.

Ilustrasi kegiatan sosial bagi-bagi takjil saat Ramadan. [Ist]

Tentu saja ada kelompok masyarakat yang menghabiskan dana lebih hemat, yakni 25,2 persen responden dengan pengeluaran di bawah Rp20 ribu sehari. Namun, dominasi angka di kisaran dua puluh sampai empat puluh ribu patut menjadi perhatian serius. Jika logika finansial tidak jalan, kebiasaan harian ini bisa merusak rencana keuangan dalam sebulan.

Nggak percaya? Mari kita hitung menggunakan angka yang paling minimalis, dari kelompok mayoritas tersebut. Anggaplah kamu rutin jajan hidangan berbuka sebesar Rp20.000 ribu saja setiap sore. Jika dikalikan 30 hari selama sebulan penuh, total pengeluaran mu menembus angka Rp600.000 ribu. Angka yang awalnya terlihat receh ini, nyatanya lumayan besar saat diakumulasi.

Inilah fenomena yang dalam dunia finansial, sering disebut sebagai jebakan Latte Factor. Hanya saja, kali ini wujudnya adalah versi kearifan lokal yang berbalut tradisi Ramadan. Uang Rp600.000 ribu tersebut sebenarnya bernilai sama dengan nominal biaya kebutuhan esensial bulanan. Dana tersebut bisa sangat berguna untuk hal lain yang lebih pasti.

Coba bayangkan jika dana enam ratus ribu rupiah itu dialokasikan untuk kebutuhan pokokmu. Nominal tersebut sudah bisa digunakan untuk melunasi tagihan internet bulanan atau paket data.

Bagi anak rantau, uang itu cukup meringankan beban untuk membayar biaya sewa kost. Bahkan, bisa dipakai untuk melunasi tagihan cicilan gadget bulanan.

Meski begitu, kita coba untuk objektif, tentu harus melihat sisi lain dari fenomena ini agar berimbang. Tradisi jajan hidangan berbuka tentu tidak sepenuhnya salah atau pantas dilarang. Membeli dagangan penjual di pinggir jalan berarti kita ikut menggerakkan roda ekonomi pedagang kecil. Ini adalah bentuk perputaran ekonomi yang sangat positif bagi para pelaku UMKM.

Selain itu, menikmati es buah atau sepotong gorengan hangat tentu memberikan rasa bahagia. Apalagi setelah seharian penuh menahan haus, lapar, dan lelah bekerja atau mengerjakan tugas kuliah. Hal ini bisa dianggap sebagai bentuk apresiasi diri, atau self-reward yang sangat wajar. Kita tidak perlu menjadi kelewat pelit hingga menyiksa diri sendiri.

Masalah utamanya baru muncul ketika kita terjebak dalam bias self-reward yang terlalu berlebihan. Karena merasa sudah berjuang seharian berpuasa, kita merasa berhak dan sah-sah saja untuk memborong makanan. Rasa lapar mata inilah yang seringkali sukses mematikan logika rasional kita di sore hari. Kita cenderung membeli makanan jauh melebihi porsi yang sanggup dicerna.

Saat kondisi perut kosong, otak cenderung mendesak kita mencari asupan kalori secara instan. Pandangan sering menjadi kurang jernih saat melihat hamparan es campur, kolak, dan aneka jajanan pasar. Ujung-ujungnya, banyak makanan yang tersisa karena perut sudah merasa kenyang di suapan kelima. Terjadilah pemborosan ganda, boros membuang uang dan membuang makanan mubazir.

Lalu, bagaimana solusi realistisnya agar pengeluaran tetap aman tanpa harus kehilangan keseruan Ramadan? Tentu saja bukan dengan melarang diri secara total dari kesenangan membeli hidangan berbuka. Kita hanya perlu menerapkan strategi budgeting yang lebih masuk akal, tegas, dan disiplin. Tentukan batas maksimal uang jajan harian, dan patuhi batas tersebut tanpa kompromi.

Misalnya, kamu membatasi budget jajan cukup sepuluh ribu hingga lima belas ribu rupiah saja sehari. Trik ampuhnya adalah dengan selalu membawa uang pas saat pergi ke pasar sore. Jangan membawa uang tunai berlebih atau membuka dompet digital dengan saldo besar. Cara ini bisa kamu coba dalam mencegah hasrat impulsif untuk memborong banyak jajanan.

Trik sederhana lainnya adalah dengan membiasakan diri menyiapkan air minum sendiri dari rumah. Percayalah, segelas air putih hangat jauh lebih nyaman untuk lambung saat pertama kali berbuka puasa. Setelah minum air putih, godaan untuk minum minuman manis berlebihan biasanya akan menurun tajam. Kamu pun bisa memangkas pengeluaran untuk membeli berbagai macam es.

Selain itu, kendalikan porsi saat membeli makanan ringan seperti gorengan atau kue basah. Batasi pembelian cukup dua atau tiga biji saja, bukan membeli satu kresek penuh kalap mata. Ingatlah bahwa kapasitas perut manusia setelah seharian berpuasa sebenarnya menyusut dan tidaklah terlalu besar. Sedikit makanan manis sudah sangat cukup untuk mengembalikan energi tubuhmu.

Pada akhirnya, bulan puasa seharusnya menjadi momen terbaik untuk melatih keras pengendalian diri kita. Esensi menahan diri ini tidak hanya sebatas pada menahan lapar, haus, dan emosi negatif saja. Kita juga sedang diuji untuk menahan hawa nafsu berbelanja yang tidak masuk akal. Jangan biarkan dompet keburu jebol dan gajimu menguap jauh sebelum hari raya Lebaran.

Baca Juga